Raynomiro
: https://chatgpt.com/share/69b76b3d-b014-800f-885b-0633be88d55b
Kimo: Kontrak dengan Iblis
Bab 1 — Penyihir Berambut Merah Muda
Di dunia yang dipenuhi sihir, kerajaan besar silih berganti berdiri dan runtuh.
Namun ada satu kekaisaran yang tidak pernah runtuh selama ratusan tahun.
Empire Therarus.
Kerajaan itu terkenal karena kekuatan sihirnya yang aneh dan tidak bisa dipahami oleh penyihir lain. Mereka memonopoli sumber energi sihir dunia, merampas negeri-negeri kecil, dan memaksa para penyihir untuk tunduk pada mereka.
Banyak orang mencoba melawan.
Tidak ada yang berhasil.
Tapi di sebuah desa kecil di tepi hutan, seorang penyihir muda punya rencana yang jauh lebih gila dari itu.
Namanya Kimo.
Rambutnya merah muda cerah, dikuncir dua panjang sampai ke punggung. Pakaiannya seperti penyihir pada umumnya—jubah hitam panjang—tapi entah kenapa jubah itu selalu dipenuhi coretan dan tambalan aneh.
Di tengah hutan malam itu, Kimo sedang menggambar lingkaran sihir besar di tanah.
Dia bersenandung sambil menggambar.
“Hmm… kalau yang ini salah, paling nanti meledak dikit aja… mungkin.”
Angin malam berhembus.
Lingkaran sihir itu bersinar merah.
Kimo berdiri di tengahnya sambil mengangkat tangannya.
“Baiklah! Saatnya melakukan sesuatu yang benar-benar bodoh!”
Dia menarik napas panjang lalu berteriak:
“AKU MEMANGGIL IBLIS KUNO — RAYNOMIRO!”
Cahaya merah menyala terang.
Tanah bergetar.
Dari tengah lingkaran sihir muncul bayangan hitam… yang perlahan berubah menjadi seorang anak laki-laki.
Rambutnya pirang.
Matanya merah menyala seperti bara.
Dia menatap Kimo dengan wajah datar.
“…Manusia.”
Suasana hutan langsung terasa dingin.
Anak itu berbicara dengan suara tenang tapi menyeramkan.
“Aku Raynomiro. Iblis yang telah hidup selama ratusan tahun.”
Dia menyipitkan mata.
“Kau memanggilku… hanya untuk mati?”
Kimo menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata dengan santai,
“Wow. Kamu lebih pendek dari yang aku bayangkan.”
Sunyi.
Mata Raynomiro berkedip.
“…Apa?”
Kimo berjalan mengelilinginya sambil mengamati.
“Serius. Aku kira iblis kuno minimal tingginya dua meter.”
Raynomiro memelototinya.
“Kau memanggil IBLS lalu mengomentari tinggiku?!”
Kimo mengangguk serius.
“Iya. Aku cukup kecewa.”
Iblis itu langsung mengeluarkan aura gelap.
“Baik. Aku akan memakan jiwamu sekarang.”
“Eits!”
Kimo langsung mengangkat tangan.
“Aku punya tawaran.”
Raynomiro berhenti.
Iblis biasanya tidak peduli dengan tawaran manusia.
Tapi… penyihir ini aneh.
Dia menyilangkan tangan.
“Bicara.”
Kimo tersenyum.
“Aku ingin menjatuhkan Empire Therarus.”
Hutan tiba-tiba menjadi sangat sunyi.
Raynomiro menatapnya beberapa detik… lalu tertawa kecil.
“Manusia… banyak yang sudah mencoba itu.”
“Semua gagal.”
Kimo mengangguk santai.
“Makanya aku butuh iblis.”
Raynomiro mendekat perlahan.
“Dan apa yang kau tawarkan sebagai imbalannya?”
Kimo menatap langsung ke matanya.
“Jiwaku.”
Raynomiro terdiam.
“Apa?”
Kimo tersenyum lebar.
“Kalau aku berhasil menghancurkan Therarus, kamu boleh memakan jiwaku.”
Raynomiro menatapnya tajam.
“Kau serius?”
“Serius.”
Iblis itu menyipitkan mata.
“Aku tidak membantu manusia secara gratis.”
Kimo menjentikkan jarinya.
“Kontrak. Kamu membantuku. Aku memanggilmu sebagai senjata kapanpun aku butuh.”
“Dan setelah misiku selesai… kamu boleh mengambil jiwaku.”
Raynomiro terdiam cukup lama.
Lalu bertanya pelan.
“…dan jika kau gagal?”
Kimo mengangkat bahu.
“Ya kamu makan juga jiwaku. Sama aja kan?”
Sunyi.
Lalu Raynomiro tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun…
Dia bertemu manusia yang benar-benar gila.
“Baiklah.”
Dia mengangkat tangannya.
Lingkaran sihir kembali menyala.
“Aku menerima kontrak ini.”
Cahaya merah menyelimuti mereka.
Sebuah tanda sihir muncul di tangan Kimo.
Raynomiro menatapnya.
“Mulai sekarang… aku terikat padamu.”
Kimo tersenyum puas.
“Oh iya satu lagi.”
“Apa?”
Kimo menunjuknya.
“Namamu kepanjangan.”
“…Apa maksudmu?”
Kimo berkata santai,
“Aku bakal panggil kamu Miro.”
Raynomiro langsung memelototinya.
“ITU BUKAN—”
Tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi cahaya merah.
Lalu berubah menjadi pedang hitam panjang di tangan Kimo.
Kimo melihat pedang itu dengan kagum.
“Woah… keren juga.”
Dari pedang itu terdengar suara kesal.
“KEMBALIKAN AKU KE BENTUK SEMULA!”
Kimo tertawa.
“Tenang Miro.”
“Petualangan kita baru mulai.”
Dia menatap langit malam.
“Sekarang… waktunya mencari teman.”
Bab 2 — Teman Pertama yang Tidak Sengaja
Pagi hari setelah kontrak itu dibuat, Kimo berjalan santai di jalan tanah menuju kota terdekat.
Burung-burung berkicau.
Angin pagi berhembus pelan.
Di tangan Kimo ada pedang hitam panjang — Raynomiro yang masih terikat kontrak.
Dari pedang itu terdengar suara kesal.
“Berhenti mengayunkanku seperti tongkat!”
Kimo memutar pedangnya sambil berjalan.
“Tenang aja, Miro. Kamu kan iblis kuat.”
“Aku iblis kuno! Bukan aksesoris penyihir aneh!”
Kimo berhenti berjalan lalu menatap pedangnya.
“Aku baru sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Kamu cerewet banget.”
“….”
Pedang itu langsung bergetar karena kesal.
Tidak lama kemudian mereka sampai di sebuah kota kecil bernama Lunareth.
Namun suasananya aneh.
Banyak bangunan rusak.
Penduduk terlihat takut.
Bendera hitam dengan simbol Therarus berkibar di menara kota.
Kimo menggaruk kepalanya.
“Hm… sepertinya mereka sudah sampai duluan.”
Miro berbicara dengan nada dingin.
“Tentu saja. Therarus selalu memperluas wilayahnya.”
Tiba-tiba terdengar suara teriakan.
“HEI! KALIAN BERHENTI!”
Beberapa prajurit Therarus berlari di jalan.
Di depan mereka ada seorang gadis yang sedang berlari membawa tas penuh buku.
Gadis itu hampir menabrak Kimo.
“Ah—!”
BUK!
Mereka berdua jatuh.
Buku-buku berserakan di jalan.
Kimo duduk sambil menggosok kepalanya.
“Wah… pagi yang dramatis.”
Gadis itu panik mengumpulkan buku.
“Aduh! Aduh! Ini bahaya!”
Kimo membantu mengambil buku.
Di sampulnya tertulis “Teori Sihir Dimensi Tingkat Tinggi”
Kimo mengangkat alis.
“Wow… bacaan yang berat.”
Gadis itu menatapnya.
Rambutnya panjang warna cokelat muda, matanya tajam seperti orang yang sangat pintar.
“Aku Avery. Tolong minggir dari jalan sekarang.”
Kimo tersenyum.
“Kenapa?”
Avery menunjuk ke belakang.
“Karena mereka akan menangkapku.”
Kimo menoleh.
Para prajurit Therarus sudah mendekat.
“Gadis itu mencuri dokumen kerajaan!”
Avery langsung berbisik.
“Aku tidak mencuri! Aku hanya mengambil kembali penelitian yang mereka rampas!”
Kimo menatap para prajurit.
Lalu menatap Avery.
Lalu menatap pedangnya.
“Hmm.”
Miro menggerutu dari pedang.
“Jangan bilang kau akan ikut campur.”
Kimo tersenyum lebar.
“Tentu saja.”
Dia berdiri.
Para prajurit berhenti beberapa meter di depan mereka.
“Serahkan gadis itu.”
Kimo menjawab santai,
“Maaf. Aku lagi butuh teman.”
Avery menatapnya bingung.
“…Apa?”
Kimo mengangkat pedangnya.
“Raynomiro.”
Pedang itu langsung menyala merah.
Miro menghela napas.
“…Kau bahkan belum tahu siapa gadis ini.”
Kimo menjawab santai.
“Makanya aku mau kenalan.”
Aura iblis menyebar di udara.
Para prajurit langsung mundur sedikit.
Salah satu dari mereka berteriak.
“Penyihir!”
Kimo menunjuk mereka dengan pedangnya.
“Baiklah teman-teman Therarus.”
Dia tersenyum lebar.
“Aku sedang dalam misi menghancurkan kekaisaran kalian.”
Sunyi.
Avery menatapnya seperti melihat orang gila.
“…Kamu serius ngomong itu di depan prajurit mereka?”
Kimo mengangguk.
“Iya.”
Lalu dia berbisik ke pedangnya.
“Miro.”
“Apa lagi.”
“Menurutmu mereka kuat?”
Miro menjawab datar.
“Mereka hanya manusia biasa.”
Kimo tersenyum puas.
“Bagus.”
Lalu dia menatap prajurit itu.
“Kalau begitu kita latihan dulu.”
Pertarungan dimulai.
Dalam beberapa detik saja, para prajurit sudah terlempar ke tanah.
Miro berubah menjadi pedang yang memancarkan energi iblis, memotong sihir mereka dengan mudah.
Ketika semuanya selesai…
Avery masih berdiri terpaku.
Kimo menyarungkan pedangnya.
“Nah. Sekarang kamu bebas.”
Avery masih menatapnya.
“Kamu… benar-benar melawan Therarus.”
“Iya.”
“Kamu sadar mereka bisa menghancurkan kota ini kalau tahu?”
Kimo berpikir sebentar.
“Hmm… ya.”
Avery memijat pelipisnya.
“Kamu gila.”
Kimo tersenyum bangga.
“Terima kasih.”
Avery menghela napas panjang.
“Kenapa kamu melawan mereka?”
Kimo menatap langit sebentar.
Lalu berkata dengan suara lebih serius.
“Aku ingin mengakhiri kekuasaan mereka.”
“Dan aku tidak bisa melakukannya sendirian.”
Dia menatap Avery.
“Jadi… bagaimana?”
Avery mengerutkan kening.
“Bagaimana apa?”
Kimo menunjuk tas penuh buku miliknya.
“Kamu pintar.”
“Dan kamu jelas membenci Therarus.”
Avery menatapnya lama.
“Jadi?”
Kimo tersenyum.
“Mau ikut petualangan paling gila di dunia?”
Sunyi beberapa detik.
Lalu Avery tertawa kecil.
“…Baiklah.”
Dia mengulurkan tangan.
“Tapi aku punya syarat.”
Kimo mengangkat alis.
“Apa?”
Avery berkata tegas.
“Kalau kita benar-benar mau menghancurkan Therarus…”
“…kita harus memahami sihir aneh mereka dulu.”
Miro bergumam dari pedang.
“Menarik.”
Kimo menjabat tangan Avery.
“Berarti kamu anggota pertama party kita.”
Avery menghela napas.
“Aku bahkan belum tahu namamu.”
Kimo tersenyum lebar.
“Aku Kimo.”
Avery menunjuk pedangnya.
“Dan itu?”
Pedang itu langsung menjawab dengan suara kesal.
“Aku Raynomiro.”
Kimo langsung menyela.
“Tapi panggil dia Miro aja.”
“…BERHENTI MEMENDEKKAN NAMAKU!”
Avery menatap mereka berdua.
Lalu berkata pelan.
Bab 2 — Teman Pertama yang Tidak Sengaja
Pagi hari setelah kontrak itu dibuat, Kimo berjalan santai di jalan tanah menuju kota terdekat.
Burung-burung berkicau.
Angin pagi berhembus pelan.
Di tangan Kimo ada pedang hitam panjang — Raynomiro yang masih terikat kontrak.
Dari pedang itu terdengar suara kesal.
“Berhenti mengayunkanku seperti tongkat!”
Kimo memutar pedangnya sambil berjalan.
“Tenang aja, Miro. Kamu kan iblis kuat.”
“Aku iblis kuno! Bukan aksesoris penyihir aneh!”
Kimo berhenti berjalan lalu menatap pedangnya.
“Aku baru sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Kamu cerewet banget.”
“….”
Pedang itu langsung bergetar karena kesal.
Tidak lama kemudian mereka sampai di sebuah kota kecil bernama Lunareth.
Namun suasananya aneh.
Banyak bangunan rusak.
Penduduk terlihat takut.
Bendera hitam dengan simbol Therarus berkibar di menara kota.
Kimo menggaruk kepalanya.
“Hm… sepertinya mereka sudah sampai duluan.”
Miro berbicara dengan nada dingin.
“Tentu saja. Therarus selalu memperluas wilayahnya.”
Tiba-tiba terdengar suara teriakan.
“HEI! KALIAN BERHENTI!”
Beberapa prajurit Therarus berlari di jalan.
Di depan mereka ada seorang gadis yang sedang berlari membawa tas penuh buku.
Gadis itu hampir menabrak Kimo.
“Ah—!”
BUK!
Mereka berdua jatuh.
Buku-buku berserakan di jalan.
Kimo duduk sambil menggosok kepalanya.
“Wah… pagi yang dramatis.”
Gadis itu panik mengumpulkan buku.
“Aduh! Aduh! Ini bahaya!”
Kimo membantu mengambil buku.
Di sampulnya tertulis “Teori Sihir Dimensi Tingkat Tinggi”
Kimo mengangkat alis.
“Wow… bacaan yang berat.”
Gadis itu menatapnya.
Rambutnya panjang warna cokelat muda, matanya tajam seperti orang yang sangat pintar.
“Aku Avery. Tolong minggir dari jalan sekarang.”
Kimo tersenyum.
“Kenapa?”
Avery menunjuk ke belakang.
“Karena mereka akan menangkapku.”
Kimo menoleh.
Para prajurit Therarus sudah mendekat.
“Gadis itu mencuri dokumen kerajaan!”
Avery langsung berbisik.
“Aku tidak mencuri! Aku hanya mengambil kembali penelitian yang mereka rampas!”
Kimo menatap para prajurit.
Lalu menatap Avery.
Lalu menatap pedangnya.
“Hmm.”
Miro menggerutu dari pedang.
“Jangan bilang kau akan ikut campur.”
Kimo tersenyum lebar.
“Tentu saja.”
Dia berdiri.
Para prajurit berhenti beberapa meter di depan mereka.
“Serahkan gadis itu.”
Kimo menjawab santai,
“Maaf. Aku lagi butuh teman.”
Avery menatapnya bingung.
“…Apa?”
Kimo mengangkat pedangnya.
“Raynomiro.”
Pedang itu langsung menyala merah.
Miro menghela napas.
“…Kau bahkan belum tahu siapa gadis ini.”
Kimo menjawab santai.
“Makanya aku mau kenalan.”
Aura iblis menyebar di udara.
Para prajurit langsung mundur sedikit.
Salah satu dari mereka berteriak.
“Penyihir!”
Kimo menunjuk mereka dengan pedangnya.
“Baiklah teman-teman Therarus.”
Dia tersenyum lebar.
“Aku sedang dalam misi menghancurkan kekaisaran kalian.”
Sunyi.
Avery menatapnya seperti melihat orang gila.
“…Kamu serius ngomong itu di depan prajurit mereka?”
Kimo mengangguk.
“Iya.”
Lalu dia berbisik ke pedangnya.
“Miro.”
“Apa lagi.”
“Menurutmu mereka kuat?”
Miro menjawab datar.
“Mereka hanya manusia biasa.”
Kimo tersenyum puas.
“Bagus.”
Lalu dia menatap prajurit itu.
“Kalau begitu kita latihan dulu.”
Pertarungan dimulai.
Dalam beberapa detik saja, para prajurit sudah terlempar ke tanah.
Miro berubah menjadi pedang yang memancarkan energi iblis, memotong sihir mereka dengan mudah.
Ketika semuanya selesai…
Avery masih berdiri terpaku.
Kimo menyarungkan pedangnya.
“Nah. Sekarang kamu bebas.”
Avery masih menatapnya.
“Kamu… benar-benar melawan Therarus.”
“Iya.”
“Kamu sadar mereka bisa menghancurkan kota ini kalau tahu?”
Kimo berpikir sebentar.
“Hmm… ya.”
Avery memijat pelipisnya.
“Kamu gila.”
Kimo tersenyum bangga.
“Terima kasih.”
Avery menghela napas panjang.
“Kenapa kamu melawan mereka?”
Kimo menatap langit sebentar.
Lalu berkata dengan suara lebih serius.
“Aku ingin mengakhiri kekuasaan mereka.”
“Dan aku tidak bisa melakukannya sendirian.”
Dia menatap Avery.
“Jadi… bagaimana?”
Avery mengerutkan kening.
“Bagaimana apa?”
Kimo menunjuk tas penuh buku miliknya.
“Kamu pintar.”
“Dan kamu jelas membenci Therarus.”
Avery menatapnya lama.
“Jadi?”
Kimo tersenyum.
“Mau ikut petualangan paling gila di dunia?”
Sunyi beberapa detik.
Lalu Avery tertawa kecil.
“…Baiklah.”
Dia mengulurkan tangan.
“Tapi aku punya syarat.”
Kimo mengangkat alis.
“Apa?”
Avery berkata tegas.
“Kalau kita benar-benar mau menghancurkan Therarus…”
“…kita harus memahami sihir aneh mereka dulu.”
Miro bergumam dari pedang.
“Menarik.”
Kimo menjabat tangan Avery.
“Berarti kamu anggota pertama party kita.”
Avery menghela napas.
“Aku bahkan belum tahu namamu.”
Kimo tersenyum lebar.
“Aku Kimo.”
Avery menunjuk pedangnya.
“Dan itu?”
Pedang itu langsung menjawab dengan suara kesal.
“Aku Raynomiro.”
Kimo langsung menyela.
“Tapi panggil dia Miro aja.”
“…BERHENTI MEMENDEKKAN NAMAKU!”
Avery menatap mereka berdua.
Lalu berkata pelan.
Bab 2 — Teman Pertama yang Tidak Sengaja
Pagi hari setelah kontrak itu dibuat, Kimo berjalan santai di jalan tanah menuju kota terdekat.
Burung-burung berkicau.
Angin pagi berhembus pelan.
Di tangan Kimo ada pedang hitam panjang — Raynomiro yang masih terikat kontrak.
Dari pedang itu terdengar suara kesal.
“Berhenti mengayunkanku seperti tongkat!”
Kimo memutar pedangnya sambil berjalan.
“Tenang aja, Miro. Kamu kan iblis kuat.”
“Aku iblis kuno! Bukan aksesoris penyihir aneh!”
Kimo berhenti berjalan lalu menatap pedangnya.
“Aku baru sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Kamu cerewet banget.”
“….”
Pedang itu langsung bergetar karena kesal.
Tidak lama kemudian mereka sampai di sebuah kota kecil bernama Lunareth.
Namun suasananya aneh.
Banyak bangunan rusak.
Penduduk terlihat takut.
Bendera hitam dengan simbol Therarus berkibar di menara kota.
Kimo menggaruk kepalanya.
“Hm… sepertinya mereka sudah sampai duluan.”
Miro berbicara dengan nada dingin.
“Tentu saja. Therarus selalu memperluas wilayahnya.”
Tiba-tiba terdengar suara teriakan.
“HEI! KALIAN BERHENTI!”
Beberapa prajurit Therarus berlari di jalan.
Di depan mereka ada seorang gadis yang sedang berlari membawa tas penuh buku.
Gadis itu hampir menabrak Kimo.
“Ah—!”
BUK!
Mereka berdua jatuh.
Buku-buku berserakan di jalan.
Kimo duduk sambil menggosok kepalanya.
“Wah… pagi yang dramatis.”
Gadis itu panik mengumpulkan buku.
“Aduh! Aduh! Ini bahaya!”
Kimo membantu mengambil buku.
Di sampulnya tertulis “Teori Sihir Dimensi Tingkat Tinggi”
Kimo mengangkat alis.
“Wow… bacaan yang berat.”
Gadis itu menatapnya.
Rambutnya panjang warna cokelat muda, matanya tajam seperti orang yang sangat pintar.
“Aku Avery. Tolong minggir dari jalan sekarang.”
Kimo tersenyum.
“Kenapa?”
Avery menunjuk ke belakang.
“Karena mereka akan menangkapku.”
Kimo menoleh.
Para prajurit Therarus sudah mendekat.
“Gadis itu mencuri dokumen kerajaan!”
Avery langsung berbisik.
“Aku tidak mencuri! Aku hanya mengambil kembali penelitian yang mereka rampas!”
Kimo menatap para prajurit.
Lalu menatap Avery.
Lalu menatap pedangnya.
“Hmm.”
Miro menggerutu dari pedang.
“Jangan bilang kau akan ikut campur.”
Kimo tersenyum lebar.
“Tentu saja.”
Dia berdiri.
Para prajurit berhenti beberapa meter di depan mereka.
“Serahkan gadis itu.”
Kimo menjawab santai,
“Maaf. Aku lagi butuh teman.”
Avery menatapnya bingung.
“…Apa?”
Kimo mengangkat pedangnya.
“Raynomiro.”
Pedang itu langsung menyala merah.
Miro menghela napas.
“…Kau bahkan belum tahu siapa gadis ini.”
Kimo menjawab santai.
“Makanya aku mau kenalan.”
Aura iblis menyebar di udara.
Para prajurit langsung mundur sedikit.
Salah satu dari mereka berteriak.
“Penyihir!”
Kimo menunjuk mereka dengan pedangnya.
“Baiklah teman-teman Therarus.”
Dia tersenyum lebar.
“Aku sedang dalam misi menghancurkan kekaisaran kalian.”
Sunyi.
Avery menatapnya seperti melihat orang gila.
“…Kamu serius ngomong itu di depan prajurit mereka?”
Kimo mengangguk.
“Iya.”
Lalu dia berbisik ke pedangnya.
“Miro.”
“Apa lagi.”
“Menurutmu mereka kuat?”
Miro menjawab datar.
“Mereka hanya manusia biasa.”
Kimo tersenyum puas.
“Bagus.”
Lalu dia menatap prajurit itu.
“Kalau begitu kita latihan dulu.”
Pertarungan dimulai.
Dalam beberapa detik saja, para prajurit sudah terlempar ke tanah.
Miro berubah menjadi pedang yang memancarkan energi iblis, memotong sihir mereka dengan mudah.
Ketika semuanya selesai…
Avery masih berdiri terpaku.
Kimo menyarungkan pedangnya.
“Nah. Sekarang kamu bebas.”
Avery masih menatapnya.
“Kamu… benar-benar melawan Therarus.”
“Iya.”
“Kamu sadar mereka bisa menghancurkan kota ini kalau tahu?”
Kimo berpikir sebentar.
“Hmm… ya.”
Avery memijat pelipisnya.
“Kamu gila.”
Kimo tersenyum bangga.
“Terima kasih.”
Avery menghela napas panjang.
“Kenapa kamu melawan mereka?”
Kimo menatap langit sebentar.
Lalu berkata dengan suara lebih serius.
“Aku ingin mengakhiri kekuasaan mereka.”
“Dan aku tidak bisa melakukannya sendirian.”
Dia menatap Avery.
“Jadi… bagaimana?”
Avery mengerutkan kening.
“Bagaimana apa?”
Kimo menunjuk tas penuh buku miliknya.
“Kamu pintar.”
“Dan kamu jelas membenci Therarus.”
Avery menatapnya lama.
“Jadi?”
Kimo tersenyum.
“Mau ikut petualangan paling gila di dunia?”
Sunyi beberapa detik.
Lalu Avery tertawa kecil.
“…Baiklah.”
Dia mengulurkan tangan.
“Tapi aku punya syarat.”
Kimo mengangkat alis.
“Apa?”
Avery berkata tegas.
“Kalau kita benar-benar mau menghancurkan Therarus…”
“…kita harus memahami sihir aneh mereka dulu.”
Miro bergumam dari pedang.
“Menarik.”
Kimo menjabat tangan Avery.
“Berarti kamu anggota pertama party kita.”
Avery menghela napas.
“Aku bahkan belum tahu namamu.”
Kimo tersenyum lebar.
“Aku Kimo.”
Avery menunjuk pedangnya.
“Dan itu?”
Pedang itu langsung menjawab dengan suara kesal.
“Aku Raynomiro.”
Kimo langsung menyela.
“Tapi panggil dia Miro aja.”
“…BERHENTI MEMENDEKKAN NAMAKU!”
Avery menatap mereka berdua.
Lalu berkata pelan.
“…aku sudah menyesal ikut.”
Kimo tertawa.
“Tenang.”
