Jujur Dalam berkata
Jujur mungkin dapat dikatakan sebagai kata yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan orang mengatakan bahwa jujur itu mudah dan semua orang dapat melakukannya. Namun, kenyataannya tidak. Justru tidak semua orang dapat berkata jujur. Padahal, jika seseorang sekali berbohong, maka ia akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan-kebohongan lainnya. Jadi, lebih baik jika kita berkata jujur daripada suatu kebohongan-kebohongan yang sudah kita buat malah terbongkar semua. Sikap jujur juga dapat menyelamatkan diri kita sendiri dari suatu masalah. Seperti halnya kejadian yang pernah saya alami. Setahun lalu, tepatnya saat saya masih duduk di bangku kelas delapan
Suatu saat Ayah saya membelikan sebuah jam smartwatch sebagai penyemangat sekolah. Ayah saya berpesan untuk segera melaporkan meminta izin guru asrama. Nantinya, chargernya akan dititipkan pada guru asrama. Dan, kalau ingin di cas, bisa meminta tolong guru asrama. Tetapi saya keras kepala. Saya tetap bersikukuh tidak mau meminta izin dan melapor.
Suatu sore, secara mendadak diadakan razia. Tangan kami diperiksa satu persatu. Saya Yang saat itu masih mengenakan jam itu langsung menyembunyikannya di kantong. Malamnya, saya mencari tempat persembunyian untuk menyembunyikan jam itu. Alhasil, jam smartwatch itu aman hingga tahun ajaran berakhir. Saya merasa sangat bersyukur kala itu. Saya bersyukur karena kebohongan saya tidak terbongkar.
Pada tahun berikutnya, saya kembali membawa jam smartwatch itu beserta dengan chargernya ke pondok. Saya merasa sangat mampu untuk menjaga kedua barang terlarang tersebut. Saya merasa, diri saya di masa lalu sangat besar kepala. Lambat laun, saya merasa malas untuk menyembunyikan barang-barang tersebut. Saya mulai menaruh barang-barang tersebut di tempat yang cukup mencolok. Begitulah. Saya sangat jarang untuk berpikir sebelum bertindak. Tetapi, pada saat terjadi inspeksi dadakan, chargernya itu malah tidak tersita. Saya makin percaya diri dan menganggap remeh semuanya.
Suatu malam di hari sabtu, diadakan kajian di masjid. Tiba-tiba salah seorang jamfat menyuruh saya untuk turun dari masjid beserta dengan teman-teman saya. Kami pun diperintahkan untuk membuat majelis di lapangan. Salah seorang guru asrama Bertanya kepada kami apakah salah seorang di antara kami ada yang membawa alat elektronik.
Seketika, pikiran saya menjadi campur aduk. Apakah saya harus jujur? Saya merasa saya sudah banyak berbohong. Dan saya tidak mau jika saya terus menerus berbohong. Saya pun memutuskan untuk mengaku bahwa saya melanggar aturan. Saya menyerahkan jam smartwatch yang kebetulan sedang saya pakai waktu itu.
Di luar dugaan, ternyata guru asrama itu itu malah mengembalikan jam itu kepada saya. Beliau membolehkan saya untuk menyimpan jam itu. Saya senang bukan main. Ternyata, berkata jujur itu tidak semenakutkan itu. Justru berkata jujur membuat kita menjadi lebih lega karena tidak ada hal yang perlu ditutup tutupi.
Dari sini, bisa kita ambil hikmahnya bahwa berkata jujur itu penting. Berkatalah jujur walau terasa pahit. Karena, sekali seseorang berbohong,maka ia akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan-kebohongan lainnya. Karena kejadian tersebut, kini saya menjadi lebih berani untuk berkata jujur.
Comments
Post a Comment