Dia menatap ke arah bendera Therarus di menara kota.
“Ini baru permulaan.”
Bab 3 — Rencana Gila di Penginapan Tua
Matahari sudah mulai turun ketika Kimo dan Avery akhirnya sampai di sebuah penginapan kecil di pinggir kota Lunareth.
Bangunannya agak miring, papan kayunya berderit setiap kali angin lewat.
Di papan depan tertulis:
“Penginapan Burung Tertidur.”
Kimo membaca papan itu beberapa detik.
Lalu menoleh ke Avery.
“…Menurutmu burungnya tertidur karena tempat ini membosankan?”
Avery memutar matanya.
“Atau karena makanannya beracun.”
Kimo mengangguk serius.
“Masuk akal.”
Dari pedang di punggung Kimo terdengar suara kesal.
“Bisakah kalian berhenti mengomentari bangunan manusia selama lima detik?”
Kimo menjawab santai sambil membuka pintu penginapan.
“Tenang, Miro. Kita hanya analisis kualitas tempat istirahat.”
“Kalian terdengar seperti dua anak kecil.”
“Kata iblis yang kelihatan umur dua belas tahun.”
“….”
Avery menutup mulutnya agar tidak tertawa.
Mereka duduk di meja kayu dekat jendela.
Seorang pemilik penginapan tua datang membawa tiga gelas minuman hangat.
Dia melihat pedang hitam di punggung Kimo dengan sedikit gugup.
“Kalian… bukan dari sini ya?”
Kimo menjawab ceria.
“Benar sekali!”
“Dan kalian tidak bekerja untuk Therarus… kan?”
Kimo dan Avery saling menatap.
Avery langsung menjawab cepat.
“Tentu tidak.”
Kimo mengangguk.
“Iya. Justru sebaliknya.”
Avery langsung menyikutnya.
“Kimo.”
“Apa?”
“Jangan terlalu jujur.”
“Ah.”
Pemilik penginapan menghela napas lega lalu pergi.
Avery langsung menatap Kimo dengan serius.
“Kamu sadar kan kita harus berhati-hati?”
Kimo menyeruput minumannya santai.
“Iya.”
“Kalau Therarus tahu kita melawan mereka—”
“Mereka bakal marah.”
“Bukan cuma marah! Mereka bisa menghancurkan kota ini!”
Kimo mengangguk lagi.
“Iya, itu juga.”
Avery menatapnya tidak percaya.
“…kamu ini selalu santai atau memang tidak punya rasa takut?”
Kimo berpikir sebentar.
“Hm.”
“Sejujurnya?”
“Iya.”
“Aku takut kalau kehabisan makanan.”
Avery menutup wajahnya dengan tangan.
“Aku bergabung dengan orang yang salah.”
Pedang di punggung Kimo tiba-tiba berbicara.
“Kalian lupa satu hal.”
Avery menoleh.
“Apa?”
Miro menjawab dengan suara tenang.
“Therarus tidak bisa dikalahkan hanya dengan kekuatan.”
Kimo menyandarkan dagu di tangan.
“Karena sihir mereka aneh?”
“Benar.”
Avery langsung membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa dokumen.
“Ini alasan aku mencuri dokumen mereka.”
Dia menyebarkan kertas-kertas itu di meja.
Kimo membungkuk melihatnya.
Di kertas itu ada simbol sihir yang sangat rumit.
“Hmm… ini kelihatan seperti lingkaran sihir… tapi bentuknya aneh.”
Avery menunjuk salah satu simbol.
“Ini bukan sihir normal.”
“Kekuatan Therarus berasal dari sesuatu yang mereka sebut ‘Sumber Resonansi’.”
Kimo mengangkat alis.
“Nama yang keren.”
Avery melanjutkan dengan serius.
“Sumber itu memungkinkan mereka memperkuat sihir berkali-kali lipat.”
Miro berbicara dari pedang.
“Energi sihir yang dipaksa beresonansi…”
Avery menoleh ke pedang.
“Kamu mengerti ini?”
“Tentu.”
Kimo menunjuk pedangnya.
“Oh iya, aku lupa kamu iblis kuno.”
Miro menggerutu.
“Akhirnya kau ingat juga.”
Avery bertanya penasaran.
“Kalau kamu tahu tentang ini… berarti kamu tahu cara menghentikannya?”
Sunyi beberapa detik.
Miro menjawab pelan.
“…Mungkin.”
Kimo langsung tersenyum lebar.
“Bagus!”
Avery mengerutkan kening.
“Kamu tidak mau bertanya lebih dulu?”
Kimo meneguk minumannya.
“Enggak.”
“Kenapa?!”
“Karena pasti jawabannya ribet.”
Avery menghela napas panjang.
“Ya ampun…”
Beberapa menit kemudian.
Kimo berdiri dari kursinya tiba-tiba.
“Aku punya ide!”
Avery langsung curiga.
“…Aku tidak suka nada suaramu.”
Kimo mengambil salah satu kertas.
“Kalau sihir mereka pakai resonansi…”
“Berarti kita bisa mengganggu resonansinya.”
Avery mengangguk.
“Itu teori yang masuk akal.”
Kimo tersenyum makin lebar.
“Berarti kita bisa membuat resonansi tandingan!”
Avery menatapnya.
“…dengan apa?”
Kimo mengeluarkan beberapa botol kecil dari tasnya.
Avery langsung panik.
“Kimo.”
“Apa?”
“Apa itu?”
“Eksperimen sihir kecil.”
Avery langsung berdiri.
“Kimo.”
“Iya?”
“Kenapa botolnya berasap?”
Miro dari pedang berkata datar.
“Karena itu akan meledak.”
Avery menatap pedang.
“KAMU KENAPA BARU BILANG SEKARANG?!”
Kimo sudah menggambar lingkaran sihir kecil di meja.
“Tenang saja!”
“Tidak tenang sama sekali!”
Avery mundur beberapa langkah.
“Kimo, ini penginapan!”
“Justru itu tempat yang bagus buat eksperimen.”
“BAGAIMANA LOGIKANYA?!”
Kimo menaruh botol di tengah lingkaran sihir.
Miro langsung berkata tegas.
“Kimo.”
“Apa?”
“Ini ide yang sangat buruk.”
Kimo menatap pedangnya.
“Kamu iblis. Kamu harusnya suka kekacauan.”
“Aku suka kekacauan yang terkontrol.”
Avery menunjuk pintu.
“Aku keluar dulu.”
Kimo langsung memulai sihirnya.
Lingkaran sihir mulai bersinar.
Botol itu bergetar.
Miro berkata pelan.
“…3 detik lagi.”
Avery membelalak.
“APA?!”
Kimo tersenyum bangga.
“Lihat? Berhasil!”
BOOOOM!!
Ledakan kecil mengguncang ruangan.
Asap memenuhi meja.
Ketika asap hilang…
Meja itu hangus.
Rambut Kimo sedikit gosong.
Avery menatapnya dengan wajah kosong.
“….”
Kimo tersenyum canggung.
“…setidaknya tidak meledakkan penginapan?”
Miro berkata datar.
“Aku menyesal membuat kontrak denganmu.”
Avery duduk kembali sambil menghela napas panjang.
“…baiklah.”
“Kita butuh anggota party lain.”
Kimo mengangguk.
“Setuju.”
Avery bertanya,
“Ada kandidat?”
Kimo tersenyum misterius.
“Ya.”
“Siapa?”
Kimo menunjuk ke luar jendela.
Di jalan terlihat seseorang bertarung melawan beberapa prajurit Therarus sendirian.
Pedangnya bergerak sangat cepat.
Avery membelalak.
“…dia kuat.”
Kimo menyeringai.
“Dan kelihatannya dia juga benci Therarus.”
Miro bergumam.
“Menarik.”
Kimo berdiri.
“Ayo kita rekrut dia.”
Avery menghela napas.
“Aku sudah tahu hidupku bakal kacau sejak bertemu kamu.”
Kimo tertawa.
“Selamat datang di tim.”
Bab 4 — Pendekar yang Tidak Mau Direkrut
Di luar penginapan, suara benturan logam terdengar keras.
CLANG!
Seorang pemuda bertarung melawan tiga prajurit Therarus sekaligus.
Gerakannya cepat dan tajam.
Pedangnya berkilat di bawah cahaya matahari sore.
Salah satu prajurit mencoba menyerangnya dari belakang—
SWISH!
Dalam satu gerakan cepat, pedang pemuda itu sudah berada di leher prajurit tersebut.
“Jangan bergerak.”
Suaranya tenang tapi tegas.
Dua prajurit lainnya langsung mundur.
Avery menatap dari jendela penginapan dengan kagum.
“…Dia sendirian melawan mereka.”
Kimo menyilangkan tangan sambil mengamati.
“Hmm.”
Miro dari pedang berkata datar.
“Teknik pedangnya bagus.”
Kimo mengangguk.
“Iya.”
Lalu dia berkata santai,
“Dia cocok jadi teman kita.”
Avery menatapnya.
“Kamu bahkan belum kenalan.”
“Makanya kita kenalan sekarang.”
Avery mencoba menahannya.
“Kimo, tunggu—”
Tapi Kimo sudah berjalan keluar.
Di jalan, dua prajurit Therarus yang tersisa langsung kabur.
Pemuda itu menghela napas panjang lalu menyarungkan pedangnya.
Dia berambut hitam panjang yang diikat ke belakang.
Tatapannya tajam.
Begitu dia menoleh…
Dia melihat Kimo yang sedang melambaikan tangan ceria.
“Halo!”
Pemuda itu berkedip.
“…Apa?”
Kimo mendekat dengan santai.
“Aku lihat kamu barusan melawan Therarus.”
Pemuda itu menjawab singkat.
“Dan?”
Kimo menunjuknya dengan antusias.
“Kamu kuat.”
“….”
“Kamu benci Therarus.”
“….”
“Kamu cocok jadi anggota partyku!”
Sunyi.
Avery yang baru keluar dari penginapan langsung menutup wajahnya.
“Dia mulai lagi…”
Pemuda itu menatap Kimo beberapa detik.
“…Party?”
Kimo mengangguk penuh semangat.
“Iya!”
“Kita bakal menjatuhkan Empire Therarus!”
Sunyi lagi.
Angin lewat di jalan kosong.
Pemuda itu menatapnya seperti melihat orang yang baru saja jatuh dari langit.
“…Kamu serius?”
Kimo mengangguk.
“Serius.”
Pemuda itu menatap Avery.
“…Dia selalu seperti ini?”
Avery menjawab lelah.
“Baru satu hari aku kenal dia, tapi ya.”
Miro dari pedang berbicara.
“Dia memang seperti itu.”
Pemuda itu menoleh ke pedang.
“…Pedangmu barusan bicara?”
Kimo menjawab santai.
“Oh iya. Kenalin.”
Dia mengangkat pedangnya sedikit.
“Ini Miro.”
Pedang itu langsung protes.
“Raynomiro.”
Kimo mengabaikannya.
“Dia iblis kontrakku.”
Sunyi.
Pemuda itu menatap Kimo lama sekali.
“…Aku mulai merasa kalian bukan orang normal.”
Kimo tersenyum bangga.
“Terima kasih.”
Avery menghela napas.
“Itu bukan pujian.”
Pemuda itu akhirnya menyilangkan tangan.
“Namaku Miren.”
Kimo langsung menjabat tangannya tanpa diminta.
“Halo Miren!”
Avery menambahkan dengan sopan.
“Aku Avery.”
Miren mengangguk kecil.
“Kalian benar-benar berniat melawan Therarus?”
Kimo menjawab tanpa ragu.
“Iya.”
Miren menatapnya tajam.
“Kalian tahu berapa banyak pasukan mereka?”
“Banyak.”
“Berapa banyak penyihir kuat yang bekerja untuk mereka?”
“Banyak juga.”
“Berapa banyak kerajaan yang sudah jatuh ke tangan mereka?”
“Hmm… sangat banyak?”
Miren menghela napas.
“…dan kamu tetap mau melawan mereka?”
Kimo mengangguk santai.
“Iya.”
“Kenapa?”
Kimo diam beberapa detik.
Biasanya dia selalu bercanda.
Tapi kali ini suaranya lebih tenang.
“Karena tidak ada orang lain yang melakukannya.”
Sunyi.
Avery juga terdiam.
Miren menatap Kimo lebih lama sekarang.
Seolah mencoba menilai apakah dia bercanda atau tidak.
Akhirnya dia bertanya lagi.
“Dan kalau kamu gagal?”
Kimo menjawab santai lagi.
“Ya… aku mati.”
Avery langsung menatapnya tajam.
“Kimo.”
“Apa?”
“Kamu tidak perlu bilang itu dengan santai.”
Miren menyipitkan mata.
“Kamu benar-benar aneh.”
Miro dari pedang bergumam.
“Itu fakta.”
Tiba-tiba suara langkah kaki berat terdengar dari ujung jalan.
Avery langsung tegang.
“Kita punya masalah.”
Dari jalan utama muncul sekitar sepuluh prajurit Therarus.
Dan di belakang mereka…
Seorang penyihir berjubah hitam dengan simbol Therarus di dadanya.
Miren berbisik pelan.
“…Mage Therarus.”
Kimo terlihat malah tertarik.
“Wah.”
“Jarang lihat yang asli.”
Avery hampir menjerit.
“INI BUKAN TURIS!”
Penyihir Therarus itu mengangkat tangannya.
Lingkaran sihir aneh muncul di udara.
Simbolnya berbeda dari sihir biasa.
Avery langsung panik.
“Itu dia!”
“Sihir resonansi Therarus!”
Miren mencabut pedangnya lagi.
“Kita mundur.”
Kimo malah maju satu langkah.
Miro langsung berkata.
“Kimo.”
“Apa?”
“Ini bukan prajurit biasa.”
Kimo tersenyum kecil.
“Bagus.”
Miren menatapnya.
“Kamu mau melawan mereka?”
Kimo menjawab santai.
“Ya.”
Miren mengerutkan kening.
“Kamu bahkan belum tahu kekuatan mereka.”
Kimo mengangkat pedangnya.
“Makanya kita tes.”
Miro menghela napas.
“…aku benar-benar terikat pada orang gila.”
Kimo tersenyum lebar.
“Raynomiro.”
Pedangnya langsung menyala merah.
Aura iblis menyebar.
Para prajurit Therarus langsung berhenti bergerak.
Penyihir Therarus itu menyipitkan mata.
“…Energi iblis?”
Miren menatap Kimo dengan kaget.
“Kamu benar-benar punya kontrak iblis…”
Avery berbisik pelan.
“…Aku baru sadar betapa berbahayanya dia.”
Kimo memutar pedangnya santai.
“Baiklah.”
Dia menatap musuh di depan mereka.
“Waktunya pertarungan pertama party kita.”
Miren langsung berkata.
“Aku belum setuju bergabung!”
Kimo menjawab sambil tersenyum.
“Ya tapi kamu sudah ikut bertarung.”
Miren terdiam.
“…itu bukan cara kerja perekrutan!”
Dan di jalan kecil kota Lunareth itu…
Pertarungan pertama yang akan menyatukan Kimo, Avery, dan Miren pun dimulai.
Bab 5 — Sihir yang Tidak Biasa
Angin sore berhembus di jalan kota Lunareth.
Di satu sisi jalan berdiri Kimo, Avery, dan Miren.
Di sisi lain berdiri pasukan Therarus dan seorang Mage Therarus berjubah hitam.
Suasana menjadi sangat tegang.
Mage Therarus itu mengangkat tangannya perlahan.
Lingkaran sihir aneh muncul di udara.
Simbol-simbolnya berputar seperti roda.
Avery langsung membelalak.
“Itu dia… sihir resonansi mereka.”
Kimo menatapnya dengan penasaran.
“Kenapa bentuk lingkarannya kayak mesin?”
Avery menjawab cepat.
“Karena itu bukan sekadar lingkaran sihir!”
“Therarus menciptakan sistem yang membuat energi sihir saling memperkuat!”
Miren mencabut pedangnya.
“Penjelasan bisa nanti.”
“Sekarang kita harus hidup dulu.”
Kimo mengangguk santai.
“Setuju.”
Miro dari pedang berbicara dengan suara tenang.
“Kimo.”
“Apa?”
“Serangan pertama mereka akan kuat.”
“Seberapa kuat?”
“Cukup untuk menghancurkan setengah jalan ini.”
Kimo menatap jalan di sekeliling mereka.
“Aduh.”
Avery langsung panik.
“KENAPA KAMU MASIH SANTAI?!”
Mage Therarus itu akhirnya berbicara.
Suaranya dingin dan penuh wibawa.
“Menyerah sekarang.”
“Dan kami mungkin akan mengampuni kalian.”
Kimo mengangkat tangan.
“Boleh tanya?”
Mage itu menyipitkan mata.
“…Apa?”
Kimo menunjuk simbol Therarus di jubahnya.
“Itu desainnya siapa?”
Sunyi.
Avery memegang kepalanya.
“Kimo…”
Mage itu terlihat sedikit kesal.
“Itu simbol kekaisaran kami.”
Kimo mengangguk.
“Oh.”
Lalu berkata serius.
“Kurang keren.”
Avery langsung menutup mulutnya agar tidak tertawa.
Mage Therarus itu akhirnya kehilangan kesabaran.
“Cukup.”
Lingkaran sihir di udara mulai berputar cepat.
Energi biru berkumpul di tengahnya.
Avery berteriak.
“Kimo! Itu akan meledak!”
Miren langsung berdiri di depan mereka.
“Berlindung di belakangku!”
Kimo malah maju satu langkah.
“Hmm.”
Miro langsung berkata.
“Jangan lakukan sesuatu yang bodoh.”
Kimo tersenyum.
“Terlambat.”
Dia mengangkat pedangnya.
“Raynomiro.”
Pedang itu langsung berubah bentuk.
Cahaya merah gelap menyelimuti bilahnya.
Aura iblis menyebar ke udara.
Beberapa prajurit Therarus langsung mundur ketakutan.
Mage Therarus itu terlihat terkejut.
“…Energi iblis?”
Kimo menunjuk lingkaran sihir di udara.
“Miro.”
“Apa.”
“Menurutmu kita bisa potong itu?”
Miro menjawab datar.
“Itu ide yang sangat buruk.”
“Kenapa?”
“Karena jika gagal—”
Kimo sudah melompat ke depan.
“BAIKLAH KITA COBA!”
Miro menghela napas.
“…aku benar-benar memilih kontrak yang salah.”
Mage Therarus menggerakkan tangannya.
“Serang.”
Ledakan energi biru melesat ke arah Kimo.
Avery menjerit.
“KIMOOO!”
Tapi sebelum serangan itu mengenai—
SWOOSH!
Kimo mengayunkan pedangnya.
Cahaya merah dan biru bertabrakan di udara.
BOOOM!!
Ledakan besar mengguncang jalan.
Debu beterbangan.
Beberapa jendela rumah pecah.
Ketika debu mulai menghilang…
Avery membuka matanya perlahan.
“…Apa yang terjadi?”
Di tengah jalan…
Kimo masih berdiri.
Pedangnya mengarah ke depan.
Energi biru itu terbelah dua dan menghantam bangunan kosong di belakangnya.
Miren membelalak.
“…Dia memotongnya?”
Mage Therarus terlihat benar-benar kaget.
“Itu tidak mungkin.”
Miro berkata dengan suara bangga tapi kesal.
“Pedang iblis tidak mengikuti aturan sihir manusia.”
Kimo menoleh ke Miren.
“Lumayan kan?”
Miren masih menatapnya.
“…Kamu gila.”
Kimo tersenyum.
“Aku sudah sering dengar itu hari ini.”
Tiba-tiba Avery berteriak.
“AWAS!”
Lingkaran sihir lain muncul di belakang mereka.
Dua serangan energi langsung ditembakkan.
Miren langsung bergerak cepat.
CLANG!
Pedangnya menangkis salah satu serangan.
“Kimo!”
“Apa?”
“Berhenti ngobrol dan bantu!”
Kimo memutar pedangnya lagi.
“Siap!”
Dia berlari ke arah pasukan Therarus.
Beberapa prajurit mencoba menyerangnya sekaligus.
Tapi setiap ayunan pedangnya memancarkan energi merah gelap yang membuat mereka mundur.
Miro berkata pelan.
“Kimo.”
“Apa?”
“Penyihir itu masih menyimpan kekuatan.”
Kimo menoleh ke Mage Therarus.
Pria itu sedang menggambar lingkaran sihir jauh lebih besar.
Avery langsung panik.
“Itu buruk!”
“Seberapa buruk?”
“Kalau itu aktif, kita semua bisa mati!”
Miren menatap Kimo.
“…Kamu punya rencana?”
Kimo berpikir beberapa detik.
Lalu menunjuk mage itu.
“Aku ganggu dia.”
Dia menunjuk Miren.
“Kamu jaga Avery.”
Lalu menunjuk Avery.
“Kamu pikirkan cara menghentikan sihirnya.”
Avery terdiam.
“…Itu bukan rencana.”
Kimo tersenyum lebar.
“Itu kerja tim.”
Miro bergumam.
“…aku menyerah.”
Kimo langsung berlari ke arah mage Therarus.
Mage itu menyadari dan tersenyum dingin.
“Bodoh.”
Lingkaran sihir raksasa di atasnya mulai menyala.
Energinya jauh lebih besar dari sebelumnya.
Kimo berhenti beberapa meter di depannya.
“Miro.”
“Apa lagi.”
“Menurutmu kita bisa menang?”
Miro menjawab pelan.
“…mungkin.”
Kimo tersenyum.
“Cukup.”
Dia mengangkat pedangnya tinggi.
“Ayo kita coba.”
Di belakangnya, Avery tiba-tiba berkata dengan suara pelan.
“…Aku mengerti.”
Miren menoleh.
“Apa?”
Avery menunjuk lingkaran sihir Therarus.
“Sistem resonansinya.”
“Kalau kita ganggu satu titik…”
“…seluruh sihirnya akan runtuh.”
Miren bertanya cepat.
“Bisa kamu lakukan?”
Avery menatap Kimo yang sedang menghadapi mage itu sendirian.
“…Aku harus bisa.”
Pertarungan mereka melawan Therarus baru saja dimulai.
Dan untuk pertama kalinya…
Kimo tidak sendirian lagi.
Bab 6 — Cara Menghancurkan Sihir Therarus
Lingkaran sihir raksasa milik mage Therarus berputar di langit kota Lunareth.
Energi biru bergetar seperti badai yang siap meledak.
Di bawahnya berdiri Kimo, memegang pedang iblisnya.
Beberapa meter di belakangnya, Avery masih mempelajari simbol-simbol sihir itu dengan cepat.
Miren berdiri di sampingnya sambil menahan serangan para prajurit.
CLANG!
Pedangnya menangkis tombak prajurit Therarus.
“Cepat, Avery!”
Avery masih menatap lingkaran sihir di udara.
“Sebentar! Aku hampir mengerti polanya!”
Di depan mereka, mage Therarus tersenyum dingin.
“Kalian terlambat.”
Energi sihir di atasnya semakin besar.
Kimo menatapnya dengan santai.
“Boleh tanya sesuatu?”
Mage itu mengerutkan kening.
“…Apa lagi?”
Kimo menunjuk lingkaran sihir itu.
“Kamu latihan berapa lama buat gambar itu?”
Sunyi.
Miren hampir terpeleset saat bertarung.
“Kimo, ini bukan waktu ngobrol!”
Kimo menoleh sedikit.
“Aku cuma penasaran.”
Mage Therarus itu akhirnya berkata dengan kesal,
“Ini teknik sihir tingkat tinggi milik Therarus!”
Kimo mengangguk kagum.
“Wah.”
Lalu berkata serius.
“Sayang sekali.”
Mage itu menyipitkan mata.
“Sayang?”
Kimo mengangkat pedangnya.
“Karena sebentar lagi rusak.”
Di belakangnya, Avery tiba-tiba berteriak.
“KIMO!”
Kimo menoleh.
“Apa?”
Avery menunjuk lingkaran sihir di udara.
“Ada satu titik yang menstabilkan semua resonansi!”
Kimo berkedip.
“…Artinya?”
Avery berteriak,
“HANCURKAN TITIK ITU!”
Kimo menatap lingkaran sihir besar itu.
“Yang mana?”
Avery langsung frustrasi.
“Yang bersinar paling terang di tengah!”
Kimo mengangguk.
“Oke.”
Lalu dia berbisik ke pedangnya.
“Miro.”
“Apa.”
“Kalau kita lompat tinggi banget…”
“Tidak.”
“Belum aku jelaskan.”
“Tidak juga.”
“Kamu belum dengar rencananya.”
“Kalau melibatkan kata ‘lompat’, jawabanku tetap tidak.”
Kimo tersenyum.
“Ya sudah.”
Lalu dia mulai berlari.
Miro langsung berkata kesal.
“…Aku benci ketika kamu diam-diam melakukan rencana.”
Mage Therarus mengangkat tangannya.
“Bodoh.”
Serangan energi biru ditembakkan langsung ke arah Kimo.
BOOM!
Ledakan mengguncang jalan.
Debu beterbangan.
Mage itu tersenyum puas.
“Manusia bod—”
Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari atas.
“HALOO!”
Mage Therarus mendongak.
Kimo sedang melompat dari atap rumah.
Miro langsung menggerutu.
“…tentu saja.”
Kimo mengangkat pedangnya tinggi.
“Raynomiro!”
Pedang itu menyala merah terang.
Energi iblis memanjang seperti api hitam.
Mage Therarus membelalak.
“Tidak mungkin—!”
Kimo tertawa.
“MAAF YA!”
SWOOSH!
Pedangnya menghantam titik terang di tengah lingkaran sihir.
CRACK!
Lingkaran sihir itu retak seperti kaca.
Avery langsung berteriak,
“BERHASIL!”
Mage Therarus panik.
“Tidak! Sistem resonansi—”
BOOOM!!
Lingkaran sihir raksasa itu meledak menjadi cahaya yang hilang di udara.
Energi sihir di seluruh area langsung menghilang.
Beberapa detik kemudian…
Kimo jatuh ke tanah dengan bunyi THUD.
Dia mengerang sedikit.
“Oke… mungkin aku terlalu tinggi lompatnya.”
Miro berkata datar.
“Aku sudah bilang.”
Kimo duduk sambil menggosok kepalanya.
“Eh, tapi berhasil kan?”
Miro terdiam sebentar.
“…ya.”
Kimo tersenyum.
“Berarti rencanaku bagus.”
Miro menjawab pelan.
“…secara mengejutkan, iya.”
Avery datang berlari.
Matanya berbinar.
“Kita benar-benar menghentikan sihir Therarus!”
Miren juga mendekat.
Dia melihat mage Therarus yang sekarang tidak bisa menggunakan sihirnya lagi.
“…Aku tidak percaya.”
Dia menatap Kimo.
“Kamu benar-benar menghancurkan teknik mereka.”
Kimo berdiri dan meregangkan tubuh.
“Kerja tim.”
Avery menunjuk dirinya.
“Aku yang menemukan titik lemahnya.”
Miren menunjuk dirinya.
“Aku yang menahan pasukan mereka.”
Kimo menunjuk pedangnya.
“Dan Miro yang keren.”
Miro terdiam.
Beberapa detik kemudian dia berkata,
“…akhirnya kamu mengakui.”
Kimo tersenyum.
“Tapi yang paling penting—”
Dia menunjuk dirinya sendiri.
“Adalah aku yang lompat.”
Avery langsung memukul bahunya.
“KAMU MEMANG TIDAK BISA BERHENTI SOMBONG?!”
Miren akhirnya menyarungkan pedangnya.
Dia menatap Kimo beberapa detik.
“…Baiklah.”
Kimo menoleh.
“Hm?”
Miren berkata dengan serius.
“Aku akan ikut dengan kalian.”
Kimo tersenyum lebar.
“Yess!”
Avery mengangguk.
“Selamat datang di tim.”
Miren menghela napas.
“Tapi aku punya satu syarat.”
Kimo menyilangkan tangan.
“Apa?”
Miren menunjuknya.
“Kamu harus berhenti membuat rencana tanpa memberitahu orang lain.”
Kimo berpikir sebentar.
“…Sulit.”
Avery langsung berkata,
“Kalau tidak aku keluar dari tim.”
Kimo langsung panik.
“Oke oke!”
Miro berkata pelan.
“…aku mendukung aturan itu.”
Kimo menatap pedangnya.
“Kamu juga?!”
Miro menjawab santai.
“Aku tidak ingin dipakai lompat lagi tanpa persiapan.”
Avery tertawa kecil.
Miren juga tersenyum tipis untuk pertama kalinya.
Kimo melihat mereka semua lalu berkata,
“…eh.”
“Apa?”
“Kalian mulai kompak ya.”
Miro menjawab datar.
“Sayangnya, iya.”
Di kejauhan…
Bendera Therarus di menara kota masih berkibar.
Kimo menatapnya.
“Ini baru permulaan.”
Miren berdiri di sampingnya.
“Therarus jauh lebih besar dari ini.”
Avery mengangguk.
“Kita butuh lebih banyak informasi.”
Miro berkata pelan.
“Dan lebih banyak sekutu.”
Kimo tersenyum.
“Berarti…”
Dia menoleh ke teman-temannya.
“Petualangan kita baru mulai.”
Bab 7 — Kota Pencuri dan Orang yang Terlalu Percaya Diri
Beberapa hari setelah kejadian di Lunareth…
Tim kecil itu akhirnya meninggalkan kota.
Jalan yang mereka lalui sekarang adalah jalan panjang menuju negeri perdagangan Velkaria, sebuah kota yang terkenal dengan pasar besar… dan juga pencurinya.
Avery berjalan sambil membaca salah satu dokumen Therarus.
Miren berjalan di depan sebagai penjaga.
Kimo berjalan paling santai di tengah sambil memutar pedangnya di bahu.
Miro langsung protes.
“Berhenti memutarku seperti alat sulap.”
Kimo tersenyum.
“Latihan koordinasi tangan.”
“Itu bukan latihan.”
“Itu gaya.”
Avery menghela napas.
“Suatu hari kamu akan menjatuhkan pedang itu.”
Kimo mengangguk santai.
“Pernah.”
Miren menoleh.
“…Serius?”
Kimo menjawab dengan bangga.
“Waktu itu jatuhnya ke sungai.”
Miro langsung berkata kesal.
“Aku tenggelam selama dua jam.”
Avery menatap Kimo.
“Kamu bahkan tidak panik?”
Kimo berpikir sebentar.
“Aku panik sedikit.”
“Sedikit?”
“Iya. Aku pikir Miro berubah jadi ikan.”
Miren menutup wajahnya.
“…Aku ikut tim yang salah.”
Miro bergumam.
“Aku setuju.”
Beberapa jam kemudian mereka akhirnya sampai di Velkaria.
Kota itu sangat ramai.
Pedagang berteriak menawarkan barang.
Orang-orang berlalu lalang di jalan.
Avery terlihat kagum.
“Tempat ini besar sekali…”
Miren langsung berkata serius.
“Dan penuh orang yang tidak bisa dipercaya.”
Kimo malah terlihat senang.
“Wah banyak makanan!”
Miro berkata datar.
“Tentu saja itu yang pertama kamu pikirkan.”
Mereka berjalan melewati pasar.
Avery berhenti di sebuah toko buku.
“Aku mau lihat ini sebentar.”
Miren mengangguk.
“Aku jaga di luar.”
Kimo berjalan santai di tengah keramaian.
Lalu tiba-tiba—
SRET.
Kimo berhenti.
Dia menatap tasnya.
“…Eh.”
Miro langsung bertanya.
“Apa.”
Kimo berkata santai.
“Dompetku hilang.”
Sunyi.
Avery langsung menoleh.
“APA?!”
Miren mengerutkan kening.
“Kapan?”
Kimo mengangkat bahu.
“Barusan.”
Avery panik.
“Kenapa kamu bilangnya santai sekali?!”
Kimo menunjuk ke kerumunan.
“Karena aku tahu siapa yang ambil.”
Miren menyipitkan mata.
“…Serius?”
Kimo menunjuk seseorang yang sedang berjalan santai menjauh dari mereka.
Seorang pemuda dengan rambut cokelat acak-acakan.
Dia terlihat sangat santai.
Terlalu santai.
Dan… di tangannya ada dompet Kimo.
Miren langsung berkata,
“Pencuri.”
Avery langsung kesal.
“Kita kejar!”
Kimo mengangkat tangan.
“Tenang.”
Miro berkata curiga.
“…Kenapa kamu tidak marah?”
Kimo tersenyum.
“Karena aku penasaran.”
Avery menatapnya.
“Penasaran apa?”
Kimo menunjuk pemuda itu.
“Dia berhasil mencuri dari penyihir.”
Miren menyilangkan tangan.
“Artinya dia cepat.”
Miro menambahkan,
“Dan cukup berani.”
Kimo tersenyum lebar.
“Artinya dia cocok jadi anggota party.”
Avery langsung memekik.
“BAGAIMANA LOGIKANYA?!”
Sementara itu…
Pemuda itu berhenti di gang kecil.
Dia membuka dompet Kimo.
“…Eh?”
Dia melihat isi dompet itu.
Cuma ada satu koin.
Pemuda itu menghela napas.
“Serius?”
Tiba-tiba suara ceria terdengar dari belakangnya.
“Halo!”
Pemuda itu langsung meloncat kaget.
“WOAH!”
Dia berbalik.
Kimo sudah berdiri di belakangnya.
Avery dan Miren juga datang.
Pemuda itu menatap mereka.
“…Kapan kalian—”
Kimo menunjuk dompetnya.
“Itu punyaku.”
Pemuda itu mengangkat bahu santai.
“Kalau begitu ambil saja.”
Dia melempar dompet itu ke Kimo.
Kimo menangkapnya.
“Terima kasih.”
Pemuda itu menyilangkan tangan.
“Isinya juga tidak menarik.”
Avery langsung kesal.
“HEY!”
Kimo malah tertawa.
“Memang.”
Miren menatap pemuda itu tajam.
“Kamu cepat.”
Pemuda itu tersenyum kecil.
“Profesional.”
Kimo menatapnya dengan mata berbinar.
“Aku suka percaya diri.”
Pemuda itu mengangkat alis.
“…Kenapa kamu terlihat senang?”
Kimo menunjuk dirinya.
“Aku Kimo.”
Dia menunjuk Avery.
“Avery.”
Dia menunjuk Miren.
“Miren.”
Lalu menunjuk pedangnya.
“Miro.”
Pedang itu langsung berkata,
“Raynomiro.”
Pemuda itu berkedip.
“…Pedangnya bicara?”
Kimo mengangguk.
“Dia iblis.”
Pemuda itu terdiam beberapa detik.
“…Oke.”
“Ini hari yang aneh.”
Kimo menunjuknya.
“Sekarang giliran kamu.”
Pemuda itu menyeringai sedikit.
“Namaku Chero.”
Avery langsung berkata,
“Kembalikan semua yang kamu curi dari orang lain.”
Chero mengangkat bahu.
“Tidak bisa.”
Miren bertanya dingin.
“Kenapa?”
Chero tersenyum santai.
“Karena itu pekerjaanku.”
Kimo tiba-tiba berkata,
“Bagus.”
Semua orang menoleh.
“…Apa?”
Kimo menunjuk Chero.
“Kamu cocok jadi anggota party kita.”
Sunyi.
Avery memegang kepalanya lagi.
“…Tolong jangan mulai lagi.”
Chero menatap Kimo dengan penasaran.
“Party?”
Kimo mengangguk.
“Kita mau menghancurkan Empire Therarus.”
Chero terdiam beberapa detik.
Lalu tertawa.
“…Kalian gila.”
Miro berkata pelan.
“Kami sudah sering dengar itu.”
Chero menatap Kimo lagi.
“Dan kamu serius?”
Kimo mengangguk.
“Serius.”
Chero tersenyum lebar.
“…Menarik.”
Dan tanpa mereka sadari…
Di atap bangunan Velkaria…
Seorang mata-mata Therarus sedang memperhatikan mereka.
“Jadi ini kelompok yang mengacaukan Lunareth…”
Dia menghilang dalam bayangan.
“Empire harus tahu tentang ini.”
Bab 8 — Iblis yang Disangka Bocah
Gang kecil di kota Velkaria masih sunyi.
Kimo berdiri santai di depan Chero, sementara Avery dan Miren masih menatap pencuri itu dengan curiga.
Chero menyilangkan tangan.
“Jadi… kalian serius mau menghancurkan Therarus?”
Kimo mengangguk.
“Yup.”
Chero menunjuk pedang hitam di punggung Kimo.
“Dan kamu melakukannya dengan… pedang bicara itu?”
Pedang itu langsung protes.
“Aku bukan pedang bicara.”
Kimo menepuk sarung pedangnya.
“Miro, keluar sebentar.”
Beberapa detik hening.
Lalu cahaya merah gelap keluar dari pedang.
Pedang itu berubah bentuk…
dan berdiri seorang anak laki-laki berambut pirang dengan mata merah.
Dia terlihat sekitar 12 tahun.
Chero langsung mundur setengah langkah.
“…Oke.”
“…Ini makin aneh.”
Avery menunjuk Miro.
“Ini Raynomiro. Iblis kontrak Kimo.”
Chero menatap Miro dari atas sampai bawah.
“…Ini?”
Miro menatapnya dingin.
“Ada masalah?”
Chero menyipitkan mata.
“Kamu kelihatan seperti bocah.”
Sunyi.
Miro berkedip.
“…Apa?”
Chero menunjuk wajahnya.
“Kamu pendek.”
Avery langsung menutup mulutnya.
Miren memalingkan wajah.
Kimo langsung tertawa keras.
“HAHAHAHAHA!”
Miro menoleh pelan ke Kimo.
“Kenapa kamu tertawa.”
Kimo masih tertawa.
“Karena ini pertama kalinya ada yang ngomong langsung!”
Miro berkata dingin.
“Aku iblis berusia ratusan tahun.”
Chero mengangkat bahu.
“Ya tapi tetap kelihatan bocah.”
Miro terdiam.
Lalu berkata pelan,
“…Aku akan mengingat wajahmu.”
Kimo menepuk bahu Miro.
“Tenang, bocah.”
Semua langsung hening.
Miro perlahan menoleh.
“Kimo.”
“Apa?”
“Ulangi lagi.”
Kimo menyeringai.
“Bocah.”
Avery langsung menahan tawa.
Miren bahkan sampai batuk.
Chero tertawa keras.
“Hahaha! Oke, aku suka tim ini!”
Miro menutup matanya sebentar.
“…Aku akan memakan jiwa kalian semua suatu hari nanti.”
Kimo langsung menjawab santai.
“Jiwaku memang jatah kamu kok.”
Sunyi sebentar.
Chero mengangkat alis.
“…Tunggu.”
“APA?”
Avery langsung berkata cepat,
“Cerita panjang.”
Tiba-tiba langkah kaki terdengar dari ujung gang.
Seorang pria tua lewat sambil membawa keranjang buah.
Dia melihat mereka.
Lalu menatap Miro.
“Eh, bocah.”
Miro langsung menegang.
Pria itu berkata ramah,
“Jangan main di gang gelap, nanti dimarahi orang tuamu.”
Sunyi total.
Kimo langsung membalik badan karena hampir tertawa.
Avery menggigit bibirnya.
Chero memegang perutnya.
“Hahaha—”
Miren bahkan sampai menepuk dinding.
Miro menatap pria itu dengan wajah datar.
“…Aku tidak punya orang tua.”
Pria itu mengangguk.
“Oh, yatim ya.”
Kimo langsung jatuh duduk karena tertawa.
“HAHAHAHAHA!”
Miro perlahan menoleh ke Kimo.
“…Aku sangat menyesal tidak memakan jiwamu lebih awal.”
Kimo masih tertawa.
“Maaf— maaf— tapi ini lucu banget!”
Chero menyeka air mata.
“Ini iblis paling sial yang pernah aku lihat.”
Avery berkata sambil tertawa kecil,
“Setidaknya sekarang kamu bisa jalan tanpa orang takut.”
Miro menghela napas panjang.
“…Ini penghinaan terbesar dalam 300 tahun hidupku.”
Kimo menepuk bahunya.
“Tenang, bocah.”
Miro menatapnya tajam.
“…Aku benar-benar akan memakan jiwamu nanti.”
Kimo tersenyum santai.
“Aku tunggu.”
Chero akhirnya menyilangkan tangan lagi.
“Baiklah.”
Dia menatap seluruh tim.
“Penyihir aneh, iblis bocah, pendekar serius, dan ilmuwan sihir.”
Dia tersenyum lebar.
“…Aku ikut.”
Avery berkedip.
“Kamu serius?”
Chero mengangguk.
“Kalau kalian benar-benar mau menjatuhkan Therarus…”
“…itu petualangan yang terlalu menarik untuk dilewatkan.”
Kimo langsung bersorak.
“YES!”
Miren menghela napas.
“Tim kita makin aneh.”
Miro bergumam.
“Setuju.”
Kimo menepuk bahu Chero.
“Selamat datang di tim!”
Chero tersenyum.
“Semoga aku tidak menyesal.”
Miro menjawab pelan,
“…Aku sudah.”
Bab 9 — Penyergapan di Velkaria
Sore mulai turun di kota Velkaria.
Lampu-lampu mulai dinyalakan di sepanjang jalan pasar.
Kimo dan timnya berjalan santai di tengah keramaian.
Chero berjalan paling depan sambil bersiul kecil.
Miren masih terlihat waspada.
Avery masih membaca dokumen Therarus sambil berjalan.
Dan Miro berjalan dengan tangan di saku, wajahnya datar seperti biasanya.
Seorang pedagang lewat sambil membawa keranjang apel.
Dia berhenti sebentar lalu menatap Miro.
“Eh bocah.”
Miro menoleh pelan.
“…Apa.”
Pedagang itu menunjuk apel di keranjang.
“Mau satu?”
Sunyi.
Kimo langsung berbisik ke Avery.
“Ini bakal lucu.”
Avery menutup mulutnya.
Pedagang itu tersenyum ramah.
“Gratis.”
Miro menatap apel itu.
Lalu berkata datar.
“…Aku iblis.”
Pedagang itu mengangguk.
“Iya iya.”
“Ambil saja.”
Kimo langsung tertawa keras.
“HAHAHAHA!”
Chero sampai membungkuk karena tertawa.
Miren menggeleng.
“…Kasihan.”
Miro mengambil apel itu dengan wajah kesal.
“Aku akan mengingat penghinaan ini.”
Kimo menepuk bahunya.
“Tenang, bocah.”
Miro menggigit apel itu dengan kesal.
Tiba-tiba Chero berhenti berjalan.
Ekspresinya berubah serius.
“Hmm.”
Miren langsung sadar.
“Ada apa?”
Chero menoleh sedikit ke belakang.
“Sejak tiga gang tadi…”
“…kita diikuti.”
Avery langsung tegang.
“Therarus?”
Chero mengangguk kecil.
“Bau masalah.”
Kimo terlihat malah tertarik.
“Berapa orang?”
Chero berpikir sebentar.
“…delapan.”
Miren langsung memegang gagang pedangnya.
“Banyak.”
Miro berkata pelan.
“Dan ada satu penyihir.”
Kimo tersenyum kecil.
“Wah.”
Chero menoleh.
“Kamu kelihatan senang.”
Kimo menjawab santai.
“Karena kita bisa latihan.”
Avery memegang kepalanya.
“Ini bukan latihan!”
Beberapa detik kemudian…
Orang-orang berjubah hitam muncul dari berbagai arah.
Mereka mengepung gang itu.
Simbol Therarus terlihat jelas di pakaian mereka.
Seorang mage melangkah ke depan.
“Kelompok Kimo.”
Miren menyipitkan mata.
“Mereka sudah tahu nama kita.”
Avery berbisik.
“Itu buruk.”
Mage Therarus itu berkata dingin.
“Kalian akan ikut kami.”
Kimo mengangkat tangan.
“Boleh tanya?”
Mage itu kesal.
“Apa.”
Kimo menunjuk mereka semua.
“Kalian latihan mengepung bareng atau ini improvisasi?”
Sunyi.
Chero berbisik ke Avery.
“…Aku mulai suka dia.”
Mage Therarus itu akhirnya menghela napas.
“Serang.”
Para prajurit langsung maju.
Miren langsung bergerak duluan.
CLANG!
Pedangnya menangkis dua serangan sekaligus.
“Belakang!”
Chero sudah menghilang.
Tiba-tiba—
THUD!
Satu prajurit jatuh karena ditendang dari belakang.
Chero muncul di belakangnya sambil tersenyum.
“Maaf ya.”
“Refleks kerja.”
Avery mengangkat tangannya.
Lingkaran sihir kecil muncul.
TALI CAHAYA melilit dua prajurit sekaligus.
“Terikat!”
Kimo berdiri di tengah gang.
“Miro.”
Miro masih makan apel.
“…Apa.”
Kimo menunjuk musuh.
“Kerja.”
Miro menghela napas.
“Apelnya belum habis.”
“Kerja dulu.”
Miro menggigit apel itu sekali lagi.
Lalu tubuhnya berubah menjadi cahaya merah.
Pedang hitam muncul di tangan Kimo.
Kimo memutar pedang itu.
“Baiklah.”
Dia tersenyum.
“Party time.”
Mage Therarus mengangkat lingkaran sihir besar.
Energi biru mulai terbentuk.
Avery langsung panik.
“Itu sihir resonansi lagi!”
Miren berteriak.
“Kimo! Hentikan dia!”
Kimo langsung berlari ke arah mage itu.
Beberapa prajurit mencoba menghalangi.
SWOOSH!
Pedang Miro menebas udara.
Energi merah menyapu mereka mundur.
Miro berbicara dari pedang.
“Kimo.”
“Apa.”
“Ada sesuatu yang aneh.”
“Selain mereka menyerang kita?”
“Sihir mage itu… berbeda.”
Kimo menyipitkan mata.
“Berarti lebih seru.”
Sementara itu di belakang…
Chero sedang memeriksa kantong seorang prajurit yang jatuh.
Avery menatapnya tidak percaya.
“KAMU NGAPAIN?!”
Chero menjawab santai.
“Mencari informasi.”
Avery melihat dia mengambil koin.
“Itu uang.”
“Informasi ekonomi.”
Miren hampir tertawa.
Di depan…
Mage Therarus akhirnya menyelesaikan sihirnya.
Lingkaran besar muncul di udara.
Energi biru menyala terang.
“Sekarang kalian selesai.”
Kimo berhenti beberapa meter di depannya.
“Miro.”
“…Apa.”
“Menurutmu kita bisa potong itu lagi?”
Miro menjawab datar.
“…Sayangnya, iya.”
Kimo tersenyum lebar.
“Bagus.”
Dia mengangkat pedangnya.
“RAYNOMIRO!”
Energi iblis menyala merah.
Pertarungan besar di gang Velkaria pun meledak.
Sementara itu…
Di atap bangunan jauh dari sana…
Seseorang sedang melihat pertarungan itu.
Seorang pemuda berambut putih panjang.
Dia memegang tongkat sihir.
Matanya tenang.
Dia bergumam pelan.
“…Menarik.”
“Jadi ini kelompok yang membuat Therarus gelisah.”
Dia tersenyum kecil.
“Mungkin… aku harus ikut.”
Namanya adalah…
Killou.
Bab 10 — Penyihir Putih di Atas Atap
Pertarungan di gang Velkaria akhirnya selesai.
Beberapa prajurit Therarus sudah tergeletak di tanah.
Mage Therarus yang tadi menyerang mereka juga sudah kalah setelah lingkaran sihirnya dihancurkan oleh Kimo dan Avery.
Debu masih beterbangan di udara.
Kimo berdiri di tengah gang sambil memutar pedang hitamnya.
“Lumayan juga latihan sore ini.”
Pedang itu langsung berubah menjadi cahaya merah.
Miro muncul kembali dalam wujud manusianya.
Dia masih menggigit apel yang tadi belum habis.
“…Latihan katanya.”
Kimo menoleh.
“Menang kan?”
Miro menelan apel itu.
“…Secara teknis.”
Avery sedang memeriksa dokumen yang ditemukan Chero.
“Ini benar-benar dokumen Therarus…”
Chero menyeringai.
“Aku bilang kan aku mencari informasi.”
Miren menyilangkan tangan.
“Kamu mencuri dari orang yang sedang kita kalahkan.”
Chero mengangkat bahu.
“Efisiensi.”
Kimo tiba-tiba berkata santai.
“Eh.”
Avery menoleh.
“Apa?”
Kimo menunjuk ke atas.
“Kita ditonton.”
Semua langsung melihat ke arah atap bangunan.
Di sana berdiri seseorang.
Seorang pemuda berambut putih panjang, mengenakan jubah sederhana.
Dia memegang tongkat sihir.
Dan terlihat sangat santai.
Seolah-olah sedang menonton pertunjukan.
Chero langsung berbisik.
“…Sudah lama dia di situ.”
Miren menyipitkan mata.
“Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?”
Chero menjawab pelan.
“Aku pikir dia cuma penonton.”
Kimo melambaikan tangan.
“Halo!”
Pemuda itu melompat turun dari atap dengan ringan.
Dia mendarat tepat di depan mereka.
“Pertarungan yang menarik.”
Suaranya tenang.
Avery langsung waspada.
“Kamu siapa?”
Pemuda itu tersenyum kecil.
“Namaku Killou.”
Dia berhenti sebentar.
“Biasanya orang memanggilku Lou.”
Kimo langsung tersenyum.
“Nama yang bagus.”
Miren masih curiga.
“Kamu dari Therarus?”
Lou menggeleng pelan.
“Tidak.”
Chero menyilangkan tangan.
“Kalau bukan musuh, kenapa mengintip kami?”
Lou menjawab santai.
“Karena kalian menarik.”
Sunyi beberapa detik.
Miro menatap Lou dengan tajam.
“…Energi sihirmu aneh.”
Lou menoleh ke Miro.
Lalu tersenyum kecil.
“Kamu juga.”
Chero berbisik ke Avery.
“Bocah iblis ketemu penyihir aneh.”
Avery menjawab pelan.
“Ini makin kacau.”
Miro langsung menoleh.
“…Aku bisa mendengar kalian.”
Kimo tertawa kecil.
Lou menatap Kimo sekarang.
“Jadi kamu yang bernama Kimo.”
Kimo menunjuk dirinya.
“Benar sekali.”
Lou bertanya santai.
“Kamu benar-benar berniat menjatuhkan Empire Therarus?”
Kimo menjawab tanpa ragu.
“Iya.”
Lou menatapnya beberapa detik.
Seolah mencoba membaca pikirannya.
Akhirnya dia berkata pelan.
“…Menarik.”
Miren bertanya langsung.
“Kamu mau apa dari kami?”
Lou menjawab sederhana.
“Aku ingin ikut.”
Sunyi.
Chero langsung tertawa kecil.
“Hah?”
Avery berkedip.
“Kamu bahkan baru bertemu kami.”
Lou mengangkat bahu.
“Benar.”
“Tapi petualangan ini terlihat menyenangkan.”
Kimo langsung menunjuknya.
“Dia cocok.”
Miren menghela napas.
“Kamu menerima semua orang.”
Kimo mengangguk.
“Biasanya berhasil.”
Miro bergumam.
“…Aku bukti bahwa itu ide buruk.”
Lou melihat Miro sekarang.
“…Jadi kamu iblis kontraknya.”
Miro menjawab datar.
“Ya.”
Lou tersenyum kecil.
“Kamu terlihat seperti bocah.”
Sunyi.
Kimo langsung tertawa keras.
“HAHAHAHA!”
Chero hampir jatuh karena tertawa.
Miren memalingkan wajah.
Avery menepuk dahinya.
Miro menatap Lou dengan wajah datar.
“…Aku akan mengingat itu.”
Lou terlihat tidak takut sama sekali.
“Baik.”
Kimo menepuk bahu Lou.
“Selamat datang di tim.”
Lou terlihat sedikit bingung.
“…Secepat itu?”
Kimo mengangguk.
“Yup.”
Chero menunjuk dirinya.
“Aku bahkan direkrut karena mencuri dompetnya.”
Lou berkedip.
“…Metode yang unik.”
Malam mulai turun di Velkaria.
Lampu-lampu kota menyala.
Tim kecil itu berjalan keluar dari gang menuju jalan utama.
Sekarang anggota mereka sudah lengkap.
-
Kimo
-
Avery
-
Miren
-
Chero
-
Lou
-
Miro
Party yang sangat aneh.
Dan sangat berbahaya.
Namun jauh di atas kota…
Di sebuah menara Therarus…
Seorang komandan sedang melihat laporan.
“Jadi… iblis kontrak itu juga bersama mereka.”
Dia tersenyum dingin.
“Siapkan unit penangkap iblis.”
Di jalan kota…
Miro berjalan dengan tangan di saku.
Dia melihat ke arah langit sebentar.
“…Ada yang tidak beres.”
Kimo menoleh.
“Apa?”
Miro menjawab pelan.
“…Aku punya firasat buruk.”
Kimo tersenyum santai.
“Tenang saja, bocah.”
Miro langsung menatapnya.
“…Berhenti memanggilku itu.”
Kimo tertawa.
Petualangan mereka semakin besar.
Dan tanpa mereka sadari…
Therarus sudah menyiapkan rencana baru.
Bab 11 — Iblis yang Diculik
Malam di Velkaria terasa tenang.
Angin malam berhembus pelan melewati jalan-jalan kota.
Di sebuah penginapan kecil, tim Kimo akhirnya beristirahat setelah pertarungan panjang hari itu.
Di dalam kamar besar mereka…
Chero duduk di lantai sambil menghitung koin.
“Ini bukan mencuri.”
Dia berkata santai.
“Ini kompensasi.”
Avery menghela napas panjang.
“Kamu mengambilnya dari prajurit yang tidak sadar.”
Chero mengangkat satu koin.
“Dia tidak butuh.”
Miren duduk di dekat jendela sambil membersihkan pedangnya.
“Kamu akan membuat kita diburu lebih banyak orang.”
Chero tersenyum.
“Bukankah itu sudah terjadi?”
Di sudut ruangan…
Lou duduk santai sambil minum teh.
Seolah tidak ada yang bisa mengganggu ketenangannya.
Sementara itu…
Kimo sedang tidur dengan posisi aneh di atas meja.
“Zzz…”
Avery melihatnya.
“…Bagaimana dia bisa tidur begitu cepat.”
Lou menjawab santai.
“Orang yang tidak takut biasanya tidur nyenyak.”
Di balkon luar kamar…
Miro berdiri sendirian.
Tangannya di saku.
Matanya menatap langit malam.
Bintang-bintang terlihat jelas di atas Velkaria.
Dia bergumam pelan.
“…Manusia.”
“…Selalu berisik.”
Tiba-tiba—
CLINK
Suara rantai terdengar dari belakangnya.
Miro langsung menoleh.
Terlambat.
Rantai sihir bercahaya biru melesat dari bayangan dan langsung mengikat tangannya.
Mata Miro melebar sedikit.
Energi iblisnya langsung terkunci.
“…Apa—”
Beberapa sosok berjubah hitam muncul dari atap penginapan.
Pasukan khusus Therarus.
Salah satu dari mereka berkata dingin.
“Target ditemukan.”
Miro menatap mereka tanpa panik.
“…Kalian datang untukku.”
Seorang prajurit mengangkat alat sihir berbentuk kristal.
“Rantai penahan iblis.”
“Kamu tidak bisa berubah menjadi senjata sekarang.”
Miro mencoba melepaskan diri.
Rantai itu langsung menyala.
Energi iblisnya tertekan.
“…Tch.”
Prajurit lain mendekat.
Dia menatap Miro dari atas ke bawah.
“…Ini dia?”
“Dia kecil sekali.”
Miro menatapnya datar.
“…Aku bisa mendengar kalian.”
Prajurit itu mengangkat bahu.
“Dia benar-benar cuma bocah.”
Miro berkata pelan.
“…Aku berusia lebih dari tiga ratus tahun.”
Prajurit itu tertawa kecil.
“Bocahnya pintar bicara.”
Miro menatap mereka dingin.
“…Aku akan mengingat wajah kalian.”
Komandan pasukan itu berkata singkat.
“Ikat dia.”
Rantai tambahan langsung mengikat Miro lebih kuat.
Energi iblis di tubuhnya hampir tidak bisa bergerak.
Miro bergumam kesal.
“…Kimo.”
Para prajurit membuka portal sihir kecil.
Cahaya biru menyala.
Komandan berkata:
“Kita bawa dia ke markas.”
Beberapa detik kemudian…
Mereka menghilang bersama Miro.
Balkon itu kembali sunyi.
Pagi hari.
Kimo keluar dari kamar sambil menguap besar.
“Pagi semua…”
Dia menggaruk rambut merah mudanya.
Chero masih duduk dengan kantong koin.
“Pagi.”
Miren berdiri di dekat balkon.
Avery sedang memeriksa sesuatu.
Lou duduk santai seperti biasa.
Kimo melihat sekeliling.
“…Eh.”
Semua menoleh.
Kimo mengangkat alis.
“Miro mana?”
Sunyi.
Avery mengangkat rantai sihir yang ditemukan di balkon.
“Ini tertinggal.”
“Rantai penahan iblis Therarus.”
Miren berkata serius.
“Dia diculik.”
Chero bersiul pelan.
“Wah.”
Lou menatap rantai itu sebentar.
“…Mereka membawa dia hidup-hidup.”
Kimo diam beberapa detik.
Avery mulai panik.
“Kimo… kita harus—”
Kimo tiba-tiba tersenyum kecil.
“Baiklah.”
Avery hampir berteriak.
“BAIKLAH?!”
Miren menghela napas.
“Dia iblis kontrakmu.”
Chero menambahkan santai.
“Dan anggota party.”
Lou menatap Kimo dengan tenang.
“Kamu akan menyelamatkannya?”
Kimo mengangguk.
“Jelas.”
Dia meregangkan tubuhnya.
“Kalau mereka menculik temanku…”
Kimo tersenyum lebar.
“…kita culik balik iblis kita.”
Chero langsung berdiri semangat.
“Aku suka rencana ini!”
Avery memegang kepalanya.
“Ini bukan rencana!”
Lou tersenyum kecil.
“…Menarik.”
Miren memasukkan pedangnya ke sarung.
“Kalau begitu kita bergerak sekarang.”
Kimo menunjuk Lou.
“Penyihir putih.”
Lou menoleh.
“Ya?”
Kimo menyeringai.
“Sekarang waktunya kamu menunjukkan apa yang bisa kamu lakukan.”
Lou menutup matanya sebentar.
Lalu membuka lagi dengan senyum kecil.
“…Baik.”
Sementara itu…
Di markas rahasia Therarus…
Miro diikat di kursi batu dengan rantai sihir.
Beberapa penyihir Therarus mengelilinginya.
Salah satu dari mereka berkata:
“Jadi ini iblis kontrak Kimo.”
Miro menatap mereka datar.
“…Kalian membuat kesalahan besar.”
Penyihir itu tertawa kecil.
“Kami tidak takut pada bocah.”
Miro menjawab pelan.
“…Bagus.”
“Karena tuanku sedang dalam perjalanan.”
Di sebuah bukit kecil di luar kota Velkaria…
Tim Kimo berdiri menghadap sebuah bangunan batu besar di kejauhan.
Itu adalah markas rahasia Therarus.
Menara batu hitam berdiri tinggi dengan simbol sihir aneh di dindingnya.
Avery menurunkan teropongnya.
“…Itu tempatnya.”
Chero bersiul kecil.
“Tempatnya kelihatan mahal.”
Miren menyilangkan tangan.
“Dan dijaga ketat.”
Beberapa penjaga terlihat berjalan di depan gerbang.
Lingkaran sihir juga terlihat di tanah.
Lou menatap markas itu dengan tenang.
“…Ada banyak penghalang sihir.”
Kimo duduk di batu sambil mengayunkan kakinya.
“Bagus.”
Avery menoleh cepat.
“Bagus?!”
Kimo tersenyum.
“Artinya mereka benar-benar menyimpan Miro di sana.”
Chero mengangkat tangan.
“Pertanyaan penting.”
Semua menoleh.
Chero menunjuk markas itu.
“Rencananya apa?”
Sunyi beberapa detik.
Avery berkata pelan.
“…Kimo?”
Kimo mengangkat bahu.
“Masuk.”
Avery langsung memegang kepalanya.
“ITU BUKAN RENCANA!”
Miren menghela napas.
“Dia serius.”
Lou terlihat sedikit terhibur.
“…Metode yang sederhana.”
Chero menyeringai.
“Aku suka.”
Sementara itu…
Di dalam markas Therarus.
Miro masih terikat di kursi batu.
Rantai sihir bercahaya biru melilit tubuhnya.
Seorang penyihir Therarus berjalan mengelilinginya.
“Menarik.”
Dia memegang dagunya.
“Iblis kontrak… biasanya lebih besar.”
Penyihir lain berkata:
“Mungkin dia tipe lemah.”
Miro menatap mereka datar.
“…Aku harap kalian menulis kata-kata itu di batu nisan kalian.”
Penyihir pertama tertawa kecil.
“Bocah ini galak.”
Miro menjawab dingin.
“…Aku tidak sabar melihat wajah kalian saat Kimo datang.”
Penyihir itu menyeringai.
“Kami menunggu.”
Kembali di bukit…
Avery sedang menggambar sketsa markas di tanah.
“Baik.”
Dia menunjuk beberapa titik.
“Gerbang utama dijaga.”
“Mereka juga punya penghalang sihir di sini dan di sini.”
Chero menunjuk jendela kecil di sisi bangunan.
“Kalau aku naik dari sana…”
Miren menatapnya.
“Kamu jatuh.”
Chero berpikir sebentar.
“…Kemungkinan itu ada.”
Lou berkata tenang.
“Ada cara lain.”
Semua menoleh.
Lou mengangkat tongkatnya.
Lingkaran sihir putih kecil muncul di udara.
“…Aku bisa membuka celah sementara di penghalang mereka.”
Avery langsung terkejut.
“Serius?!”
Lou mengangguk.
“Tapi hanya beberapa detik.”
Kimo langsung berdiri.
“Cukup.”
Dia menunjuk markas.
“Begitu celah terbuka, kita masuk.”
Miren memegang pedangnya.
“Baik.”
Chero tersenyum lebar.
“Sudah lama aku tidak menyusup tempat seperti ini.”
Avery masih cemas.
“Kita benar-benar melakukan ini…”
Kimo menepuk bahunya.
“Tenang.”
Avery menatapnya.
“Kenapa kamu begitu santai?!”
Kimo tersenyum kecil.
“Karena kita akan membawa pulang bocah iblis kita.”
Lou memperhatikan Kimo sebentar.
Lalu tersenyum tipis.
“…Sekarang aku mengerti.”
Chero menoleh.
“Mengerti apa?”
Lou menjawab pelan.
“Kenapa iblis itu memilih kontrak dengan orang ini.”
Beberapa menit kemudian…
Tim Kimo bergerak menuju markas Therarus.
Lou berdiri di depan penghalang sihir.
Dia mengangkat tongkatnya.
Lingkaran sihir putih besar muncul.
Energi berkilau memenuhi udara.
Avery menatap kagum.
“…Sihir ini…”
Lou berkata tenang.
“Sekarang.”
CRACK
Penghalang sihir terbuka sedikit.
Kimo langsung tersenyum lebar.
“Party time.”
Dia berlari masuk.
Miren langsung mengikuti.
Chero sudah menghilang ke bayangan.
Avery berlari sambil membawa buku sihirnya.
Lou berjalan santai di belakang.
Serangan penyelamatan dimulai.
Di ruang tahanan…
Miro tiba-tiba membuka matanya.
Dia bergumam pelan.
“…Mereka datang.”
Seorang penyihir Therarus menatapnya.
“Siapa?”
Miro tersenyum kecil untuk pertama kalinya.
“…Masalah kalian.”
Bab 13 — Menyusup ke Sarang Musuh
Malam menyelimuti markas Therarus.
Bangunan batu hitam itu berdiri sunyi di tengah bukit.
Namun kesunyian itu tidak berlangsung lama.
CRACK
Penghalang sihir di sisi markas tiba-tiba terbuka.
Lou menurunkan tongkatnya.
“Cepat.”
Kimo langsung menyeringai.
“Baik!”
Dia langsung berlari masuk.
Miren mengikuti di belakangnya dengan pedang sudah siap.
Avery berlari sambil memegang buku sihirnya.
Chero… sudah menghilang.
Lou masuk terakhir dengan langkah santai.
Di lorong dalam markas…
Beberapa penjaga sedang berjalan patroli.
Tiba-tiba—
WHOOSH
Chero turun dari langit-langit dan menjatuhkan salah satu penjaga.
THUD.
Penjaga lain menoleh kaget.
“Siapa—”
Miren langsung muncul dari bayangan.
CLANG
Pedangnya menghantam tombak penjaga itu.
Penjaga langsung terpental.
Avery mengangkat tangannya.
Lingkaran sihir kecil muncul.
Tali cahaya langsung mengikat dua penjaga yang lain.
“Terikat!”
Kimo berdiri di tengah lorong sambil melihat sekeliling.
“Tempatnya besar juga.”
Avery menatapnya tidak percaya.
“Kamu fokus sedikit!”
Chero muncul lagi dari belakang penjaga yang pingsan.
“Aku menemukan peta kecil.”
Dia menunjukkan kertas yang diambil dari kantong penjaga.
Lou melihatnya sekilas.
“…Ruang tahanan di bawah.”
Kimo langsung menunjuk tangga batu di ujung lorong.
“Ke sana.”
Sementara itu…
Di ruang tahanan bawah tanah.
Miro masih terikat di kursi batu.
Beberapa penyihir Therarus berdiri di sekitarnya.
Salah satu dari mereka berkata:
“Jika kita mempelajari kontrak ini…”
“Kita bisa membuat pasukan iblis sendiri.”
Penyihir lain mengangguk.
“Tapi bocah ini keras kepala.”
Miro menatap mereka datar.
“…Aku hanya menunggu.”
Penyihir itu menyeringai.
“Menunggu apa?”
Miro menjawab pelan.
“…Tuanku.”
Kembali di lorong markas.
Tim Kimo sudah sampai di tangga menuju bawah tanah.
Tiba-tiba—
ALARM sihir berbunyi.
Avery langsung panik.
“Mereka tahu kita di sini!”
Chero tersenyum lebar.
“Seru.”
Penjaga Therarus mulai berdatangan dari lorong lain.
Miren maju selangkah.
“Biar aku yang menahan mereka.”
Kimo mengangguk.
“Baik.”
Miren langsung menyerang.
Pedangnya bergerak cepat.
CLANG! CLANG!
Penjaga tidak bisa mendekat.
Lou menatap pertarungan itu sebentar.
“…Dia kuat.”
Avery berkata cepat.
“Kimo, cepat!”
Mereka turun ke ruang bawah tanah.
Lorong di sana lebih gelap.
Lampu sihir biru menyala di dinding.
Chero melihat pintu besi besar.
“Ini pasti penjara.”
Kimo mendorong pintu itu.
CREAAAK
Pintu terbuka.
Di dalam ruangan…
Miro duduk terikat di kursi batu.
Rantai sihir masih menyala.
Dia terlihat kesal.
Begitu melihat Kimo masuk…
Dia langsung berbicara datar.
“…Kalian lama sekali.”
Kimo tersenyum lebar.
“Yo, bocah.”
Miro menatapnya tajam.
“…Aku akan membunuhmu.”
Chero tertawa.
“Dia kelihatan sehat.”
Avery langsung mendekat ke rantai sihir.
“Ini segel Therarus tingkat tinggi…”
Lou berjalan mendekat.
“…Aku bisa membukanya.”
Miro menatap Lou.
“Kamu siapa.”
Lou menjawab santai.
“Anggota party baru.”
Miro diam beberapa detik.
“…Kimo benar-benar merekrut siapa saja.”
Kimo mengangkat bahu.
“Biasanya berhasil.”
Tiba-tiba pintu penjara terbuka keras.
Beberapa penyihir elit Therarus masuk.
Komandan mereka berkata dingin:
“Jadi kalian benar-benar datang.”
Kimo berdiri di depan Miro.
“Ya.”
Komandan itu tersenyum tipis.
“Bagus.”
“Sekarang kalian semua bisa ditangkap bersama.”
Miro menghela napas kesal.
“…Aku benci situasi ini.”
Kimo menoleh ke belakang.
“Miro.”
“Apa.”
Kimo menyeringai.
“Siap pulang?”
Miro menjawab datar.
“…Cepat lepaskan rantai ini.”
Bab 14 — Raynomiro Dibebaskan
Ruang tahanan bawah tanah menjadi tegang.
Beberapa penyihir elit Therarus berdiri mengelilingi pintu.
Komandan mereka menatap Kimo dengan dingin.
“Jadi kamu datang untuk iblismu.”
Kimo mengangkat bahu santai.
“Ya.”
“Dia mahal.”
Miro dari kursi batu langsung menyela.
“…Aku tidak dijual.”
Kimo menoleh.
“Bukan itu maksudku.”
Miro mendengus.
“…Manusia bodoh.”
Avery berbisik ke Chero.
“Dia makin cerewet.”
Chero menyeringai.
“Dia mulai cocok sama kita.”
Komandan Therarus mengangkat tangannya.
Lingkaran sihir besar muncul di udara.
“Kalian tidak akan keluar dari sini.”
Lou melangkah maju sedikit.
Matanya tenang.
“…Sihir resonansi.”
Avery langsung kaget.
“Kamu tahu sihir ini?”
Lou hanya menjawab singkat.
“Sedikit.”
Komandan itu memberi perintah.
“Serang.”
Para penyihir langsung melepaskan serangan sihir.
Api dan cahaya biru melesat ke arah mereka.
Kimo langsung melompat ke depan.
“Lou!”
Lou mengangkat tongkatnya.
Lingkaran sihir putih muncul.
Serangan itu langsung terbelah dua sebelum mencapai mereka.
Avery melotot.
“…Apa?!”
Lou berkata santai.
“Gangguan kecil.”
Chero berbisik.
“…Aku suka orang ini.”
Sementara itu Avery berlutut di depan rantai Miro.
Dia memeriksa segelnya.
“Ini rumit…”
Miro menatapnya.
“…Cepat.”
Avery menatap balik.
“Aku sedang mencoba!”
Miro mendesah.
“…Jika aku bebas sekarang, semuanya sudah selesai.”
Chero tertawa kecil.
“Ya, tapi kamu lagi dihukum sekarang.”
Miro menatapnya datar.
“…Aku akan mengingat wajahmu juga.”
Chero langsung mundur sedikit.
“Wah galak.”
Di sisi lain ruangan…
Miren akhirnya muncul dari tangga.
Beberapa penjaga di belakangnya sudah tumbang.
Dia melihat situasi ruangan.
“Sepertinya kalian sudah mulai tanpa aku.”
Kimo tersenyum.
“Tepat waktu.”
Miren langsung menyerang para penyihir elit.
Pedangnya bergerak cepat.
CLANG!
Dua penyihir terpental.
Komandan Therarus menyipitkan mata.
“Pendekar itu…”
Di depan kursi Miro…
Avery akhirnya berhasil membuka sebagian segel.
Rantai mulai retak.
“Sedikit lagi!”
Miro menatap rantai itu.
“…Akhirnya.”
Kimo menoleh ke belakang.
“Miro.”
“Apa.”
Kimo menyeringai.
“Siap kerja lagi?”
Miro memutar matanya.
“…Aku selalu bekerja.”
“Yang malas itu kamu.”
Kimo tertawa.
CRACK
Rantai sihir akhirnya pecah.
Energi iblis merah langsung memenuhi ruangan.
Para penyihir Therarus langsung mundur kaget.
Komandan mereka berteriak.
“Jangan biarkan dia berubah!”
Kimo mengangkat tangannya.
“RAYNOMIRO!”
Tubuh Miro langsung berubah menjadi cahaya merah.
Pedang hitam muncul di tangan Kimo.
Energi iblis berputar di sekelilingnya.
Komandan Therarus terkejut.
“Cepat sekali—”
Kimo mengayunkan pedangnya.
SLASH
Gelombang energi merah menghantam para penyihir.
Beberapa langsung terpental ke dinding.
Chero bersiul kagum.
“Wah.”
“Sekarang dia kembali.”
Suara Miro terdengar dari pedang.
“…Kalian benar-benar membuatku menunggu lama.”
Kimo berkata santai.
“Maaf ya.”
Miro langsung membalas.
“…Jika kamu datang lima menit lebih lambat, aku sudah keluar sendiri.”
Kimo tertawa.
“Ya ya.”
Avery berkata pelan ke Lou.
“Dia benar-benar iblis tsundere.”
Lou tersenyum kecil.
“…Aku mulai melihat itu.”
Komandan Therarus masih berdiri.
Dia mengangkat sihir besar terakhirnya.
“Ini belum selesai!”
Lingkaran sihir raksasa muncul di langit-langit ruangan.
Energi biru mengumpul.
Kimo menatapnya.
“Miro.”
“…Apa.”
“Potong.”
Pedang iblis itu bersinar merah.
“…Dengan senang hati.”
Kimo melompat.
SLASH
Lingkaran sihir itu langsung terbelah dua.
Energinya hancur seperti kaca.
Komandan Therarus terpaku.
“…Mustahil.”
Miren menaruh pedangnya di leher komandan itu.
“Sudah selesai.”
Beberapa menit kemudian…
Tim Kimo keluar dari markas Therarus.
Langit malam terasa lebih tenang.
Kimo memutar pedang Miro.
“Kerja bagus semua.”
Pedang itu berubah kembali menjadi Miro.
Dia berdiri sambil melipat tangan.
“…Lain kali jangan biarkan aku diculik lagi.”
Chero tertawa.
“Kamu terlihat lucu di kursi itu.”
Miro menatapnya dingin.
“…Aku masih mengingat wajahmu.”
Chero langsung berhenti tertawa.
“Baik maaf.”
Lou melihat Miro sebentar.
“…Bagaimana rasanya ditangkap?”
Miro menjawab datar.
“…Menyebalkan.”
Kimo menepuk bahunya.
“Tapi kamu kangen kami kan?”
Miro langsung membalas cepat.
“…Tidak.”
Dia berhenti sebentar.
“…Sedikit.”
Avery langsung tersenyum.
“Dia mengaku!”
Miro menoleh kesal.
“…Diam.”
Kimo tertawa keras.
Dan malam itu…
Party Kimo kembali lengkap.
Petualangan mereka baru saja dimulai.
Namun jauh di utara…
Empire Therarus mulai menyadari satu hal.
Kelompok kecil ini…
benar-benar berbahaya.
Bab 15 — Kota yang Terlupakan
Beberapa hari setelah menyerang markas Therarus…
Party Kimo berjalan melewati dataran luas menuju negeri berikutnya.
Angin dingin bertiup pelan.
Avery melihat peta tua di tangannya.
“Kalau informasi ini benar…”
“Di depan ada kota kecil bernama Eldran.”
Miren menatap ke arah dataran kosong.
“Aku tidak melihat kota.”
Chero berdiri di batu sambil melihat jauh.
“…Ada.”
Dia menunjuk ke kejauhan.
Di sana terlihat tembok batu tua dan rumah-rumah kecil.
Namun suasananya sunyi.
Tidak ada pasar.
Tidak ada pedagang.
Tidak ada tawa.
Lou berkata pelan.
“…Kota yang ditekan.”
Kimo memasukkan tangan ke sakunya.
“Berarti Therarus ada di sini.”
Miro berjalan di sampingnya.
“…Itu sudah jelas.”
Kimo menoleh.
“Wah, bocah sarkas mulai banyak bicara.”
Miro langsung menjawab cepat.
“…Aku tidak banyak bicara.”
Chero langsung menyela.
“Kamu ngomel sejak tadi.”
Miro menatapnya dingin.
“…Aku masih ingat wajahmu.”
Chero langsung mundur sedikit.
“Oke, masih sensitif.”
Lou tertawa kecil.
Mereka memasuki kota Eldran.
Beberapa warga terlihat berjalan cepat sambil menunduk.
Tentara Therarus berdiri di sudut jalan.
Simbol kekaisaran mereka terlihat di baju zirah.
Avery berbisik pelan.
“Mereka menguasai kota ini.”
Miren mengangguk.
“Seperti penjajahan.”
Kimo melihat sekeliling.
“…Aku tidak suka tempat seperti ini.”
Miro meliriknya.
“…Akhirnya kita sepakat.”
Tiba-tiba seorang anak kecil menabrak Kimo.
“Ah!”
Kimo hampir jatuh.
“Whoa!”
Anak itu cepat bangkit.
“Maaf!”
Dia langsung lari lagi.
Chero mengangkat alis.
“…Dia terlihat takut.”
Lou melihat ke arah jalan.
Beberapa tentara Therarus sedang menarik seorang pria tua.
“Beri kami pajak sihir!”
Pria itu gemetar.
“Aku tidak punya lagi…”
Tentara itu menendangnya.
Miren langsung mengepalkan tangan.
“…Bajingan.”
Kimo berdiri diam beberapa detik.
Lalu dia berjalan ke arah tentara itu.
Miro melihatnya.
“…Oh tidak.”
Avery menatapnya panik.
“Kimo jangan—”
Terlambat.
Kimo sudah berdiri di depan tentara Therarus.
Dia tersenyum ramah.
“Halo.”
Tentara itu menatapnya curiga.
“Apa maumu?”
Kimo menunjuk pria tua itu.
“Lepaskan dia.”
Tentara itu tertawa.
“Siapa kamu?”
Kimo menjawab santai.
“Aku orang yang tidak suka penindas.”
Tentara itu mengangkat pedangnya.
“Pergi sebelum kami menangkapmu.”
Kimo menghela napas.
“Baiklah.”
Dia menoleh sedikit ke belakang.
“Miro.”
Miro langsung menjawab datar.
“…Aku sudah tahu.”
Kimo mengangkat tangannya.
“RAYNOMIRO.”
Cahaya merah meledak.
Pedang iblis muncul di tangannya.
Tentara Therarus langsung kaget.
“IBLIS—?!”
SLASH
Dalam satu gerakan…
Pedang Kimo menghantam tanah di depan mereka.
Energi merah menyapu tentara itu jatuh.
Miren, Chero, dan Lou langsung bergerak menghabisi sisanya.
Beberapa detik kemudian…
Jalan itu kembali sunyi.
Penduduk kota menatap mereka dengan kaget.
Pria tua yang tadi ditolong berkata pelan.
“…Siapa kalian?”
Kimo tersenyum.
“Traveler.”
Miro dari pedang berkata sarkas.
“…Pembohong.”
Malam itu…
Warga Eldran membawa mereka ke perpustakaan tua kota.
Bangunan itu hampir runtuh.
Seorang wanita tua berkata pelan.
“Therarus mencari sesuatu di sini beberapa bulan lalu…”
Avery langsung tertarik.
“Mencari apa?”
Wanita itu menunjuk ke rak buku tua.
“Dokumen kuno.”
Avery, Lou, dan Kimo mulai mencari.
Debu beterbangan saat mereka membuka peti tua.
Tiba-tiba…
Lou menemukan gulungan kuno.
Dia membuka perlahan.
Matanya sedikit berubah.
“…Ini.”
Avery mendekat.
“Apa?”
Lou menunjuk tulisan di gulungan itu.
“Sihir Therarus…”
“…bukan sihir biasa.”
Avery membaca cepat.
Wajahnya berubah kaget.
“Ini…”
“…sihir mereka berasal dari inti sihir yang disinkronkan.”
Chero menggaruk kepala.
“Bahasa sederhananya?”
Miro menjawab datar.
“…Mereka semua berbagi sumber kekuatan.”
Avery mengangguk cepat.
“Benar!”
“Kalau inti itu dihancurkan…”
Lou melanjutkan.
“…seluruh sistem sihir Therarus akan runtuh.”
Sunyi.
Kimo tersenyum lebar.
“Bagus.”
Dia berdiri.
“Sekarang kita punya cara mengalahkan mereka.”
Miren menyilangkan tangan.
“Dan kota ini?”
Kimo melihat ke arah jendela.
Di luar…
Warga Eldran masih hidup dalam ketakutan.
Kimo berkata pelan.
“Kita mulai dari sini.”
Miro langsung menyela sarkas.
“…Aku tahu kamu akan mengatakan itu.”
Chero menyeringai.
“Revolusi kecil?”
Kimo menjawab santai.
“Ya.”
“Pertama…”
Dia menunjuk kota.
“Kita bebaskan Eldran.”
Bab 16 — Bayangan Kaisar
Malam di kota Eldran.
Di dalam balai kota tua…
Penduduk berkumpul dengan wajah tegang.
Kimo berdiri di depan mereka.
“Mulai malam ini,” katanya santai, “kota kalian tidak lagi di bawah Therarus.”
Beberapa warga terlihat ragu.
Seorang pria berkata pelan,
“Tapi tentara mereka akan kembali…”
Miren melangkah maju.
“Kami akan menahan mereka.”
Chero menambahkan sambil menyeringai,
“Dan gudang senjata mereka sekarang… milik kalian.”
Avery menoleh cepat.
“Kamu sudah mencurinya?!”
Chero mengangkat bahu.
“Penataan ulang kepemilikan.”
Miro berdiri di samping Kimo dengan tangan di saku.
“…Ini semua terdengar sangat berisik.”
Kimo meliriknya.
“Kenapa? Kamu takut?”
Miro langsung menjawab cepat.
“…Aku iblis. Aku tidak takut.”
Dia berhenti sebentar lalu menambahkan,
“…Tapi manusia yang berteriak-teriak seperti ini menyebalkan.”
Kimo tertawa.
“Padahal kamu yang paling cerewet.”
Miro menoleh kesal.
“…Aku tidak cerewet.”
Lou yang berdiri di belakang mereka berkata santai,
“Dia bicara sejak tadi.”
Chero mengangguk.
“Benar.”
Miro melipat tangan.
“…Aku menyesal ikut dengan kalian.”
Kimo menepuk bahunya.
“Tapi kamu tetap di sini.”
Miro mendengus pelan.
“…Hanya karena kontrak.”
Namun dia tidak pergi.
Beberapa jam kemudian…
Penduduk Eldran akhirnya bangkit melawan penjaga Therarus.
Gudang senjata dibuka.
Bendera kekaisaran diturunkan dari tembok kota.
Miren memimpin warga melawan pasukan kecil Therarus yang tersisa.
Pertempuran berlangsung singkat.
Saat matahari mulai terbit…
Eldran resmi bebas.
Warga kota bersorak.
Kimo menggaruk kepalanya.
“Cepat juga.”
Avery tersenyum lega.
“Kota pertama.”
Lou menatap ke arah utara.
“…Therarus pasti sudah tahu sekarang.”
Miro menjawab datar,
“…Ya.”
“…Dan mereka tidak akan diam.”
Sementara itu… jauh di ibu kota Therarus
Sebuah istana raksasa berdiri di tengah kota.
Menara hitam menjulang tinggi.
Di dalam aula besar…
Seorang mata-mata Therarus berlutut di lantai marmer.
Di depannya berdiri para jenderal kekaisaran.
Dan di ujung ruangan…
Duduk seseorang di singgasana hitam.
Aura sihir gelap memenuhi ruangan.
Dialah penguasa Therarus.
Kaisar Voldnt.
Jubahnya panjang seperti bayangan.
Matanya bersinar dingin.
Mata-mata itu berbicara dengan gugup.
“Yang Mulia… ada kelompok yang menyerang markas Velkaria.”
Seorang jenderal menyela.
“Kelompok pemberontak?”
Mata-mata itu menggeleng cepat.
“Tidak… lebih kecil.”
“Tapi mereka memiliki… iblis kontrak.”
Ruangan menjadi sunyi.
Kaisar Voldnt akhirnya berbicara.
Suaranya rendah.
“…Nama mereka.”
Mata-mata itu menelan ludah.
“Pemimpin mereka seorang penyihir…”
“…bernama Kimo.”
Beberapa jenderal tertawa kecil.
“Kelompok kecil tidak berarti apa-apa.”
Namun Kaisar Voldnt tidak tertawa.
Dia menatap ke depan dengan tenang.
“…Iblis kontrak, katamu.”
Mata-mata itu mengangguk.
“Dan mereka… baru saja membebaskan kota Eldran.”
Salah satu jenderal kaget.
“Apa?!”
Voldnt perlahan berdiri dari singgasananya.
Energi sihir gelap bergetar di ruangan.
“…Menarik.”
Dia berjalan perlahan.
“Sudah lama tidak ada yang berani mengganggu kekaisaranku.”
Mata-mata itu gemetar.
Voldnt tersenyum tipis.
“Kalau mereka ingin bermain perang…”
“…biarkan mereka bermain.”
Dia menoleh pada para jenderalnya.
“Kirim Legiun Utara.”
Para jenderal langsung memberi hormat.
“Perintah diterima.”
Voldnt kembali duduk di singgasana.
“…Aku ingin melihat sejauh mana penyihir bernama Kimo ini bisa bertahan.”
Kembali di Eldran
Kimo berdiri di atas tembok kota.
Angin pagi berhembus.
Dia melihat ke arah utara.
Miro berdiri di sampingnya.
“…Kamu merasa sesuatu?”
Kimo mengangguk pelan.
“Ya.”
Dia tersenyum.
“Petualangan kita baru mulai.”
Miro memutar mata.
“…Kamu selalu terdengar terlalu senang.”
Kimo tertawa.
“Karena kita akan menjatuhkan kekaisaran.”
Miro mendengus.
“…Ambisi manusia memang menyebalkan.”
Namun setelah beberapa detik dia berkata pelan,
“…Tapi kali ini… mungkin menarik.”
Bab 17 — Poster Buronan
Pagi di kota Eldran terasa berbeda.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
Bendera Therarus tidak lagi berkibar di gerbang kota.
Penduduk mulai membuka toko mereka.
Anak-anak kembali bermain di jalan.
Kimo berdiri di tengah alun-alun sambil meregangkan tubuh.
“Ahh… udara kebebasan.”
Miren berdiri di sampingnya.
“Kita tidak bisa tinggal lama.”
Avery membuka peta dan dokumen kuno yang mereka temukan.
“Dokumen ini menyebutkan beberapa lokasi lain yang berhubungan dengan inti sihir Therarus.”
Lou menatap peta itu.
“…Perpustakaan kuno, reruntuhan sihir, dan kuil lama.”
Chero menyeringai.
“Artinya lebih banyak petualangan.”
Miro berdiri di belakang Kimo dengan tangan di saku.
“…Artinya lebih banyak masalah.”
Kimo menoleh.
“Kamu mulai terdengar seperti Avery.”
Miro langsung membalas cepat.
“…Aku tidak se-ceroboh kamu.”
Chero langsung menyela.
“Kamu sudah ngomel sejak pagi.”
Miro menatapnya dingin.
“…Aku masih ingat wajahmu.”
Chero langsung pura-pura melihat ke langit.
“Cuacanya bagus.”
Lou tertawa kecil.
Saat mereka berjalan melewati pasar kota…
Avery tiba-tiba berhenti.
“Tunggu.”
Dia menunjuk papan kayu di dinding.
Beberapa kertas baru ditempel di sana.
Penduduk kota berkumpul di sekitarnya.
Kimo mendekat.
“Hmm?”
Lalu dia melihatnya.
Sebuah poster buronan besar.
Di tengah poster itu…
Ada gambar penyihir berambut merah muda dengan kuncir dua.
Kimo.
Di bawahnya tertulis:
BURONAN KEKAISARAN THERARUS
Kejahatan:
-
Menyerang fasilitas kekaisaran
-
Membantu pemberontakan
-
Membebaskan kota Eldran
Hadiah: 50.000 koin emas
Sunyi beberapa detik.
Lalu Chero tertawa keras.
“HAHAHAHA!”
Avery memegang kepalanya.
“Sudah kuduga…”
Miren menghela napas.
“Kamu terlalu mencolok.”
Kimo menunjuk poster itu dengan bangga.
“Lihat, gambarnya lumayan mirip.”
Miro menatap poster itu.
“…Rambutmu terlihat lebih buruk di sana.”
Kimo langsung menoleh.
“HEI.”
Lou berkata santai.
“Kenapa hanya kamu?”
Avery berpikir sebentar.
“Mungkin mereka belum tahu siapa kita.”
Chero menyeringai.
“Atau mereka pikir Kimo saja sudah cukup masalah.”
Miro berkata datar.
“…Itu masuk akal.”
Kimo menunjuk dirinya sendiri.
“Wah, aku terkenal sekarang.”
Miren menatapnya tajam.
“Itu bukan hal baik.”
Sementara itu… di istana Therarus
Beberapa penyihir kerajaan berdiri mengelilingi meja besar.
Di atas meja itu ada laporan tentang Kimo dan iblis kontraknya.
Seorang penyihir berkata:
“Pasukan yang selamat dari Velkaria melaporkan sesuatu yang aneh.”
Jenderal Therarus menyilangkan tangan.
“Apa itu?”
Penyihir itu membuka gulungan laporan.
“Iblis kontrak itu tidak cocok dengan klasifikasi mana pun.”
Jenderal mengerutkan dahi.
“Tidak mungkin.”
“Kami mengenal semua jenis iblis.”
Penyihir itu menggeleng.
“Energinya berbeda.”
“Seolah-olah… lebih tua.”
Di ujung ruangan…
Kaisar Voldnt duduk di singgasananya.
Dia mendengarkan dengan tenang.
“Nama iblis itu?”
Penyihir menjawab:
“Raynomiro.”
Ruangan menjadi hening.
Voldnt mengetuk sandaran singgasana.
“…Cari semua catatan kuno tentang nama itu.”
Para penyihir langsung membungkuk.
“Perintah diterima.”
Voldnt menatap ke arah utara.
“…Jika iblis itu benar-benar sesuatu yang langka…”
“…maka penyihir bernama Kimo itu lebih berbahaya dari yang kita kira.”
Kembali di jalan menuju negeri berikutnya
Party Kimo sudah meninggalkan Eldran.
Jalan tanah membentang di depan mereka.
Avery masih membaca dokumen kuno.
“Kita harus menemukan tempat berikutnya di dokumen ini.”
Lou melihat ke arah pegunungan di kejauhan.
“…Reruntuhan sihir tua.”
Miren berkata serius.
“Kalau Therarus juga mencari informasi…”
“mereka pasti akan mengejar kita.”
Chero tersenyum.
“Bagus.”
Miro berjalan di samping Kimo.
“…Kamu terlihat terlalu santai untuk seseorang yang baru saja jadi buronan.”
Kimo tertawa.
“Ini bagian dari petualangan.”
Miro mendengus.
“…Manusia aneh.”
Kimo meliriknya.
“Kenapa?”
Miro menjawab pelan.
“…Karena aku tetap ikut.”
Kimo tersenyum lebar.
“Ya.”
“Karena kamu anggota party.”
Miro langsung membalas cepat.
“…Hanya karena kontrak.”
Namun dia tetap berjalan di samping mereka.
Bab 18 — Reruntuhan Penyihir Tua
Perjalanan membawa party Kimo menuju pegunungan di utara.
Kabut tipis menyelimuti jalan batu tua.
Di kejauhan terlihat reruntuhan bangunan kuno yang hampir tertelan alam.
Pilar-pilar batu berdiri miring.
Simbol sihir tua terukir di dinding yang retak.
Avery membuka peta dokumen kuno mereka.
“…Ini tempatnya.”
Miren melihat sekeliling dengan waspada.
“Tempat seperti ini biasanya punya penjaga.”
Chero mengangkat bahu.
“Atau harta.”
Lou berjalan perlahan mengamati ukiran batu.
“…Ini bukan bangunan biasa.”
Kimo melihat ke atas reruntuhan itu.
“Tempatnya keren juga.”
Miro berdiri di belakangnya dengan tangan di saku.
“…Kamu selalu bilang begitu di tempat berbahaya.”
Kimo menoleh.
“Karena biasanya tempat berbahaya menyimpan hal menarik.”
Miro mendengus.
“…Manusia aneh.”
Chero langsung menyela.
“Kamu juga ikut.”
Miro menatapnya.
“…Diam.”
Mereka memasuki aula besar reruntuhan.
Debu beterbangan di udara.
Di tengah ruangan berdiri patung penyihir tua yang sudah retak.
Di kakinya ada meja batu dengan gulungan kuno.
Avery langsung mendekat.
Matanya berbinar.
“Dokumen!”
Kimo bersiul kecil.
“Cepat juga.”
Avery membuka gulungan itu dengan hati-hati.
Tulisan kuno memenuhi kertas tua itu.
“…Ini catatan tentang penelitian sihir kerajaan lama.”
Lou ikut membaca dari sampingnya.
“Baca bagian bawah.”
Avery mengikuti arah yang ditunjuk Lou.
Lalu matanya melebar.
“…Ini tentang Therarus.”
Semua langsung mendekat.
Avery membaca keras-keras.
“Kekaisaran Therarus tidak menggunakan sihir biasa.
Kekuatan mereka berasal dari inti resonansi besar yang menyalurkan energi ke seluruh pasukan penyihir mereka.”
Miren menyilangkan tangan.
“Jadi benar.”
Chero menggaruk kepala.
“Artinya kalau inti itu hancur…”
Lou melanjutkan kalimatnya.
“…kekuatan sihir Therarus akan runtuh.”
Kimo tersenyum lebar.
“Berarti kita hanya perlu menemukan inti itu.”
Miro berkata datar.
“…‘Hanya’ katanya.”
Avery terus membaca gulungan itu.
Tiba-tiba dia berhenti.
“Tunggu.”
Kimo meliriknya.
“Apa?”
Avery menunjuk bagian lain dari dokumen.
“Ini… bukan tentang Therarus.”
Lou mendekat.
“…Tentang iblis.”
Semua langsung menoleh ke Miro.
Miro memutar mata.
“…Kenapa kalian melihatku.”
Avery membaca perlahan.
“Ada jenis iblis kuno yang disebut iblis resonansi jiwa.
Mereka dapat berubah bentuk menjadi senjata dan terikat dengan kontrak penyihir.”
Kimo menunjuk Miro.
“Persis kamu.”
Miro menjawab cepat.
“…Aku sudah tahu itu.”
Avery melanjutkan membaca.
“Namun beberapa iblis jenis ini lebih tua dari catatan dunia.
Mereka dikatakan memiliki hubungan dengan sumber sihir kuno.”
Sunyi beberapa detik.
Chero menatap Miro.
“Wah.”
“Bocah sarkas ternyata langka.”
Miro menatapnya dingin.
“…Aku akan benar-benar memakan jiwamu suatu hari.”
Chero langsung mengangkat tangan.
“Maaf.”
Lou masih menatap dokumen itu.
“…Menarik.”
Kimo menoleh.
“Apa?”
Lou menunjuk satu baris terakhir.
“Jika iblis resonansi kuno bertemu dengan inti sihir besar…”
“reaksi sihirnya bisa mengguncang seluruh sistem sihir.”
Avery langsung menyadarinya.
“…Tunggu.”
Dia menatap Miro.
“Kalau itu benar…”
“Raynomiro bisa berinteraksi langsung dengan inti sihir Therarus.”
Miren berkata pelan.
“…Artinya dia bisa menghancurkannya.”
Semua menatap Miro.
Miro terlihat kesal.
“…Berhenti menatapku.”
Kimo menyeringai.
“Wah.”
“Jadi kamu senjata anti-kerajaan.”
Miro mendengus.
“…Aku bukan alat.”
Kimo menepuk bahunya.
“Tenang.”
“Kamu partner.”
Miro diam sebentar.
“…Kamu menyebalkan.”
Namun dia tidak benar-benar marah.
Tiba-tiba—
RUMBLE
Tanah reruntuhan bergetar.
Debu jatuh dari langit-langit.
Miren langsung siaga.
“Ada sesuatu.”
Dari balik pilar runtuh…
Beberapa sosok berjubah hitam muncul.
Simbol Therarus terlihat di pakaian mereka.
Chero menghela napas.
“Cepat sekali mereka menemukan kita.”
Seorang penyihir Therarus melangkah maju.
“Kami mencari dokumen itu.”
Dia menatap Kimo.
“Dan juga kamu.”
Kimo tersenyum santai.
“Wah.”
“Penggemar?”
Miro langsung berkata sarkas dari sampingnya.
“…Buronan terkenal sekarang.”
Lou memutar tongkat sihirnya.
“…Sepertinya kita harus bertarung lagi.”
Kimo mengangkat tangannya.
“Miro.”
Miro menjawab cepat.
“…Aku sudah tahu.”
Kimo tersenyum lebar.
“Party time.”
Bab 19 — Jenderal dari Kekaisaran
Debu reruntuhan masih berjatuhan dari langit-langit.
Beberapa penyihir Therarus sudah mengepung aula kuno itu.
Di tengah mereka berdiri seorang pria tinggi mengenakan zirah hitam.
Aura sihirnya terasa jauh lebih berat daripada yang lain.
Miren langsung menyadarinya.
“…Yang itu berbeda.”
Avery menelan ludah.
“Energi sihirnya besar…”
Pria itu melangkah maju perlahan.
“Aku adalah Jenderal Arkhavel dari Kekaisaran Therarus.”
Chero berbisik pelan ke Kimo.
“Namanya terdengar mahal.”
Kimo mengangguk setuju.
“Benar.”
Miro langsung menyela dengan nada sarkas.
“…Kalian berdua benar-benar tidak serius.”
Jenderal Arkhavel menatap Kimo.
“Jadi kamu penyihir yang membuat masalah bagi kekaisaran.”
Kimo menunjuk dirinya sendiri.
“Terkenal ya.”
Miro memutar mata.
“…Aku menyesal terikat kontrak denganmu.”
Kimo tertawa.
“Bohong.”
Miro langsung menjawab cepat.
“…Bukan.”
Lou yang berdiri di belakang mereka berkata pelan.
“Dia mulai banyak bicara.”
Chero langsung menimpali.
“Efek Kimo.”
Miro menatap mereka bertiga.
“…Aku akan memakan jiwa kalian bertiga.”
Chero mundur satu langkah.
“Dia sensitif hari ini.”
Jenderal Arkhavel mengangkat tangannya.
Lingkaran sihir besar muncul di udara.
“Serahkan dokumen itu.”
Kimo mengangkat gulungan kuno yang ditemukan Avery.
“Yang ini?”
Arkhavel mengangguk.
“Sekarang.”
Kimo berpikir sebentar.
“…Tidak.”
Miro langsung menyela.
“…Kamu bahkan tidak berpikir lama.”
Kimo tersenyum.
“Aku memang cepat.”
Miro mendengus.
“…Cepat dalam membuat masalah.”
Arkhavel akhirnya menghela napas.
“Baik.”
Lingkaran sihirnya mulai bersinar terang.
“Kalau begitu… aku akan mengambilnya sendiri.”
Energi biru besar meledak dari tanah.
Beberapa pilar reruntuhan langsung hancur.
Miren langsung maju.
“Semua siap!”
Chero sudah menghilang ke bayangan.
Avery membuka buku sihirnya.
Lou mengangkat tongkatnya.
Kimo mengangkat tangannya.
“Miro.”
Miro langsung menjawab.
“…Aku tahu.”
Kimo tersenyum lebar.
“RAYNOMIRO.”
Tubuh Miro berubah menjadi cahaya merah.
Pedang hitam muncul di tangan Kimo.
Energi iblis memenuhi ruangan.
Arkhavel menyerang lebih dulu.
Dia melepaskan gelombang sihir resonansi.
Kimo melompat menghindar.
BOOM
Lantai batu retak.
Suara Miro terdengar dari pedang.
“…Dia lebih kuat dari prajurit sebelumnya.”
Kimo tertawa.
“Bagus.”
Miro langsung membalas.
“…Kenapa kamu selalu senang saat hampir mati.”
Kimo menjawab santai.
“Karena itu seru.”
Miro menghela napas.
“…Manusia bodoh.”
Arkhavel menyerang lagi dengan sihir besar.
Lou mengangkat tongkatnya.
Lingkaran sihir putih muncul dan menahan sebagian serangan.
Avery membantu memperkuat penghalang.
Chero tiba-tiba muncul di belakang Arkhavel.
Dia mencoba menyerang.
Namun—
CLANG
Arkhavel menangkis dengan mudah.
Chero langsung melompat mundur.
“Wah.”
“Dia benar-benar jenderal.”
Kimo maju langsung.
Pedang iblisnya menyala merah.
CLASH
Pedang mereka bertabrakan.
Arkhavel menyipitkan mata.
“Energi iblis…”
Dia menatap pedang itu.
“Jadi ini Raynomiro.”
Suara Miro terdengar dingin.
“…Dan kamu terlalu banyak bicara.”
Kimo menyeringai.
“Setuju.”
Dia mengayunkan pedangnya lagi.
Pertarungan besar memenuhi aula reruntuhan.
Di tengah pertarungan…
Kimo hampir terpeleset karena batu runtuh.
Miro langsung berkomentar dari pedang.
“…Hati-hati.”
Kimo tertawa.
“Wah.”
“Kamu khawatir?”
Miro langsung menjawab cepat.
“…Aku hanya tidak ingin mati karena kesalahan bodohmu.”
Kimo tersenyum.
“Tsundere.”
Miro langsung marah.
“…AKU BUKAN TSUNDERE.”
Chero yang mendengar itu dari jauh langsung tertawa.
“Dia mengaku!”
Miro berteriak kesal dari pedang.
“…DIAM!”
Arkhavel melihat semua itu dengan wajah datar.
“…Kalian benar-benar aneh.”
Kimo mengangkat pedangnya lagi.
“Ini party kami.”
Miro menambahkan dengan sarkas.
“…Aku juga tidak memilih ini.”
Namun suaranya terdengar sedikit lebih hidup dari biasanya.
Pertarungan masih berlangsung.
Namun Arkhavel mulai menyadari sesuatu.
Energi pedang iblis itu…
beresonansi dengan reruntuhan kuno di sekitar mereka.
Dia bergumam pelan.
“…Menarik.”
Bab 20 — Resonansi Raynomiro
Benturan pedang menggema di aula reruntuhan.
CLANG!
Kimo dan Jenderal Arkhavel saling menekan kekuatan.
Energi sihir merah dari pedang iblis bertabrakan dengan sihir biru Therarus.
Lantai batu di bawah mereka mulai retak.
Arkhavel menyeringai tipis.
“Kekuatan yang menarik.”
Kimo menjawab santai.
“Makasih.”
Suara Miro terdengar dari pedang.
“…Dia tidak sedang memuji.”
Kimo tertawa.
“Biar saja.”
Arkhavel mengangkat tangannya.
Lingkaran sihir besar muncul di udara.
“Teknik resonansi Therarus.”
Energi biru meledak dari lingkaran itu.
Avery langsung berteriak.
“Kimo, hati-hati!”
Lou mencoba membuat penghalang sihir.
Namun serangan itu terlalu besar.
BOOOM
Ledakan mengguncang reruntuhan.
Debu memenuhi ruangan.
Chero melompat menjauh sambil batuk.
“Dia serius sekarang!”
Miren berdiri di depan Avery melindunginya.
“Jangan lengah!”
Di tengah debu…
Kimo masih berdiri.
Pedang iblisnya menyala terang.
Namun sesuatu terasa berbeda.
Dinding reruntuhan mulai bersinar.
Simbol sihir kuno di batu menyala merah.
Miro tiba-tiba berbicara dengan nada berbeda.
“…Apa ini?”
Kimo mengerutkan dahi.
“Kamu yang harusnya tahu.”
Miro terdengar bingung.
“…Energi tempat ini… bereaksi denganku.”
Chero melihat simbol yang menyala.
“Uh… itu normal?”
Lou menjawab pelan.
“…Tidak.”
Arkhavel juga memperhatikan perubahan itu.
Matanya menyipit.
“Jadi benar.”
“Raynomiro…”
Dia melangkah maju perlahan.
“Kamu memang iblis resonansi kuno.”
Kimo menoleh.
“Dia bilang apa?”
Miro menjawab cepat.
“…Aku tidak tahu.”
Kimo mengangkat alis.
“Serius?”
“…Serius.”
Tiba-tiba simbol di lantai bersinar lebih terang.
Energi merah mengalir dari reruntuhan menuju pedang Kimo.
WHOOM
Gelombang energi menyebar ke seluruh ruangan.
Arkhavel mundur satu langkah.
“Menarik.”
Avery menatap dokumen kuno yang tadi mereka temukan.
“Ini sama seperti catatan itu…”
Lou melanjutkan.
“…Raynomiro bisa beresonansi dengan sumber sihir kuno.”
Chero bersiul.
“Jadi bocah sarkas kita ternyata penting.”
Miro langsung menjawab dari pedang.
“…Aku akan mengingat itu.”
Chero langsung pura-pura sibuk melihat lantai.
Kimo mengangkat pedangnya.
Energi merah sekarang jauh lebih kuat.
Dia tersenyum lebar.
“Wah.”
“Upgrade.”
Miro berkata cepat.
“…Jangan senang dulu.”
“Energi ini tidak stabil.”
Kimo tertawa.
“Sudah biasa.”
Miro menghela napas panjang.
“…Kenapa aku terikat kontrak dengan orang seperti ini.”
Arkhavel mengangkat pedangnya lagi.
Namun kali ini ekspresinya serius.
“Kalian lebih berbahaya dari yang kuduga.”
Kimo menunjuk dirinya sendiri.
“Terima kasih.”
Miro langsung menyela.
“…Itu bukan pujian.”
Kimo melompat maju.
Pedang iblisnya menyala terang.
CLASH
Benturan kali ini jauh lebih kuat.
Arkhavel terdorong mundur beberapa meter.
Matanya melebar sedikit.
“…Kekuatan itu.”
Kimo tertawa.
“Lumayan kan?”
Miro berkata pelan.
“…Aku juga tidak mengerti kenapa ini terjadi.”
Pertarungan berlanjut cepat.
Chero menyerang dari bayangan.
Miren membantu menahan serangan sihir Arkhavel.
Avery memperkuat sihir dukungan.
Lou menutup jalur energi musuh.
Party Kimo akhirnya bekerja bersama dengan sempurna.
Arkhavel mulai terdesak.
Dia melompat mundur ke dekat pintu reruntuhan.
“Cukup.”
Semua berhenti.
Kimo menatapnya.
“Kamu kabur?”
Arkhavel tersenyum tipis.
“Tidak.”
“Aku hanya sudah mendapatkan informasi yang cukup.”
Dia menatap pedang iblis itu.
“Raynomiro…”
“Kekaisaran akan tertarik pada keberadaanmu.”
Miro menjawab dingin.
“…Silakan mencoba.”
Arkhavel lalu menghilang dalam lingkaran teleportasi.
Reruntuhan kembali sunyi.
Energi merah di pedang Kimo perlahan mereda.
Kimo menurunkan pedangnya.
Cahaya iblis berubah kembali menjadi wujud manusia.
Miro muncul lagi berdiri di sampingnya.
Dia terlihat sedikit kelelahan.
Kimo meliriknya.
“Kamu oke?”
Miro mengangguk kecil.
“…Ya.”
Chero mendekat sambil tersenyum.
“Wah.”
“Bocah ini ternyata senjata rahasia.”
Miro langsung menjawab sarkas.
“…Aku akan memakan jiwamu dulu kalau kontrak ini selesai.”
Chero langsung mundur dua langkah.
“Maaf.”
Avery memegang dokumen kuno itu lagi.
“Sekarang kita tahu sesuatu yang penting.”
Miren bertanya.
“Apa?”
Avery menatap Miro.
“Raynomiro kemungkinan besar…”
“…adalah kunci untuk menghancurkan inti sihir Therarus.”
Semua terdiam sebentar.
Kimo tersenyum santai.
“Bagus.”
“Berarti kita sudah satu langkah lebih dekat.”
Miro menatapnya sebentar.
“…Kamu selalu optimis.”
Kimo menjawab ringan.
“Kalau tidak begitu, petualangan jadi membosankan.”
Miro memutar mata.
“…Manusia aneh.”
Namun dia tidak menyangkalnya.
Bab 21 — Kota di Bawah Bayangan Therarus
Langit sore berwarna jingga ketika party Kimo tiba di sebuah kota besar di perbatasan.
Gerbang batu tinggi berdiri kokoh.
Di atasnya berkibar bendera hitam Therarus.
Para prajurit berjaga dengan wajah dingin.
Penduduk kota berjalan cepat dengan kepala tertunduk.
Tidak ada tawa.
Tidak ada keramaian.
Hanya ketakutan.
Kimo melihat sekeliling.
“…Suram juga tempatnya.”
Chero berbisik.
“Ya jelas.”
“Ini kota yang dikuasai langsung oleh Therarus.”
Miren menyilangkan tangan.
“Kita harus hati-hati.”
Lou menambahkan pelan.
“…Terlalu banyak penyihir penjaga.”
Avery membuka dokumen kuno.
“Menurut catatan ini…”
“…fragmen inti sihir Therarus disimpan di kota seperti ini.”
Kimo tersenyum.
“Berarti kita datang ke tempat yang tepat.”
Miro yang berdiri di sampingnya langsung menjawab sarkas.
“…Atau tempat yang sangat salah.”
Mereka berjalan melewati pasar kota.
Semua orang terlihat tegang.
Tiba-tiba Chero berhenti.
“Eh.”
Dia menunjuk sebuah papan besar di dinding.
Beberapa poster buronan tertempel di sana.
Kimo melihatnya.
Lalu dia langsung tertawa.
“Wow.”
Poster itu menampilkan wajahnya lagi.
Tapi kali ini hadiahnya lebih besar.
150.000 koin emas
Chero bersiul.
“Kamu naik level.”
Miro melirik poster itu.
“…Gambarnya masih jelek.”
Kimo menunjuk Miro.
“Eh lihat, kamu juga ada.”
Semua langsung melihat.
Di samping gambar Kimo ada tulisan:
“Makhluk misterius yang diduga iblis kontrak.”
Miro terlihat sangat kesal.
“…Mereka bahkan tidak tahu aku siapa.”
Chero menyeringai.
“Bocah misterius.”
Miro menatapnya tajam.
“…Aku benar-benar akan memakan jiwamu suatu hari.”
Chero langsung mundur.
“Oke santai.”
Avery berbicara pelan.
“Kita harus fokus.”
Dia menunjuk menara besar di tengah kota.
“Energi sihir kuat datang dari sana.”
Lou mengangguk.
“…Itu pasti tempat fragmen inti.”
Miren berkata serius.
“Masalahnya penjagaannya pasti ketat.”
Kimo mengangkat tangan.
“Aku punya ide.”
Semua langsung menatapnya.
Beberapa detik hening.
Lalu Chero berkata pelan.
“…Aku sudah takut.”
Kimo tersenyum lebar.
“Kita menyelinap.”
Miro langsung menjawab cepat.
“…Itu bukan ide.”
Kimo menunjuk Chero.
“Dia bisa menyelinap.”
Chero mengangguk bangga.
“Benar.”
Kimo menunjuk Lou.
“Kamu bisa ganggu sistem sihir mereka.”
Lou mengangguk.
“…Mungkin.”
Kimo menunjuk Miren dan Avery.
“Kalian bantu dari luar.”
Miren bertanya.
“…Dan kamu?”
Kimo tersenyum santai.
“Aku masuk langsung.”
Semua langsung berteriak bersamaan.
“ITU BUKAN MENYELINAP!”
Miro memegang dahinya.
“…Aku mengerti sekarang kenapa dia jadi buronan.”
Malam akhirnya turun.
Menara sihir Therarus berdiri tinggi di tengah kota.
Cahaya biru dari lingkaran sihir berputar di puncaknya.
Di dalamnya…
tersimpan fragmen inti sihir pertama.
Di atap bangunan dekat menara…
Party Kimo berkumpul.
Chero memeriksa jalur penjaga.
“Dua puluh prajurit.”
Lou melihat aliran energi sihir.
“…Ada penghalang sihir juga.”
Avery berkata pelan.
“Kita harus menghancurkan fragmen itu.”
Miren menatap Kimo.
“Kalau tidak, Therarus akan terus punya kekuatan.”
Kimo tersenyum.
“Baiklah.”
Dia menoleh ke Miro.
“Miro.”
Miro mendengus kecil.
“…Aku sudah tahu.”
Kimo mengangkat tangannya.
“RAYNOMIRO.”
Tubuh Miro berubah menjadi cahaya merah.
Pedang iblis muncul di tangan Kimo lagi.
Namun sebelum mereka bergerak…
Di kejauhan…
Seorang pria berjubah hitam mengawasi mereka dari menara lain.
Dia berbicara pelan kepada burung sihir di tangannya.
“Laporkan ke kekaisaran.”
“Kimo dan Raynomiro sudah tiba.”
Burung sihir itu terbang menuju langit malam.
Di istana Therarus…
Kaisar Voldnt menerima laporan itu.
Dia tersenyum tipis.
“Akhirnya.”
Dia berdiri dari singgasananya.
“Permainan sebenarnya akan dimulai.”
Bab 22 — Penyusupan Menara Therarus
Malam semakin gelap.
Menara Therarus berdiri tinggi di tengah kota seperti bayangan raksasa.
Cahaya biru dari lingkaran sihir berputar di puncaknya.
Di dalamnya…
tersimpan fragmen inti sihir pertama.
Di atap bangunan seberang menara, party Kimo bersiap.
Chero mengintip dari tepi atap.
“Dua puluh lima penjaga sekarang.”
Lou melihat aliran sihir yang mengelilingi menara.
“…Penghalang energi juga semakin kuat.”
Miren menyilangkan tangan.
“Masuk diam-diam tidak akan mudah.”
Avery membuka catatan dokumen kuno.
“Fragmen inti ada di ruang atas.”
Kimo menepuk tangannya pelan.
“Baiklah.”
Semua menoleh ke arahnya.
Kimo menunjuk menara.
“Aku masuk.”
Miro langsung berkata dari sampingnya.
“…Kamu selalu begitu.”
Chero menambahkan sambil tertawa kecil.
“Dia alergi rencana normal.”
Kimo menyeringai.
“Justru itu yang membuat kita hidup.”
Miro mendengus.
“…Kadang aku ragu soal itu.”
Beberapa menit kemudian…
Chero dan Lou mulai bergerak lebih dulu.
Chero menghilang dalam bayangan, menyelinap melewati penjaga.
Lou menekan tongkat sihirnya ke tanah.
Lingkaran sihir kecil muncul.
“…Aku ganggu sistem sihir mereka sebentar.”
Cahaya biru di menara berkedip sedikit.
Avery berbisik.
“Sekarang!”
Kimo langsung melompat dari atap.
Dia mendarat tepat di balkon menara.
THUD
Seorang penjaga langsung menoleh.
“Ada penyusup—”
CLANG
Kimo memukulnya dengan gagang pedang sebelum dia selesai bicara.
Penjaga itu pingsan.
Kimo tersenyum puas.
“Berhasil.”
Suara Miro terdengar pelan di sampingnya dalam wujud manusia.
“…Itu bukan menyelinap.”
Kimo mengangkat bahu.
“Setengah menyelinap.”
Miro memutar mata.
“…Aku tidak tahu kenapa aku masih ikut.”
Kimo menoleh sambil tersenyum.
“Karena kamu suka petualangan.”
Miro langsung menjawab cepat.
“…Tidak.”
Namun dia tetap berjalan di sampingnya.
Mereka masuk ke dalam menara.
Lorong batu panjang dipenuhi simbol sihir Therarus.
Energi biru mengalir di sepanjang dinding.
Lou berbicara melalui kristal komunikasi kecil.
“Penghalang utama ada di lantai atas.”
Miren menambahkan.
“Penjaga semakin banyak.”
Chero tertawa kecil dari kristal lain.
“Dan mereka mulai curiga.”
Kimo berkata santai.
“Bagus.”
Miro menatapnya.
“…Kenapa ‘bagus’?”
Kimo menyeringai.
“Karena berarti kita hampir sampai.”
Saat mereka naik tangga menara…
Tiba-tiba alarm sihir berbunyi.
WOOOOOM
Lampu sihir merah menyala.
Chero berseru dari kristal.
“Uh… mungkin aku ketahuan.”
Miren langsung berkata.
“Kimo, cepat!”
Penjaga mulai berlari dari berbagai arah.
Miro mendengus.
“…Ini berubah jadi pertempuran.”
Kimo mengangkat tangannya.
“Miro.”
Miro langsung tahu maksudnya.
“…Ya.”
Kimo tersenyum lebar.
“RAYNOMIRO.”
Cahaya merah menyala.
Pedang iblis muncul di tangan Kimo.
Energi iblis memenuhi lorong menara.
Kimo menyerang cepat.
CLANG — CLANG
Beberapa penjaga langsung terpental.
Namun semakin banyak prajurit datang.
Miren dan Avery akhirnya masuk dari pintu samping untuk membantu.
Chero meluncur dari atas tangga sambil tertawa.
“Pesta dimulai!”
Lou juga muncul dengan lingkaran sihir besar.
“…Kita tidak punya waktu lama.”
Akhirnya mereka mencapai ruang atas.
Di tengah ruangan…
melayang sebuah kristal biru besar.
Fragmen inti sihir Therarus.
Energinya berputar kuat.
Avery berbisik kagum.
“…Itu dia.”
Lou berkata serius.
“Kita harus menghancurkannya.”
Kimo melangkah maju.
Namun tiba-tiba—
BOOOOM
Pintu ruangan hancur.
Puluhan penyihir Therarus masuk.
Di depan mereka berdiri seorang komandan besar.
Dia menunjuk Kimo.
“Buronan kerajaan.”
Kimo menghela napas.
“Kenapa semua orang mengenalku sekarang.”
Miro berkata sarkas.
“…Karena kamu mencolok.”
Pertarungan besar pun pecah.
Sihir biru dan merah memenuhi ruangan.
Party Kimo bertarung sekuat tenaga.
Namun jumlah musuh terlalu banyak.
Lou terkena serangan sihir dan terpental.
Chero tertahan oleh tiga penyihir sekaligus.
Miren dan Avery mulai kelelahan.
Kimo mencoba mendekati kristal inti.
Namun komandan Therarus menghantamnya dengan sihir besar.
BOOOOM
Kimo terpental keras ke dinding.
Pedang iblisnya jatuh.
Miro kembali ke wujud manusia dan berlutut di sampingnya.
“…Kimo!”
Debu memenuhi ruangan.
Kimo hampir tidak bisa berdiri.
Musuh semakin mendekat.
Komandan Therarus berkata dingin.
“Perlawanan kalian berakhir di sini.”
Miro mengepalkan tangannya.
“…Sial.”
Kimo menunduk, napasnya berat.
Suara kebakaran dan teriakan tiba-tiba muncul di kepalanya.
Seperti kenangan lama.
Api.
Jeritan orang-orang.
Sebuah panti asuhan yang terbakar.
Dan seorang penyihir muda berdiri melindungi mereka.
Nama itu muncul di pikirannya.
Leand.
Di kejauhan dalam ingatan…
Leand berkata dengan suara hangat:
“Suatu hari nanti kamu akan jadi penyihir hebat, Kimo.”
Kimo perlahan mengangkat kepalanya.
Matanya mulai menyala lagi.
Miro menatapnya.
“…Jangan bilang kamu masih mau berdiri.”
Kimo tersenyum lemah.
“Belum selesai.”
Miro menghela napas.
“…Kamu benar-benar keras kepala.”
Kimo berdiri perlahan.
Dan untuk pertama kalinya…
matanya terlihat sangat serius.
“Therarus…”
“…aku belum membalas semuanya.”
Bab 23 — Api Masa Lalu
Debu memenuhi ruang menara.
Kimo terjatuh bersandar pada dinding batu yang retak.
Napasnya berat.
Di depan mereka, komandan Therarus dan para penyihir mulai mendekat.
Miren masih mencoba menahan mereka.
Avery membantu Lou yang terluka.
Chero berteriak sambil menahan dua penjaga.
“Kimo! Bangun!”
Namun suara mereka terasa jauh bagi Kimo.
Pandangan Kimo mulai kabur.
Dan perlahan…
sebuah kenangan lama muncul di pikirannya.
Bertahun-tahun yang lalu
Langit desa kecil itu cerah.
Rumah-rumah kayu berdiri rapi.
Di tengah desa ada sebuah panti asuhan kecil.
Seorang anak perempuan berambut merah muda berlari di halaman.
“Kak Leand! Kak Leand!”
Seorang pemuda berambut cokelat tertawa sambil duduk di bawah pohon.
Namanya Leand.
Penyihir muda yang terkenal di desa itu.
Dia tersenyum melihat anak kecil itu.
“Kimo, kamu lari lagi.”
Kimo berhenti di depannya dengan wajah penuh semangat.
“Aku berhasil!”
Leand tertawa kecil.
“Berhasil apa?”
Kimo mengangkat tangannya.
Api kecil muncul di telapak tangannya.
Nyala api kecil itu menari pelan.
“Lihat!”
Leand terlihat terkejut… lalu bangga.
“Wah.”
“Kamu benar-benar berbakat.”
Kimo langsung berbinar.
“Benarkah?!”
Leand mengangguk.
“Tentu saja.”
Dia menepuk kepala Kimo dengan lembut.
“Kalau kamu terus berlatih… suatu hari kamu bisa menjadi penyihir hebat.”
Kimo tersenyum lebar.
“Seperti Kak Leand!”
Leand tertawa.
“Hmm… mungkin lebih hebat.”
Anak-anak lain di panti asuhan juga ikut berlari mendekat.
Mereka tertawa bersama.
Hari-hari itu sederhana.
Tapi hangat.
Namun suatu malam…
Langit desa berubah merah.
Api menyala di mana-mana.
Penduduk berlari panik.
Bendera hitam Therarus berkibar di langit.
Prajurit Therarus memasuki desa.
Suara ledakan sihir mengguncang tanah.
Panti asuhan mulai terbakar.
Anak-anak menangis ketakutan.
Kimo gemetar di sudut ruangan.
“Kak Leand…?”
Leand berdiri di depan pintu.
Tangannya dipenuhi lingkaran sihir.
Dia terlihat sangat serius.
“Kimo.”
Suaranya lembut tapi tegas.
“Kamu harus pergi ke hutan.”
Kimo menggeleng panik.
“Tidak! Aku mau tetap di sini!”
Leand berlutut di depannya.
Dia memegang bahu Kimo.
“Kimo… dengarkan aku.”
Suara ledakan terdengar di luar.
Leand menatapnya dengan mata penuh tekad.
“Aku akan menahan mereka.”
Kimo mulai menangis.
“Tidak! Kak Leand ikut denganku!”
Leand tersenyum pelan.
“Kalau semua orang lari…”
“…siapa yang melindungi desa ini?”
Kimo menggigit bibirnya.
Air matanya jatuh.
Leand menepuk kepala Kimo sekali lagi.
“Saat kamu besar nanti…”
“…jadilah penyihir yang melindungi orang lain.”
Dia berdiri dan membuka pintu belakang.
“Sekarang lari.”
Kimo masih ragu.
Namun akhirnya dia berlari keluar menuju hutan.
Dari kejauhan…
dia melihat Leand berdiri sendirian menghadapi pasukan Therarus.
Lingkaran sihir besar menyala di langit.
Api dan cahaya bertabrakan.
Namun jumlah musuh terlalu banyak.
Desa itu akhirnya dilahap api.
Kimo bersembunyi di balik pohon di hutan.
Air matanya tidak berhenti.
Dia melihat desa yang dulu hangat…
sekarang hanya lautan api.
Dan Leand…
tidak pernah kembali.
Malam itu…
Kimo mengepalkan tangannya dengan marah.
“Aku akan menghentikan mereka…”
“…Therarus.”
Kembali ke masa sekarang
Debu masih memenuhi ruang menara.
Kimo perlahan membuka matanya.
Kenangan itu masih terasa jelas.
Miro berlutut di sampingnya.
“…Kimo.”
Kimo perlahan berdiri.
Walaupun tubuhnya gemetar.
Miro menatapnya.
“…Kenapa kamu masih berdiri.”
Kimo tersenyum kecil.
“Karena…”
“…aku sudah berjanji.”
Miro terdiam.
Untuk pertama kalinya…
dia melihat sisi Kimo yang tidak bercanda.
Kimo mengambil pedang iblisnya lagi.
Matanya menyala dengan tekad.
“Therarus mengambil segalanya dariku.”
Dia menatap kristal inti sihir di tengah ruangan.
“Tapi kali ini…”
“…aku yang akan mengambil kekuatan mereka.”
Miro menarik napas pelan.
Lalu dia berkata dengan suara lebih tenang dari biasanya.
“…Kalau begitu.”
“Jangan mati dulu.”
Kimo tertawa kecil.
“Tenang.”
“Petualangan kita belum selesai.”
Bab 24 — Fragmen Pertama Hancur
Debu masih beterbangan di ruangan puncak menara.
Komandan Therarus berjalan mendekat dengan tenang.
“Masih berdiri juga?”
Di belakangnya, para penyihir kerajaan sudah menyiapkan lingkaran sihir.
Energi biru memenuhi ruangan.
Miren mencoba bangkit.
“Sial… terlalu banyak…”
Lou memegang bahunya yang terluka.
“…Kita kehabisan waktu.”
Chero masih menahan dua penjaga di sisi ruangan.
“Kalau ada ide hebat sekarang saatnya!”
Avery berteriak panik.
“Kimo!”
Namun Kimo sudah berdiri.
Matanya tidak lagi ceroboh seperti biasanya.
Dia menggenggam pedang iblisnya dengan kuat.
Di sampingnya, Miro berdiri dalam wujud manusia, menatapnya.
“…Kamu terlihat berbeda.”
Kimo tersenyum kecil.
“Baru ingat kenapa aku mulai semua ini.”
Miro memutar mata sedikit.
“…Kamu baru ingat sekarang?”
Kimo tertawa pelan.
“Kadang aku pelupa.”
Miro menghela napas.
“…Manusia aneh.”
Namun kali ini suaranya terdengar… sedikit lebih lembut.
Komandan Therarus mengangkat tangannya.
“Serang.”
Puluhan lingkaran sihir muncul di udara.
Serangan energi biru meluncur menuju mereka.
BOOOOM
Kimo melompat maju.
Pedang iblisnya menebas serangan itu.
Energi merah dan biru bertabrakan keras.
Lantai batu retak.
Miro berseru dari sampingnya.
“…Langsung ke inti!”
Kimo mengangguk.
“Baik!”
Dia berlari menuju kristal biru di tengah ruangan.
Namun komandan Therarus menghadangnya.
“Tidak akan kubiarkan.”
Dia mengangkat pedangnya.
Energi sihir besar meledak.
CLANG
Pedang mereka bertabrakan.
Gelombang energi mengguncang seluruh ruangan.
Komandan Therarus menyeringai.
“Kamu kuat.”
“Tapi masih terlalu lemah untuk melawan kekaisaran.”
Kimo menjawab santai.
“Ya… mungkin.”
Lalu dia tersenyum.
“Tapi aku tidak sendirian.”
Tiba-tiba bayangan muncul di belakang komandan.
Chero muncul dari bayangan.
“Surprise!”
WHACK
Dia menghantam komandan dari belakang.
Komandan terpental beberapa langkah.
Miren langsung menembakkan sihir angin.
Avery memperkuatnya dengan lingkaran sihir.
Lou menutup jalur energi komandan.
Party Kimo akhirnya menyerang bersama.
Komandan Therarus terdorong mundur.
Kimo berlari ke arah kristal inti.
Energinya sangat kuat.
Cahaya biru berputar di sekelilingnya.
Miro tiba-tiba berkata pelan.
“…Tunggu.”
Kimo berhenti.
“Apa?”
Miro menatap kristal itu.
“…Energinya sama dengan yang di reruntuhan kemarin.”
Kimo mengangkat alis.
“Jadi?”
Miro menarik napas.
“…Gunakan aku.”
Kimo menyeringai.
“Memang itu rencananya.”
Miro langsung kesal.
“…Bukan begitu maksudku.”
“Biarkan aku resonansi langsung dengan inti itu.”
Kimo terdiam.
“Berbahaya?”
Miro menjawab cepat.
“…Ya.”
Kimo langsung berkata santai.
“Oke.”
Miro menatapnya kesal.
“…Kamu tidak ragu sedikit pun?”
Kimo tersenyum.
“Percaya sama kamu.”
Miro diam beberapa detik.
Lalu dia mendengus pelan.
“…Manusia bodoh.”
Kimo mengangkat pedangnya tinggi.
“Miro.”
Cahaya merah menyala semakin terang.
Energi iblis mulai beresonansi dengan kristal inti.
Seluruh ruangan bergetar.
Simbol sihir di dinding mulai retak.
Avery berteriak.
“Energinya tidak stabil!”
Lou menambahkan.
“…Cepat!”
Komandan Therarus mencoba bangkit lagi.
“Berhenti!”
Namun Chero langsung menahannya.
“Maaf, jadwalmu penuh hari ini.”
Energi merah dan biru mulai bercampur.
Miro berseru dari pedang.
“…Sekarang!”
Kimo melompat.
Dan dengan seluruh kekuatannya—
CRASH
Pedang iblis menghantam kristal inti.
Beberapa detik sunyi.
Lalu—
BOOOOOOM
Kristal itu retak.
Cahaya biru meledak ke segala arah.
Fragmen inti Therarus hancur berkeping-keping.
Gelombang energi menyapu seluruh menara.
Para penyihir Therarus terpental.
Komandan mereka jatuh tak berdaya.
Cahaya biru di seluruh menara… padam.
Beberapa detik kemudian…
Debu perlahan turun.
Kimo berdiri di tengah ruangan yang hancur.
Pedang iblisnya kembali berubah menjadi Miro.
Miro berdiri di sampingnya.
Dia terlihat sedikit kelelahan.
Kimo tersenyum lebar.
“Kita berhasil.”
Chero berteriak dari belakang.
“FRAGMENNYA HANCUR!”
Miren menghela napas lega.
Avery hampir menangis.
Lou hanya berkata pelan.
“…Satu langkah lagi.”
Miro menatap pecahan kristal di lantai.
“…Ini baru satu.”
Kimo mengangguk.
“Masih ada inti utama.”
Miro menatapnya sebentar.
“…Dan Kaisar Therarus.”
Kimo tersenyum santai lagi.
“Yup.”
Chero menyeringai.
“Petualangan kita belum selesai.”
Miro memutar mata.
“…Tentu saja belum.”
Namun kali ini…
dia tidak terdengar keberatan.
Bab 25 — Kaisar Mulai Bergerak
Malam di kota perbatasan terasa berbeda.
Menara Therarus yang dulu bersinar biru kini gelap.
Penduduk kota keluar dari rumah mereka dengan hati-hati.
Mereka melihat menara itu.
Cahaya sihir yang selama ini menindas mereka… sudah hilang.
Seorang wanita tua berbisik pelan.
“…Therarus… kalah?”
Di atap bangunan dekat menara…
Party Kimo berkumpul.
Chero bersandar sambil tertawa.
“Wow.”
“Kita benar-benar menghancurkannya.”
Miren menatap menara itu.
“Pengaruh sihirnya benar-benar hilang.”
Lou mengangguk pelan.
“…Fragmen itu memang sumber kekuatan mereka di kota ini.”
Avery memegang dokumen kuno.
“Masih ada inti utama di ibu kota Therarus.”
Kimo meregangkan tubuhnya.
“Berarti tujuan kita makin dekat.”
Miro berdiri di sampingnya dengan tangan di saku.
“…Dan masalah kita makin besar.”
Kimo menoleh sambil tersenyum.
“Takut?”
Miro langsung menjawab cepat.
“…Tidak.”
Chero menyela sambil menyeringai.
“Tsundere.”
Miro menatapnya dingin.
“…Aku akan memakan jiwamu duluan.”
Chero langsung mundur dua langkah.
“Bercanda.”
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara orang-orang.
Penduduk kota mulai berkumpul.
Seorang pria mendekat dengan hati-hati.
“…Kalian yang menghancurkan menara itu?”
Party Kimo saling melihat.
Kimo mengangkat tangan santai.
“Yup.”
Beberapa orang langsung terkejut.
Seorang anak kecil berkata kagum.
“Penyihir rambut pink itu!”
Chero tertawa.
“Kamu benar-benar terkenal.”
Miro melihat poster buronan yang masih menempel di dinding.
“…Terkenal dengan cara yang buruk.”
Namun penduduk kota mulai tersenyum.
Beberapa dari mereka membungkuk.
“Terima kasih.”
Miren terlihat sedikit terkejut.
Avery tersenyum kecil.
Lou hanya mengangguk.
Kimo terlihat canggung.
“Uh… sama-sama?”
Namun jauh dari sana…
Di ibu kota Therarus.
Istana hitam menjulang tinggi di tengah kota.
Di dalam ruang singgasana…
Kaisar Voldnt menerima laporan baru.
Seorang penyihir kerajaan berlutut.
“Laporan dari kota perbatasan.”
“Fragmen inti… telah dihancurkan.”
Ruangan menjadi sunyi.
Beberapa jenderal terlihat tegang.
Namun Kaisar Voldnt hanya tersenyum tipis.
“Begitu.”
Dia berdiri perlahan dari singgasananya.
Aura sihirnya memenuhi ruangan.
“Jadi penyihir kecil itu akhirnya mencapai tahap ini.”
Dia berjalan menuju jendela besar.
Di luar terlihat kota Therarus yang luas.
“Baik.”
Dia menoleh ke para jenderalnya.
“Kirim pemburu elit kekaisaran.”
Seorang jenderal terkejut.
“Pasukan elit?”
Voldnt mengangguk.
“Mereka bukan musuh biasa.”
Matanya bersinar dingin.
“Terutama iblis bernama Raynomiro itu.”
Kembali ke kota perbatasan…
Party Kimo sudah berjalan keluar kota.
Langit pagi mulai terang.
Miren melihat peta.
“Kita harus menuju wilayah selatan.”
Lou mengangguk.
“…Ada petunjuk tentang lokasi jalur menuju ibu kota Therarus.”
Avery menambahkan.
“Namun perjalanan itu akan berbahaya.”
Chero tersenyum.
“Bukannya semua perjalanan kita memang begitu?”
Kimo tertawa.
“Benar juga.”
Miro berjalan di sampingnya.
“…Aku punya firasat buruk.”
Kimo meliriknya.
“Sejak kapan iblis punya firasat?”
Miro menjawab datar.
“…Sejak aku terikat denganmu.”
Kimo tertawa keras.
Namun di puncak tebing jauh di belakang mereka…
Tiga sosok berjubah hitam mengawasi.
Mata mereka bersinar dengan energi sihir Therarus.
Salah satu dari mereka berkata pelan.
“Itu dia.”
“Target: Kimo… dan iblis kontraknya.”
Sosok kedua menyeringai.
“Menarik.”
Sosok ketiga hanya berkata singkat.
“…Mari kita mulai perburuan.”
Bab 26 — Pemburu Kekaisaran
Angin pegunungan bertiup dingin.
Party Kimo sedang berjalan melalui jalan hutan yang sempit menuju wilayah selatan.
Pepohonan tinggi menutupi langit.
Burung-burung terbang menjauh dari cabang-cabang.
Suasana terasa… terlalu sunyi.
Miren tiba-tiba berhenti.
“…Ada yang aneh.”
Lou juga berhenti berjalan.
“…Aku merasakan sihir.”
Avery menoleh cepat.
“Dari mana?”
Chero melihat ke sekitar dengan waspada.
“Sejak kapan hutan jadi sesepi ini?”
Kimo masih berjalan santai di depan.
“Tenang saja—”
Tiba-tiba Miro memegang bahunya.
“…Berhenti.”
Kimo menoleh.
“Hm?”
Miro menatap pepohonan di sekitar mereka.
Matanya menyipit.
“…Kita tidak sendirian.”
CLANG
Sebuah panah sihir melesat dari hutan.
Kimo langsung menangkisnya dengan pedang.
Panah itu meledak menjadi cahaya biru.
Chero melompat mundur.
“Serangan!”
Dari atas pohon…
tiga sosok berjubah hitam muncul.
Aura sihir mereka terasa berat.
Salah satu dari mereka berbicara dengan suara tenang.
“Target ditemukan.”
Yang kedua tersenyum tipis.
“Penyihir rambut merah muda.”
Yang ketiga menatap Miro.
“…Dan iblisnya.”
Miren mengangkat senjatanya.
“Siapa kalian?”
Sosok pertama menjawab.
“Kami adalah Pemburu Kekaisaran Therarus.”
Lou bergumam pelan.
“…Pasukan elit.”
Chero menghela napas.
“Wah.”
“Langsung yang level boss.”
Kimo menatap mereka sambil tersenyum santai.
“Kalian fans juga?”
Salah satu pemburu menjawab datar.
“Kami pembunuh.”
Miro langsung berkata dari sampingnya.
“…Jawaban yang jujur.”
Kimo menoleh.
“Agak kasar ya.”
Miro mendengus.
“…Ini bukan acara sosial.”
Pemburu pertama melompat turun dari pohon.
Dia mengeluarkan dua belati sihir.
Pemburu kedua mengangkat tongkat sihir panjang.
Pemburu ketiga hanya berdiri diam.
Namun aura sihirnya paling berat.
Chero berbisik.
“Aku tidak suka yang diam itu.”
Lou mengangguk.
“…Yang itu paling kuat.”
Pemburu pertama menyerang secepat kilat.
CLANG
Belatinya bertabrakan dengan pedang Kimo.
Kimo terdorong mundur sedikit.
“Cepat juga.”
Miro berkata dari sampingnya.
“…Dia memang pemburu.”
Sementara itu pemburu kedua melepaskan sihir besar.
Lingkaran sihir biru muncul di udara.
Puluhan tombak energi meluncur ke arah party.
Avery langsung membuat penghalang.
Miren membantu memperkuatnya.
Lou mencoba mengacaukan aliran sihir.
Namun serangannya sangat kuat.
BOOOM
Tanah di sekitar mereka hancur.
Chero muncul dari bayangan di belakang pemburu pertama.
“Surprise!”
Dia mencoba menyerang.
Namun pemburu itu langsung berbalik dan menangkis.
Chero terpental.
“Wah.”
“Refleksnya gila.”
Kimo mulai serius.
“Miro.”
Miro langsung menjawab.
“…Aku tahu.”
Kimo mengangkat tangannya.
“RAYNOMIRO.”
Cahaya merah meledak.
Pedang iblis muncul kembali.
Energi iblis menyelimuti Kimo.
Namun pemburu ketiga akhirnya bergerak.
Dia mengangkat tangannya.
Lingkaran sihir hitam muncul.
Energi berat menekan seluruh area.
Semua orang langsung merasa tubuh mereka lebih berat.
Lou terkejut.
“…Sihir gravitasi.”
Chero hampir jatuh berlutut.
“Ini curang!”
Pemburu itu menatap Miro.
“Target utama: iblis kontrak.”
Miro menatap balik dengan dingin.
“…Coba saja.”
Namun Kimo bisa merasakan sesuatu.
Energi sihir mereka berbeda dari pasukan Therarus biasa.
Mereka memang dibuat khusus…
untuk memburu orang seperti mereka.
Pemburu pertama menyeringai.
“Kalian sudah menghancurkan satu fragmen.”
Pemburu kedua melanjutkan.
“Namun perjalanan kalian…”
“…berakhir di sini.”
Kimo tersenyum lebar.
“Ah.”
“Masalah lagi.”
Miro berkata sarkas dari pedangnya.
“…Aku sudah bilang.”
Di belakang mereka…
party Kimo mulai bersiap bertarung lagi.
Namun kali ini…
musuh mereka jauh lebih berbahaya.
\
Bab 27 — Perburuan di Hutan
Hutan yang tadinya sunyi sekarang berubah jadi medan pertempuran.
Tanah retak.
Pohon-pohon patah.
Energi sihir biru dan merah saling bertabrakan di udara.
Di tengah kekacauan itu…
Kimo berdiri dengan pedang iblisnya menyala merah.
Di depannya, pemburu elit Therarus pertama menyerang dengan dua belati sihir.
CLANG!
Percikan cahaya meledak saat pedang Kimo menangkis serangan itu.
Kimo mundur satu langkah.
“Cepat juga.”
Suara Miro terdengar dari pedang.
“…Dia memang pemburu elit.”
Pemburu itu tersenyum tipis.
“Kamu cukup kuat.”
“Tapi itu tidak cukup.”
Di sisi lain medan pertempuran…
Pemburu kedua mengangkat tongkat sihirnya tinggi.
Lingkaran sihir besar muncul di langit.
Puluhan tombak energi meluncur ke bawah.
Avery berteriak.
“Serangan area!”
Miren langsung mengangkat sihir angin.
Lou membantu memperkuat penghalang.
BOOOOM
Ledakan menghantam tanah di sekitar mereka.
Debu dan cahaya memenuhi hutan.
Chero muncul dari balik bayangan sambil batuk.
“Uh… mereka benar-benar serius.”
Pemburu ketiga berdiri diam di tengah medan.
Tangannya masih terangkat.
Energi sihir gravitasi menekan seluruh area.
Tubuh semua orang terasa berat.
Lou menggertakkan giginya.
“…Sihir gravitasi seperti ini jarang ada.”
Miren mencoba berdiri tegak.
“Dia menahan gerakan kita.”
Chero menggerutu.
“Ini benar-benar curang.”
Kimo mencoba melompat menyerang lagi.
Namun gerakannya terasa lebih lambat.
Pemburu pertama langsung menyerang balik.
CLANG
Belatinya hampir mengenai bahu Kimo.
Miro berseru.
“…Kiri!”
Kimo cepat menangkis.
Percikan energi beterbangan.
Kimo tersenyum sedikit.
“Terima kasih.”
Miro menjawab cepat.
“…Aku tidak ingin mati karena kesalahan bodohmu.”
Chero berteriak dari jauh.
“TSUNDERE!”
Miro langsung membalas.
“…DIAM!”
Pemburu ketiga akhirnya berbicara.
Suaranya rendah.
“Raynomiro.”
Miro menatapnya tajam.
“…Kamu tahu namaku?”
Pemburu itu mengangguk.
“Catatan kuno Therarus menyebut iblis resonansi.”
Kimo melirik pedangnya.
“Wah.”
“Jadi kamu memang terkenal.”
Miro mendengus.
“…Aku tidak bangga.”
Tiba-tiba pemburu gravitasi itu menurunkan tangannya.
Energi berat di hutan meningkat dua kali lipat.
Semua orang langsung tertekan ke tanah.
Lou hampir berlutut.
Avery kesulitan bernapas.
Chero jatuh terduduk.
“Ini… terlalu berat!”
Miren menggertakkan gigi.
“…Dia serius sekarang.”
Pemburu itu menatap langsung ke arah Kimo.
“Target utama.”
Dia mengangkat tangannya.
Lingkaran sihir hitam muncul tepat di atas Kimo.
Energi gravitasi raksasa jatuh ke arahnya.
WHOOOOOM
Tanah di bawah Kimo retak.
Kimo hampir tidak bisa bergerak.
Miro berseru.
“…Kimo!”
Pemburu itu berkata dingin.
“Berakhir.”
Namun Kimo tiba-tiba tertawa pelan.
Miro terkejut.
“…Kamu kenapa tertawa?!”
Kimo menyeringai.
“Karena…”
Dia mengangkat pedangnya perlahan.
“…aku tidak sendirian.”
Tiba-tiba—
Chero muncul dari bayangan tepat di belakang pemburu gravitasi.
“Gotcha!”
WHACK
Dia memukul kepala pemburu itu dengan gagang senjatanya.
Pemburu itu sedikit kehilangan fokus.
Energi gravitasi langsung melemah.
Lou langsung mengangkat tongkatnya.
Lingkaran sihir putih besar muncul.
“…Sekarang!”
Miren menembakkan badai angin kuat.
Avery memperkuatnya dengan sihir.
Serangan gabungan menghantam pemburu itu.
BOOOOM
Dia terpental beberapa meter.
Kimo akhirnya bebas dari tekanan gravitasi.
Dia mengangkat pedangnya lagi.
Miro berkata pelan.
“…Sekarang kesempatan kita.”
Kimo tersenyum lebar.
“Baik.”
Dia menatap para pemburu.
“Sekarang giliran kami.”
Bab 28 — Kerja Sama Party
Debu masih beterbangan di hutan.
Pemburu gravitasi yang tadi terpental perlahan berdiri kembali.
Matanya dingin.
“…Kerja sama yang bagus.”
Chero menyeringai dari balik bayangan.
“Tentu saja.”
“Kami party profesional.”
Miro langsung berkomentar dari pedang Kimo.
“…Profesional dalam membuat masalah.”
Kimo tertawa kecil.
“Detail kecil.”
Pemburu kedua mengangkat tongkat sihirnya lagi.
Lingkaran sihir biru raksasa muncul di udara.
Energi mulai berkumpul.
Lou langsung menyadari sesuatu.
“…Serangan besar.”
Avery panik.
“Kita harus menghentikannya!”
Miren mengangguk.
“Kalau itu dilepaskan, seluruh area ini bisa hancur.”
Kimo memutar pedangnya.
“Miro.”
Miro menjawab cepat.
“…Aku sudah tahu.”
Kimo menatap teman-temannya.
“Sekali lagi, kita lakukan bersama.”
Chero langsung tersenyum lebar.
“Akhirnya.”
“Strategi!”
Miren berkata tegas.
“Baik. Semua posisi.”
Pemburu pertama menyerang Kimo lagi.
Belatinya bergerak sangat cepat.
CLANG CLANG CLANG
Percikan energi berterbangan saat pedang iblis menangkis setiap serangan.
Kimo menyeringai.
“Kamu cepat.”
Pemburu itu menjawab dingin.
“Dan kamu terlalu lambat.”
Namun tiba-tiba—
Bayangan muncul di belakangnya.
Chero.
“Boo.”
Pemburu itu langsung berbalik menangkis.
Tapi itu sudah cukup untuk membuka celah.
“Sekarang!”
Lou mengangkat tongkatnya.
Lingkaran sihir putih besar muncul di tanah.
Energi sihir pemburu kedua mulai terganggu.
Avery membantu memperkuatnya.
“Pengalihan energi berhasil!”
Miren melompat tinggi.
Sihir angin berputar di sekitar tangannya.
“Jatuhlah!”
Dia melepaskan serangan badai kuat.
WHOOSH
Pemburu kedua terpental ke tanah sebelum serangannya selesai.
Lingkaran sihirnya hancur.
Pemburu gravitasi mencoba berdiri lagi.
Namun Kimo sudah berdiri di depannya.
Pedang iblis menyala terang.
Miro berkata pelan dari pedang.
“…Kiri.”
Kimo langsung bergerak.
CLASH
Pedangnya menghantam sihir gravitasi pemburu itu.
Energi merah dan hitam bertabrakan.
Tanah retak di sekitar mereka.
Pemburu itu terkejut.
“…Kekuatan iblis itu.”
Kimo tersenyum santai.
“Ya, dia lumayan.”
Miro langsung membalas.
“…‘Lumayan’ katanya.”
Pertarungan berlangsung cepat.
Dengan kerja sama penuh party…
para pemburu mulai terdesak.
Chero menahan pemburu pertama.
Miren dan Avery menekan pemburu kedua.
Lou terus mengganggu sihir gravitasi.
Kimo maju ke pemburu terakhir.
Pedangnya menyala merah terang.
Pemburu itu menyadari situasi mereka.
Dia mundur satu langkah.
“…Cukup.”
Pemburu lain juga berhenti.
Kimo mengangkat alis.
“Kabur?”
Pemburu itu menatapnya dingin.
“Kami sudah mendapatkan informasi yang cukup.”
Dia melirik Miro.
“Terutama tentang iblis itu.”
Miro membalas dengan tatapan dingin.
“…Sampaikan salamku pada kaisarmu.”
Lingkaran teleportasi muncul di bawah kaki mereka.
Cahaya biru menyala.
Dalam sekejap—
Para pemburu menghilang.
Hutan kembali sunyi.
Beberapa detik kemudian…
Chero menjatuhkan diri ke tanah.
“Wow.”
“Itu berat.”
Lou menghela napas panjang.
“…Pasukan elit Therarus.”
Miren menyarungkan senjatanya.
“Kalau mereka saja dikirim…”
“…berarti kita benar-benar dianggap ancaman.”
Avery melihat ke arah selatan.
“Ibu kota Therarus tidak jauh lagi.”
Kimo memasukkan pedangnya ke tanah sebentar.
Miro kembali ke wujud manusia di sampingnya.
Dia terlihat sedikit kesal.
“…Mereka terlalu tertarik padaku.”
Kimo menoleh.
“Terkenal itu berat ya.”
Miro mendengus.
“…Aku menyalahkanmu.”
Chero langsung berkata.
“Tsundere.”
Miro menatapnya tajam.
“…Aku serius.”
Chero langsung berdiri.
“Oke kita lanjut perjalanan.”
Kimo melihat ke arah selatan.
Di kejauhan…
langit terlihat lebih gelap.
Di sanalah ibu kota Therarus berada.
Tempat Kaisar Voldnt menunggu.
Kimo tersenyum kecil.
“Perjalanan terakhir.”
Miro berdiri di sampingnya.
“…Ya.”
Bab 29 — Gerbang Ibu Kota Therarus
Langit mulai berubah gelap ketika party Kimo mencapai dataran tinggi.
Di depan mereka…
terlihat sebuah kota raksasa.
Tembok hitam menjulang tinggi.
Menara-menara sihir berdiri seperti tombak yang menembus langit.
Di atasnya, lingkaran sihir raksasa berputar perlahan.
Itulah…
Ibu Kota Therarus.
Chero bersiul pelan.
“Wow.”
“Ini… besar sekali.”
Avery terlihat sedikit tegang.
“Energi sihirnya terasa sampai ke sini.”
Lou menyipitkan mata.
“…Penghalang sihir tingkat tinggi.”
Miren berkata pelan.
“Tidak heran banyak kerajaan tidak bisa melawannya.”
Kimo berdiri paling depan.
Rambut merah mudanya tertiup angin.
Dia menatap kota itu lama.
Miro berdiri di sampingnya dalam wujud manusia.
Tangannya dimasukkan ke kantong.
“…Jadi itu tujuanmu.”
Kimo tersenyum kecil.
“Iya.”
Chero menepuk bahu Kimo.
“Baiklah, kapten.”
“Strategi kita apa?”
Kimo menoleh.
“Strategi?”
Chero mengangguk.
“Iya.”
“Kita tidak bisa masuk begitu saja.”
Kimo berpikir sebentar.
Lalu berkata santai.
“…Kita menyelinap.”
Semua orang diam.
Beberapa detik kemudian—
Chero menatapnya.
“Itu saja?”
Kimo mengangkat bahu.
“Kadang rencana sederhana paling berhasil.”
Miro langsung menyela.
“…Rencana bodoh juga sederhana.”
Lou tertawa kecil.
Miren menunjuk ke arah kota.
“Lihat itu.”
Di luar tembok…
ada desa kecil yang terlihat rusak.
Rumah-rumahnya sebagian terbakar.
Penduduknya tampak ketakutan.
Avery mengerutkan dahi.
“Mereka… dipaksa bekerja.”
Lou mengangguk pelan.
“…Tambang energi sihir.”
Chero mengepalkan tangan.
“Therarus memang kejam.”
Kimo melihat desa itu.
Matanya berubah sedikit serius.
“…Kita mulai dari sana.”
Miro menoleh.
“Kamu masih mau menolong orang bahkan sekarang?”
Kimo tersenyum tipis.
“Tentu saja.”
“Itu bagian dari perjalanan.”
Beberapa jam kemudian…
party Kimo menyelinap mendekati desa.
Para penjaga Therarus terlihat berpatroli.
Mereka memakai armor hitam dengan simbol kekaisaran.
Chero berbisik.
“Jumlahnya lumayan.”
Lou berkata pelan.
“Ada menara pengawas juga.”
Kimo menatap Miro.
“Miro.”
Miro langsung menjawab.
“…Aku tahu.”
Kimo menyeringai.
“Siap jadi senjata?”
Miro menghela napas panjang.
“…Aku mulai terbiasa.”
Chero langsung berkata.
“Perkembangan karakter!”
Miro menatapnya datar.
“…Aku akan memukulmu nanti.”
Kimo mengangkat tangannya.
“RAYNOMIRO.”
Cahaya merah meledak lagi.
Miro berubah menjadi pedang iblis.
Energi iblis menyelimuti Kimo.
Pertarungan kecil terjadi cepat.
CLANG
Kimo menebas dua penjaga sekaligus.
Miren menjatuhkan menara pengawas dengan sihir angin.
Lou mengacaukan sistem alarm sihir.
Avery melindungi para penduduk.
Chero mengikat penjaga yang tersisa.
Dalam beberapa menit…
desa itu bebas.
Seorang pria tua mendekati mereka.
Matanya berkaca-kaca.
“Kalian… siapa?”
Kimo tersenyum santai.
“Hanya party petualang.”
Pria itu menatapnya lama.
“…Kami mendengar rumor.”
“Penyihir rambut merah muda.”
Semua orang menoleh ke Kimo.
Chero langsung menunjuk.
“Dia.”
Kimo mengeluh.
“Kenapa aku saja yang terkenal…”
Pria tua itu berkata pelan.
“Kaisar Voldnt sudah tahu tentangmu.”
Miren menegang.
“…Apa?”
Pria itu melanjutkan.
“Pasukan di ibu kota sedang bersiap.”
Lou bergumam.
“…Berarti mereka menunggu kita.”
Kimo memandang ke arah tembok raksasa Therarus lagi.
Miro kembali ke wujud manusia di sampingnya.
Dia berkata pelan.
“…Perang terakhir.”
Kimo mengangguk.
“Iya.”
Angin malam bertiup pelan.
Party itu berdiri menghadap kota besar.
Tempat semua perjalanan mereka…
akan berakhir.
Bab 30 — Api Perlawanan
Malam turun di desa kecil dekat ibu kota Therarus.
Api unggun kecil menyala di tengah desa.
Party Kimo duduk melingkar.
Semua terlihat lelah setelah perjalanan panjang.
Namun suasana malam itu terasa berbeda.
Sunyi… tapi penuh harapan.
Chero memecah keheningan.
“Jadi… besok kita menyerang ibu kota.”
Lou mengangguk pelan.
“Ya.”
Miren menatap peta yang digambar di tanah.
“Tembok luar dijaga sangat ketat.”
Avery berkata pelan.
“Dan menara sihir mereka bisa menghancurkan pasukan besar.”
Kimo hanya menatap api unggun.
Miro duduk di sampingnya dalam wujud manusia.
Dia menoleh sedikit.
“…Kamu tenang sekali.”
Kimo tersenyum kecil.
“Kalau panik juga tidak membantu.”
Miro mendengus.
“…Optimis yang aneh.”
Chero langsung menyela.
“Namanya juga Kimo.”
Tiba-tiba…
suara langkah kaki terdengar dari kegelapan.
Semua langsung waspada.
Miren berdiri.
“Siapa di sana?”
Dari balik bayangan…
beberapa orang muncul.
Lalu semakin banyak.
Puluhan orang.
Penduduk desa.
Pria tua yang tadi mereka selamatkan maju ke depan.
“Kami sudah berbicara dengan desa lain.”
Kimo terlihat bingung.
“…Hah?”
Pria itu menunjuk ke arah jalan.
Dari kejauhan…
terlihat cahaya obor.
Semakin lama semakin banyak.
Orang-orang datang dari berbagai arah.
Penduduk desa.
Petani.
Pandai besi.
Pedagang.
Bahkan mantan prajurit.
Chero membuka mulut.
“Wah.”
“Ini… banyak sekali.”
Lou terlihat terkejut.
“…Apa yang terjadi?”
Pria tua itu tersenyum.
“Kalian sudah membantu banyak tempat.”
“Sekarang giliran kami membantu kalian.”
Seorang wanita dari desa lain berkata keras.
“Therarus sudah terlalu lama menindas kami!”
Seorang pria mengangkat obor.
“Kalau penyihir rambut merah muda itu berani melawan…”
“…kami juga berani!”
Kerumunan bersorak.
Kimo terlihat benar-benar tidak menyangka.
“…Serius?”
Chero menepuk bahunya.
“Lihat?”
“Fans club kamu.”
Kimo mengeluh.
“Kenapa semua orang menyebut rambutku dulu…”
Miro melihat kerumunan itu.
Matanya sedikit menyipit.
“…Manusia memang aneh.”
Kimo menoleh.
“Kenapa?”
Miro menjawab pelan.
“Berani mempertaruhkan hidup mereka…”
“…untuk seseorang seperti kamu.”
Kimo tertawa kecil.
“Itu bukan karena aku.”
Dia melihat para warga.
“Itu karena mereka ingin bebas.”
Pria tua itu berkata tegas.
“Besok pagi…”
“Semua kota dan desa di sekitar sini akan bangkit.”
“Therarus tidak akan bisa menahan semuanya.”
Lou melihat ke arah ibu kota.
“…Kalau begitu penghalang luar mereka akan kacau.”
Miren mengangguk.
“Itu kesempatan kita.”
Chero mengangkat tangannya.
“Baiklah!”
“Ini benar-benar perang besar sekarang!”
Avery tersenyum gugup.
“Tapi… rasanya menyenangkan juga.”
Semua orang mulai bersiap.
Warga membuat senjata sederhana.
Para penyihir desa menyiapkan sihir pendukung.
Obor menyala di mana-mana.
Api perlawanan mulai bangkit.
Di pinggir desa…
Kimo berdiri sendirian menatap ibu kota Therarus.
Miro datang dan berdiri di sampingnya.
Beberapa detik mereka hanya diam.
Miro akhirnya berkata.
“…Kimo.”
Kimo menoleh.
“Ya?”
Miro menatap kota itu.
“Jika besok kamu menang…”
“…kontrak kita tetap berlaku.”
Kimo tersenyum kecil.
“Iya.”
Miro melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“…aku akan memakan jiwamu.”
Kimo hanya menjawab santai.
“Aku tahu.”
Beberapa detik hening.
Angin malam bertiup.
Obor-obor menyala di desa.
Di kejauhan…
ibu kota Therarus berdiri seperti bayangan raksasa.
Miro menatap Kimo sebentar.
“…Kamu benar-benar aneh.”
Kimo tertawa kecil.
“Kenapa?”
Miro memalingkan wajah.
“…Tidak ada orang yang tersenyum saat menunggu kematiannya.”
Kimo menjawab pelan.
“Ada.”
Miro menoleh.
“Siapa?”
Kimo tersenyum.
“Orang yang tahu kematiannya punya arti.”
Miro terdiam.
Untuk pertama kalinya…
dia tidak punya jawaban.
Bab 31 — Revolusi di Therarus
Fajar mulai muncul di langit.
Kabut pagi menyelimuti dataran di depan ibu kota Therarus.
Namun hari itu…
suasananya berbeda.
Di kejauhan, ratusan obor menyala.
Orang-orang berdiri bersama.
Petani.
Pandai besi.
Pedagang.
Penyihir desa.
Mereka semua menghadap ke tembok raksasa Therarus.
Hari itu…
rakyat bangkit.
Di atas tembok ibu kota…
para prajurit Therarus melihat kerumunan itu.
Salah satu penjaga berkata panik.
“Apa itu…?”
Penjaga lain menelan ludah.
“…Pemberontakan?”
Di dalam istana Therarus.
Salah satu mata-mata berlutut di depan singgasana.
“Yang Mulia Kaisar Voldnt!”
Kaisar duduk di kursi hitam besar.
Matanya tajam.
“Apa yang terjadi.”
Mata-mata itu berkata gugup.
“Desa-desa di sekitar ibu kota… semuanya bangkit.”
Voldnt menyipitkan mata.
“…Hanya petani.”
Namun mata-mata itu melanjutkan.
“Dan… penyihir rambut merah muda itu juga ada di sana.”
Ruangan langsung sunyi.
Voldnt akhirnya berdiri perlahan.
“…Jadi dia datang sendiri ke sarangku.”
Sementara itu…
di luar tembok kota.
Party Kimo berdiri di depan kerumunan rakyat.
Chero melihat ke belakang.
“Wow…”
“Ini benar-benar banyak.”
Lou mengangguk.
“…Therarus tidak akan menyangka ini.”
Miren berkata tegas.
“Begitu gerbang terbuka, kita langsung masuk.”
Avery terlihat gugup tapi bersemangat.
“Kita benar-benar melakukannya…”
Kimo berdiri paling depan.
Angin pagi meniup rambut merah mudanya.
Semua orang menatapnya.
Seseorang dari kerumunan berteriak.
“Penyihir itu!”
“Dia yang melawan Therarus!”
Orang lain ikut berteriak.
“Itu Kimo!”
Tak lama…
suara mereka berubah menjadi sorakan besar.
“KIMO!”
“KIMO!”
“KIMO!”
Kimo terlihat sedikit malu.
“…Ini agak memalukan.”
Chero tertawa keras.
“Terimalah.”
“Ini fans club kamu!”
Miro berdiri di samping Kimo.
Tangannya di saku seperti biasa.
Namun dia melihat kerumunan itu lama.
“…Hmph.”
Kimo menoleh.
“Kamu kenapa?”
Miro menjawab pelan.
“…Tidak ada.”
Miren mengangkat tangannya.
“Siap semua!”
Lou mulai membuat lingkaran sihir besar.
Energi sihir berkumpul.
Targetnya adalah gerbang utama Therarus.
Di atas tembok…
para prajurit panik.
“Penghalang sihir mereka aktif!”
“Siapkan meriam sihir!”
Namun jumlah rakyat terlalu banyak.
Dan banyak dari mereka adalah penyihir.
Lou berteriak.
“Sekarang!”
Lingkaran sihir raksasa menyala terang.
BOOOOOOM
Ledakan sihir menghantam gerbang kota.
Tembok raksasa bergetar.
Retakan muncul.
Kerumunan rakyat langsung bersorak.
“Dorong!”
“Untuk kebebasan!”
“Jatuhkan Therarus!”
Kimo mengangkat tangannya.
“Miro.”
Miro langsung mengerti.
“…Ya.”
Kimo tersenyum lebar.
“RAYNOMIRO.”
Cahaya merah meledak lagi.
Pedang iblis muncul di tangannya.
Kimo mengangkat pedangnya ke langit.
“SEMUA ORANG!”
Kerumunan langsung diam.
Kimo berteriak.
“HARI INI…”
“…KITA AKHIRI KEKAISARAN THERARUS!”
Kerumunan meledak dalam sorakan.
“SERBUU!”
Gerbang akhirnya hancur.
Rakyat berlari masuk ke kota.
Pasukan Therarus mencoba menahan mereka.
Namun jumlah mereka terlalu banyak.
Revolusi sudah dimulai.
Party Kimo langsung bergerak ke dalam kota.
Chero tertawa seperti orang gila.
“INI BARU SERU!”
Lou fokus membuka jalur sihir.
Miren dan Avery melindungi warga.
Di kejauhan…
istana Therarus berdiri di tengah kota.
Tempat Kaisar Voldnt menunggu.
Miro berjalan di samping Kimo.
“…Akhirnya.”
Kimo tersenyum.
“Iya.”
Pertempuran terakhir sudah dimulai.
Dan di ujung perjalanan ini…
nasib Kimo dan Miro akan ditentukan.
Bab 32 — Singgasana Kaisar
Langit di atas ibu kota Therarus dipenuhi asap dan cahaya sihir.
Di jalan-jalan kota…
rakyat bertempur melawan pasukan kekaisaran.
Sorakan dan ledakan bergema di seluruh penjuru.
Namun di tengah kekacauan itu…
Party Kimo berlari menuju istana pusat.
Pintu besar istana akhirnya terbuka.
BOOM
Chero menendangnya dengan keras.
“Akhirnya sampai juga!”
Lou melihat ke dalam aula besar.
“…Tidak ada penjaga.”
Miren menyipitkan mata.
“Dia menunggu kita.”
Di ujung aula…
di atas singgasana hitam…
duduk seorang pria tinggi berjubah gelap.
Matanya tajam seperti pedang.
Dialah penguasa Therarus.
Kaisar Voldnt.
Voldnt berdiri perlahan.
Langkahnya bergema di aula.
“…Jadi kamu Kimo.”
Kimo mengangkat tangan santai.
“Ya, halo.”
Chero berbisik.
“Kamu menyapa kaisar seperti tetangga…”
Voldnt menatap semua orang.
“Kalian benar-benar menghancurkan banyak hal milikku.”
Miren menjawab dingin.
“Karena kalian menghancurkan kehidupan banyak orang.”
Voldnt tersenyum tipis.
“Kerajaan besar selalu membutuhkan pengorbanan.”
Kimo melangkah maju.
“…Kalau begitu hari ini pengorbanannya kamu.”
Miro berubah menjadi pedang di tangannya.
Aura iblis menyala.
Pertempuran dimulai.
BOOOOOOM
Energi sihir Voldnt meledak seperti badai.
Seluruh aula bergetar.
Lou langsung berteriak.
“…Sihirnya gila!”
Miren dan Avery mencoba menahan gelombang energi.
Chero menyerang dari bayangan.
Namun Voldnt terlalu kuat.
CLANG
Pedang Kimo bertabrakan dengan sihir kaisar.
Percikan merah dan hitam meledak.
Voldnt menatap pedang itu.
“…Jadi itu Raynomiro.”
Suara Miro terdengar dingin.
“…Aku tidak senang disebut oleh manusia sepertimu.”
Pertarungan berlangsung lama.
Semua anggota party membantu.
Namun Voldnt tetap berdiri.
Kimo mulai kelelahan.
Luka muncul di bahunya.
Miro berbisik.
“…Kimo.”
Kimo tersenyum kecil.
“Masih hidup.”
Voldnt mengangkat sihir terakhirnya.
Energi hitam raksasa muncul di aula.
“Ini akhir kalian.”
Kimo mencoba berdiri.
Namun tubuhnya hampir tidak bisa bergerak.
Saat itulah…
sebuah ingatan muncul.
Kilas Balik
Api membakar desa kecil.
Rumah-rumah runtuh.
Panti asuhan terbakar.
Kimo kecil berdiri gemetar di tengah hutan.
Di depannya…
seorang penyihir muda berdiri melawan prajurit Therarus.
Leand.
Leand tersenyum pada Kimo kecil.
“Jangan takut.”
“Ada orang yang harus berdiri melindungi yang lain.”
Kimo menangis.
“Tapi aku lemah…”
Leand mengacak rambutnya.
“Kalau begitu…”
“…jadilah kuat suatu hari nanti.”
Api menyala di langit.
Dan itulah hari Kimo memutuskan untuk melawan Therarus.
Kembali ke Pertempuran
Kimo membuka matanya.
Dia berdiri lagi.
Miro terkejut.
“…Kamu masih bisa berdiri?”
Kimo tersenyum lelah.
“Belum selesai.”
Dia mengangkat pedangnya tinggi.
“Miro.”
Miro menjawab pelan.
“…Aku di sini.”
Kimo berlari maju.
Semua energi yang tersisa dikumpulkan.
Pedang iblis menyala seperti matahari merah.
Voldnt mencoba menahan serangan.
Namun—
SLAAASH
Pedang Kimo menembus pertahanannya.
Energi sihir Voldnt hancur.
Kaisar Therarus jatuh ke lantai.
Aula istana Therarus hancur.
Pilar-pilar retak.
Debu dan cahaya sihir masih melayang di udara.
Di lantai aula yang luas itu… tubuh Kaisar Voldnt tergeletak tak bergerak.
Keheningan memenuhi ruangan.
Perang yang panjang akhirnya selesai.
Chero berdiri terpaku.
“…Kita menang?”
Lou masih terengah-engah.
Miren dan Avery hampir tidak percaya.
Namun sebelum mereka sempat merayakan apa pun…
Kimo perlahan menjatuhkan pedangnya.
CLANG
Suara logam bergema di aula yang sunyi.
Pedang itu berubah menjadi cahaya merah.
Dan dari cahaya itu…
Raynomiro muncul kembali dalam wujud manusianya.
Rambut pirangnya berantakan.
Matanya merah menyala.
Miro menatap Kimo.
“…Sudah selesai.”
Kimo tersenyum kecil.
“Iya.”
Beberapa detik mereka hanya berdiri saling menatap.
Angin dari jendela istana meniup rambut merah muda Kimo perlahan.
Lalu…
Kimo melangkah satu langkah ke depan.
Wajahnya tidak bercanda seperti biasanya.
Tidak ada senyum kocak.
Tidak ada nada santai.
Kali ini…
dia benar-benar serius.
“Nah, Miro.”
Suara Kimo tenang.
“…Terima kasih untuk segalanya.”
Semua orang di belakang mereka langsung terdiam.
Chero membeku.
Lou menatap dengan mata lebar.
Miren menggertakkan gigi.
Avery menutup mulutnya.
Mereka semua tahu…
apa arti kata-kata itu.
Kimo melanjutkan.
“Kontrak kita… berakhir di sini.”
Dia mengangkat tangannya sedikit.
“…Sesuai kontrak.”
Tatapan matanya lurus pada Miro.
“Makanlah jiwaku.”
Ruangan itu terasa membeku.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang berbicara.
Miro menatapnya.
Awalnya wajahnya datar.
Namun perlahan…
ekspresinya berubah.
“…Apa?”
Kimo masih berdiri tenang.
Seolah itu hal yang wajar.
“Kita sudah sepakat dari awal.”
Miro menggertakkan gigi.
“…Itu hanya kesepakatan bodoh.”
Kimo tersenyum tipis.
“Kamu sendiri yang setuju.”
Chero berbisik panik dari belakang.
“Kimo…”
Namun Miren menahan lengannya.
“Diam.”
Mata Miren serius.
“…Ini urusan mereka.”
Miro melangkah mendekat.
Matanya gemetar.
“…Kamu serius?”
Kimo mengangguk pelan.
“Therarus sudah jatuh.”
“Tujuanku selesai.”
Dia tersenyum kecil.
“…Sekarang giliranmu.”
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu…
Miro terlihat benar-benar bingung.
Bukan marah.
Bukan sarkas.
Tapi… bingung.
“…Kamu idiot.”
Kimo tertawa kecil.
“Sering dibilang begitu.”
Namun Miro tidak tertawa.
Tangannya mengepal.
“…Aku tidak butuh jiwamu.”
Kimo mengangkat alis.
“Eh?”
Miro menundukkan kepala.
Rambut pirangnya menutupi matanya.
Suaranya mulai bergetar.
“…Kalau kamu mati…”
“…siapa yang akan memanggilku bocah?”
Kimo terdiam.
Miro melangkah lebih dekat lagi.
“…Siapa yang akan membuat rencana bodoh.”
“…Siapa yang akan menyeretku ke masalah.”
Suaranya makin kecil.
“…Siapa yang akan… memanggilku Miro.”
Tetesan air jatuh ke lantai batu.
Kimo terkejut.
“…Miro?”
Miro cepat mengusap matanya dengan kasar.
“…Aku tidak menangis.”
Namun suaranya jelas gemetar.
“…Iblis tidak menangis.”
Tiba-tiba…
dia menarik baju Kimo.
Lalu memeluknya erat.
Seperti anak kecil yang tidak mau ditinggal.
Semua orang di belakang mereka benar-benar membeku.
Chero berbisik pelan.
“…Wah.”
Lou hanya menatap tanpa kata.
Avery hampir menangis.
Miro memegang Kimo kuat-kuat.
“…Idiot.”
“…Idiot.”
“…Idiot.”
Suaranya terdengar seperti anak kecil yang kesal.
“…Aku tidak mau.”
Kimo awalnya kaget.
Lalu perlahan tertawa pelan.
Tangannya mengacak rambut Miro.
“Jadi iblis juga bisa manja ya.”
Miro langsung membalas dengan suara kesal.
“…DIAM.”
Namun dia tidak melepaskan pelukannya.
Beberapa saat kemudian…
Miro akhirnya berkata pelan.
“…Kontraknya batal.”
Kimo mengangkat alis.
“Boleh begitu?”
Miro mendengus.
“…Aku iblis.”
“…Aku yang menentukan.”
Kimo tersenyum lebar.
“Kalau begitu…”
“…ayo kita lanjut hidup.”
Miro akhirnya melepaskan pelukan itu.
Wajahnya masih merah.
“…Jangan salah paham.”
“Aku hanya… bosan sendirian.”
Chero langsung berteriak dari belakang.
“TSUNDERE!”
Miro menatapnya tajam.
“…Aku akan membunuhmu nanti.”
Di luar istana…
rakyat bersorak.
Kekaisaran Therarus akhirnya runtuh.
Namun di dalam aula itu…
yang paling penting bukan kemenangan.
Melainkan dua makhluk aneh…
seorang penyihir dan iblis bocah…
yang akhirnya tidak ingin berpisah lagi.
Epilog — Jalan yang Baru
Beberapa bulan telah berlalu sejak runtuhnya Kekaisaran Therarus.
Ibu kota yang dulu dipenuhi prajurit kini dipenuhi suara lain.
Suara tukang membangun rumah.
Suara pedagang di pasar.
Suara anak-anak yang kembali bermain di jalan.
Dunia yang dulu dipenuhi ketakutan… perlahan hidup kembali.
Di sebuah jalan desa yang baru dibangun…
lima orang berjalan santai.
Dan satu “bocah pirang” yang terlihat kesal.
Chero menguap panjang.
“Ahh… akhirnya tidak ada perang lagi.”
Lou berjalan di sampingnya sambil membawa beberapa buku sihir.
“…Justru sekarang aku punya lebih banyak pekerjaan.”
Miren melirik mereka berdua.
“Karena kamu sendiri yang minta meneliti sihir Therarus.”
Lou mengangkat bahu.
“…Pengetahuan harus dipelajari.”
Avery tertawa kecil di belakang mereka.
Di depan rombongan…
Kimo berjalan santai seperti biasa.
Tangan di belakang kepala.
Rambut merah mudanya bergerak tertiup angin.
Di sampingnya…
Miro berjalan dengan wajah kesal.
Tangannya dimasukkan ke kantong.
Beberapa orang yang lewat meliriknya.
Lalu berbisik.
“Anaknya lucu ya.”
Miro langsung berhenti berjalan.
“…Aku bukan anak-anak.”
Orang itu tertawa kecil dan pergi.
Kimo hampir tertawa.
Miro menatapnya tajam.
“…Kalau kamu tertawa, aku akan berubah jadi pedang dan menusukmu.”
Kimo mengangkat tangan pura-pura menyerah.
“Oke oke.”
“Tapi memang kelihatan seperti bocah.”
Miro langsung menunjuknya.
“…Aku iblis berusia ratusan tahun.”
Chero dari belakang berteriak.
“Bocah tsundere!”
Miro langsung membalas.
“…AKU DENGAR ITU!”
Miren hanya menggelengkan kepala.
“…Kalian tidak berubah sama sekali.”
Lou tertawa kecil.
“Syukurlah.”
Mereka terus berjalan menyusuri jalan desa.
Di kejauhan terlihat ladang baru.
Rumah-rumah mulai dibangun kembali.
Banyak orang yang dulu mereka selamatkan sekarang hidup damai.
Beberapa orang bahkan melambaikan tangan.
“Terima kasih, Kimo!”
“Pahlawan kita!”
Kimo terlihat malu.
“…Aku bukan pahlawan.”
Chero langsung menyela.
“Rambut merah muda itu sudah jadi simbol revolusi.”
Kimo menghela napas.
“Kenapa rambutku lagi…”
Sementara itu…
Miro diam-diam melihat semua orang di sekitar mereka.
Anak-anak tertawa.
Orang-orang bekerja.
Desa hidup kembali.
Dia melirik Kimo.
“…Kamu benar.”
Kimo menoleh.
“Hm?”
Miro memalingkan wajah sedikit.
“…Kematianmu memang tidak akan ada artinya.”
Kimo tertawa kecil.
“Kalimat itu terdengar aneh.”
Miro berkata pelan.
“…Lebih baik kamu tetap hidup.”
“…dan terus membuat masalah.”
Kimo menyeringai.
“Itu rencanaku.”
Angin sore bertiup lembut.
Langit berwarna jingga.
Party itu berhenti sebentar di atas bukit kecil.
Dari sana…
mereka bisa melihat desa baru yang sedang dibangun.
Chero meregangkan tubuh.
“Jadi… tujuan kita selanjutnya?”
Lou mengangkat bahu.
“Dunia masih besar.”
Miren berkata santai.
“Mungkin masih banyak tempat yang butuh bantuan.”
Avery tersenyum.
“Petualangan baru?”
Kimo melihat ke cakrawala.
Matanya berbinar seperti anak kecil yang menemukan dunia baru.
“Kenapa tidak?”
Dia menoleh ke Miro.
“Miro.”
Miro menjawab malas.
“…Apa lagi.”
Kimo menyeringai.
“Siap untuk masalah berikutnya?”
Miro mendengus.
“…Aku sudah menyesal membuat kontrak denganmu.”
Namun setelah beberapa detik…
dia tersenyum kecil.
“…Tapi sekarang aku juga penasaran.”
Chero berteriak.
“Petualangan baru dimulai!”
Lou menghela napas.
“…Aku tahu ini akan terjadi.”
Miren tersenyum tipis.
Avery tertawa.
Dan di jalan yang panjang menuju cakrawala…
enam sosok itu berjalan bersama.
Seorang penyihir yang kocak.
Seekor iblis tsundere yang terlihat seperti bocah.
Dan teman-teman yang sudah melalui perang bersama.
Mereka mungkin telah mengakhiri satu sejarah.
Namun dunia masih luas.
Dan petualangan mereka…
belum benar-benar selesai.
TAMAT
Comments
Post a Comment